Harga Emas Hari Ini Tergelincir, Investor Antisipasi Kenaikan Kelanjutan Suku Bunga

Investor memperhitungkan potensi kenaikan suku bunga the Federal Reserve (the Fed) menekan harga emas dunia.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 23 September 2026, 06:45 WIB
Ilustrasi harga emas dunia hari ini (Foto By AI)

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia melemah pada perdagangan Selasa, 22 September waktu setempat (Rabu pagi Jakarta). Tekanan terhadap harga emas seiring investor semakin memperhitungkan skenario suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed) yang tinggi dalam jangka waktu lebih lama sehingga menambah tekanan baru pada pasar yang sebelumnya telah turun lebih dari 22% dari rekor tertinggi pada Januari 2026.

Mengutip Yahoo Finance, Rabu (23/9/2026), harga emas spot turun 0,3% menjadi US$ 4.332,34 per ons. Sementara itu, harga emas berjangka Amerika Serikat (AS) turun 0,3% menjadi US$ 4.370,40. Harapan kenaikan suku bunga yang lebih kuat dan penguatan dolar Amerika Serikat (AS) baru-baru ini mengalahkan daya tarik emas sebagai safe haven.

Perubahan utama datang dari the Federal Reserve (the Fed). Pelaku pasar melihat ada peluang 90% untuk kenaikan suku bunga lanjutan pada Desember, naik dari 80% seminggu sebelumnya, berdasarkan data dari CME FedWatch Tool.

Penyesuaian harapan pasar ini menyusul sikap hawkish dari Presiden Fed St Louis, Alberto Musalem dan Presiden Fed Chicago Austan Goolsbee.

Keduanya mengisyaratkan perlunya pengetatan lebih lanjut karena permintaan yang kuat dan kenaikan harga energi terus menjaga tingkat inflasi tetap tinggi. The Fed telah menaikkan suku bunga pekan lalu, sementara Ketua Kevin Warsh mengisyaratkan kenaikan tambahan mungkin akan menyusul.

"Masalahnya adalah, meskipun harga minyak cenderung sedikit menurun, pasar terus memperhitungkan kenaikan suku bunga The Fed secara kuat, dalam beberapa hari terakhir, dolar AS menunjukkan sedikit penguatan, dan hal itu biasanya berdampak negatif bagi emas," ujar TD Securities Global Head of Commodity Strategy Bart Melek.

Tekanan yang terjadi cukup signifikan. Harga emas telah turun lebih dari 22% dari rekor tertinggi sepanjang masa pada Januari sebesar US$ 5.594,82 per ons. Pembalikan arah ini sebagian besar didorong oleh ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat menyusul perang AS-Israel melawan Iran serta kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga energi.

 

Poin Penting bagi Investor

Seorang karyawan memegang beberapa perhiasan emas di sebuah toko perhiasan di Banda Aceh pada Rabu 14 Januari 2026. Pada Rabu (14/1/2026), harga emas dan perak terus menguat mencapai level tertinggi. (CHAIDEER MAHYUDDIN/AFP)

Bagi investor emas, variabel utama berikutnya adalah apakah langkah pengetatan The Fed akan semakin menguat. Peningkatan lebih lanjut pada peluang kenaikan suku bunga Desember, data inflasi yang lebih tinggi, atau penguatan dolar AS yang berkelanjutan dapat terus menekan harga emas.

Sebaliknya, penurunan harga energi atau inflasi yang lebih rendah dapat mengurangi kebutuhan akan pengetatan tambahan dan membantu menstabilkan harga emas.

Oleh karena itu, investor perlu memantau dengan cermat komunikasi The Fed, harga minyak, nilai tukar dolar AS, dan data inflasi.

Dengan harga emas yang sudah berada lebih dari seperlima di bawah rekor tertingginya, pergerakan harga logam mulia ini ke depannya semakin bergantung pada apakah pasar terus memperhitungkan kebijakan restriktif hingga jauh ke 2027.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya