Harga Minyak Dunia Bangkit, Brent Tembus US$ 103 per Barel

Harga minyak dunia naik setelah Iran menegaskan tidak akan menyerah kepada AS. Brent mencapai US$ 103,08 per barel.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 24 September 2026, 07:40 WIB
Seorang pekerja mengumpulkan oli mesin saat bekerja di stasiun degassing di ladang minyak Zubair, yang operasinya telah dikurangi karena perang Timur Tengah yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran, dekat Basra, Irak, Sabtu, 28 Maret 2026. (AP Photo/Leo Correa)

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia naik pada perdagangan Rabu, mengakhiri tren penurunan selama lima hari berturut-turut. Kenaikan terjadi setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak akan menyerah kepada Amerika Serikat (AS).

Mengutip CNBC, Kamis (24/9/2026), harga minyak Brent yang menjadi patokan global naik 3,9% dan ditutup di level US$ 103,08 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 1,8% menjadi US$ 92,16 per barel.

Dalam pidatonya di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Pezeshkian menegaskan Iran tidak dapat dipaksa untuk menyerah.

“Mereka telah menguji kekuatan dan keteguhan Iran, dan mereka telah belajar bahwa Iran tidak dapat dipaksa untuk menyerah,” kata Pezeshkian dalam pidatonya di PBB, Rabu.

Meski naik pada Rabu, harga minyak mentah AS masih turun sekitar 8% dalam sepekan. Sementara harga Brent telah terkoreksi hampir 1%.

 

Keputusan Besar Trump

Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat berpidato di Sidang Majelis Umum PBB, Selasa (22/9/2026). (Dok. AP/Julia Demaree Nikhinson)

Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan pejabat AS telah menggelar pertemuan yang “sangat baik” dengan delegasi Iran. Pertemuan tersebut berlangsung sekitar tiga jam.

Namun, dalam pidatonya di PBB, Trump mengatakan dirinya menghadapi “keputusan besar” terkait apakah akan mencapai kesepakatan dengan Teheran atau “memusnahkan” negara tersebut.

Reuters melaporkan Iran berpotensi membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu sepekan jika AS bersedia mengurangi tekanan militer dan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran.

“Upaya mediasi Pakistan dengan Teheran juga dapat mengurangi risiko eskalasi yang lebih luas,” kata Paolo Broccardo, CEO bank digital swasta BankPro.

Menurutnya, harga minyak juga belum tentu melonjak tajam dalam waktu dekat.

“Dalam lima sesi perdagangan berturut-turut terakhir, harga telah turun hampir 12%, kembali menjauh dari ‘zona intervensi’ di atas US$ 100, yang berulang kali menjadi area ketika kami melihat upaya perdamaian yang semakin intensif dari kedua belah pihak,” ujar Broccardo.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya