Liputan6.com, Jakarta - Kapitalisasi pasar Advanced Micro Devices (AMD) sempat melampaui US$ 1 triliun atau Rp 17.890 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.890) untuk pertama kali pada 21 September 2026. Seiring hal itu, AMD bergabung dengan kelompok kecil produsen cip yang berhasil mencapai tonggak sejarah itu. Hal ini seiring langkah investor yang bertaruh pada peran perusahaan yang kian berkembang dalam komputasi artificial intelligent (AI) atau kecerdasan buatan.
Mengutip the Straits Times, Selasa, (22/9/2026), saham AMD naik 9% pada posisi US$ 610, setelah melonjak ke rekor tertinggi sepanjang masa di US$ 613,92, yang menghasilkan valuasi sedikit di atas US$ 1 triliun.
Advertisement
Pencapaian ini menandai puncak dari lonjakan kinerja saham yang luar biasa bagi AMD, perusahaan yang berbasis di Santa Clara, California, dan dianggap sebagai pesaing terdekat Nvidia (pemimpin pasar AI) dalam segmen unit pemrosesan grafis (GPU).
AMD menjadi produsen cip AS keempat yang mencatatkan valuasi di atas US$ 1 triliun, menyusul Nvidia, Broadcom, dan Micron.
Nvidia mencapai angka tersebut pada 2023 dan kini menjadi perusahaan paling bernilai di dunia, dengan nilai lebih dari US$ 5 triliun atau Rp 89.450 triliun.
AMD telah mempercepat peluncuran produk AI-nya dan beralih dari sekadar menjual cip secara terpisah menjadi menawarkan sistem lengkap yang memadukan prosesor, perangkat jaringan, serta perangkat keras terkait, sehingga membantunya bersaing dengan produk-produk Nvidia.
Saham AMD Berpeluang Naik 60% pada 2026 Didorong Kebijakan Donald Trump
Sebelumnya, saham Advanced Micro Devices (AMD) membukukan performa impresif sepanjang 2025 dengan kenaikan 78% hingga saat ini. Meski demikian, dalam beberapa waktu terakhir terlihat aksi ambil untung oleh investor.
Melansir Yahoo Finance, Rabu (7/1/2026), hal ini tercermin dari koreksi saham AMD yang turun 19% dari level tertinggi 52 minggu yang dicapai pada 29 Oktober. Koreksi tersebut berpotensi menjadi momentum akumulasi bagi investor yang ingin menambah kepemilikan saham perusahaan bertumbuh tinggi yang turut diuntungkan oleh ekspansi kecerdasan buatan (AI).
Selain itu, kebijakan terbaru Presiden Donald Trump yang membuka kembali peluang bagi Nvidia (NVDA), AMD, dan Intel untuk menjual chip AI canggih ke pasar Tiongkok diperkirakan menjadi katalis tambahan bagi kinerja AMD pada 2026.
Berikut ulasan faktor pendorong utama AMD memasuki tahun mendatang dan alasan mengapa saham ini berpeluang kembali mencatat lonjakan signifikan.
Kinerja Bisnis
Kebijakan pemerintahan Trump berpotensi menjadi katalis besar bagi AMD
Kinerja bisnis AMD menunjukkan pertumbuhan solid sepanjang 2025. Perusahaan diproyeksikan meraih pendapatan sekitar USD 34 miliar tahun ini, meningkat 31% dibandingkan 2024.
Capaian tersebut sebetulnya berpotensi lebih tinggi jika AMD tidak menghadapi pembatasan penjualan chip ke Tiongkok sejak April, ketika pemerintahan Trump menerapkan kontrol ekspor terhadap chip AI pusat data berteknologi tinggi.
Kebijakan tersebut berdampak pada kerugian persediaan AMD sebesar USD 800 juta pada kuartal kedua. Selain itu, perusahaan kehilangan sebagian signifikan pendapatan, mengingat Tiongkok berkontribusi hampir seperempat dari total pendapatan AMD pada 2024 sebesar USD 25,8 miliar, atau sekitar USD 6,2 miliar.
Meski menghadapi tekanan tersebut, analis tetap memperkirakan laba AMD naik 20% pada 2025 menjadi USD 3,97 per saham. Konsensus pasar bahkan memproyeksikan lonjakan laba hingga 62% pada 2026 menjadi USD 6,46 per saham. Namun, potensi realisasi kinerja AMD dinilai bisa melampaui proyeksi tersebut.