Harga Emas Dunia Tertekan, Investor Kurangi Aset Safe Haven

Harga emas tertekan oleh ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan imbal hasil Treasury AS yang masih mendekati 5%.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 22 September 2026, 07:41 WIB
Harga emas dunia. Harga emas dunia masih menghadapi tarik-menarik antara tekanan dari suku bunga tinggi dan dukungan dari risiko geopolitik serta permintaan bank sentral. (Ilustrasi by AI)

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia melemah setelah penutupan perdagangan Amerika Serikat (AS) pada Senin. Harga emas tertekan setelah penguatan tajam pasar saham, penurunan harga minyak dan sedikit turunnya imbal hasil obligasi AS mengurangi minat investor terhadap aset safe haven.

Mengutip Kitco, Selasa (22/9/2026), harga emas spot berada di sekitar US$ 4.337,20 per ounce atau turun 0,95%. Sementara harga perak spot berada di sekitar US$ 66,08 per ounce, melemah 0,44%.

Pasar saham Amerika ditutup menguat. Indeks S&P 500 naik 1,5% menjadi 7.764,70, Nasdaq Composite melonjak 2,3% ke 27.122,09, sedangkan Dow Jones Industrial Average bertambah 0,7% menjadi 52.048,83.

Penguatan saham membuat permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven berkurang. Kondisi tersebut terjadi ketika ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) masih relatif ketat.

The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada 16 September dan membawa kisaran target suku bunga menjadi 3,75%-4%. Proyeksi median The Fed masih menunjukkan suku bunga berada di sekitar 4,1% pada akhir tahun.

 

Suku Bunga The Fed Tekan Harga Emas

Harga emas dunia. Harga emas dunia masih menghadapi tarik-menarik antara tekanan dari suku bunga tinggi dan dukungan dari risiko geopolitik serta permintaan bank sentral. (Ilustrasi by AI)

Sejumlah data ekonomi AS turut memperkuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga yang ketat. Penjualan ritel Agustus meningkat 1,2%, sementara klaim pengangguran awal turun menjadi 196.000.

Pelaku pasar bahkan memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS pada Desember mencapai 88%. Kondisi ini menjadi tekanan bagi harga emas karena emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil.

Imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun memang turun ke kisaran 4,95%-4,96%. Namun, level tersebut masih mendekati batas psikologis 5%.

Di sisi lain, harga minyak mentah turun untuk sesi keempat berturut-turut. Harga minyak Brent ditutup di US$ 100,34 per barel, turun 3,4%, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) berada di US$ 95,78 per barel atau turun 4,5%.

Penurunan harga minyak turut mengurangi premi risiko geopolitik di pasar komoditas. Kondisi ini menjadi sentimen negatif bagi harga emas dalam jangka pendek.

Analis pasar XS.com Rania Gule mengatakan, “faktor-faktor fundamental yang saling bertentangan sedang membentuk pasar.”

Menurutnya, kenaikan imbal hasil obligasi dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed membatasi momentum harga emas. Namun, risiko geopolitik, permintaan bank sentral, serta kekhawatiran fiskal masih menjadi faktor pendukung untuk pembelian emas dalam jangka panjang.

 

Level Harga Emas yang Perlu Dicermati

Ilustrasi harga emas. Harga emas dunia masih menghadapi tarik-menarik antara tekanan dari suku bunga tinggi dan dukungan dari risiko geopolitik serta permintaan bank sentral. (Ilustrasi by AI)

Pasar obligasi AS masih menjadi salah satu risiko struktural bagi harga emas. Imbal hasil Treasury 10 tahun yang mendekati 5% meningkatkan biaya pinjaman dan membuat aset yang tidak memberikan imbal hasil, seperti emas dan perak, menghadapi tekanan.

Utang pemerintah AS yang dimiliki publik mencapai US$ 31,3 triliun pada April. Angka tersebut kurang lebih setara dengan ukuran ekonomi AS. Sementara itu, belanja bunga bersih pada tahun fiskal 2025 telah melampaui belanja pertahanan nasional.

Dari sisi teknikal, pelaku pasar kini mencermati sejumlah level harga emas. Target kenaikan berikutnya berada di area US$ 4.400-US$ 4.407,27 per ounce. Jika berhasil ditembus secara berkelanjutan, harga emas berpotensi mengarah ke US$ 4.443 dan US$ 4.475.

Sebaliknya, level US$ 4.334 menjadi batas penting untuk tekanan jual. Jika ditembus, target berikutnya berada di US$ 4.304 dan US$ 4.261.

Resistance pertama berada di US$ 4.370,78, kemudian US$ 4.407,27. Sementara support pertama berada di US$ 4.341,90 dan US$ 4.334.

Dengan kondisi tersebut, harga emas masih menghadapi tarik-menarik antara tekanan dari suku bunga tinggi dan dukungan dari risiko geopolitik serta permintaan bank sentral.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya