Ada Peran Pabrikan Tiongkok di Balik Mobil Listrik Baru Maserati

Kolaborasi ini diarahkan untuk mengembangkan mobil listrik Maserati generasi baru, dengan dua model SUV

oleh Muhammad Luthfi Naufal AqilahDiterbitkan 23 September 2026, 17:13 WIB
Tampilan Maserati Mobil Listrik Kerjasama Huawei dan JAC Motors. (carnewschina)

Liputan6.com, Jakarta - Maserati dikabarkan tengah menyiapkan langkah strategis untuk memperkuat kembali bisnisnya di tengah tekanan penjualan dan kinerja keuangan. Merek mobil mewah asal Italia yang berada di bawah naungan Stellantis tersebut disebut sedang mematangkan kolaborasi dengan raksasa teknologi China, Huawei, serta produsen otomotif JAC Motors.

Kolaborasi ini diarahkan untuk mengembangkan mobil listrik Maserati generasi baru, dengan dua model yang disebut tengah dipersiapkan, yakni SUV listrik berukuran menengah hingga besar dan sebuah Grand Tourer (GT) listrik berukuran besar.

Mengutip laporan Future Cars Daily yang kemudian diberitakan sejumlah media otomotif, pembahasan internal saat ini disebut lebih mengarah kepada peluncuran GT listrik sebagai produk pertama hasil kerja sama Maserati, Huawei, dan JAC Motors.

Model tersebut diproyeksikan menjadi penerus semangat Maserati GranTurismo Folgore di era elektrifikasi, sekaligus mempertahankan karakter Maserati sebagai merek mobil mewah dengan DNA sporty.

Dalam rencana kolaborasi tersebut, masing-masing perusahaan akan memiliki peran berbeda.

Huawei disebut akan menyumbangkan teknologi dari ekosistem Harmony Intelligent Mobility Alliance (HIMA). Teknologi yang dibawa antara lain sistem kokpit pintar, sistem bantuan pengemudi Qiankun ADS, serta teknologi kendaraan listrik.

Sementara itu, JAC Motors akan menangani aspek rekayasa dan manufaktur melalui fasilitas Maextro di Hefei, China.

Maserati sendiri tetap memiliki peran penting dalam menghadirkan bahasa desain khasnya. Merek berlambang Trident tersebut juga akan memanfaatkan jaringan penjualan global yang telah dimilikinya.

Skema ini memungkinkan Maserati memanfaatkan teknologi, rantai pasok, dan kapasitas manufaktur China, sembari mempertahankan identitasnya sebagai merek mobil mewah asal Italia.

Salah satu bagian menarik dari rencana tersebut adalah penerapan strategi dual-brand.

Untuk pasar domestik China, kendaraan hasil kolaborasi disebut akan menggunakan merek Maextro, merek kendaraan premium yang dikembangkan melalui kerja sama Huawei dan JAC.

Sementara untuk pasar internasional, termasuk sejumlah negara di Eropa dan kawasan Timur Tengah, kendaraan tersebut akan menggunakan logo Trident khas Maserati.

Dengan pendekatan tersebut, satu basis pengembangan kendaraan dapat dipasarkan menggunakan identitas merek yang berbeda sesuai dengan karakter masing-masing wilayah.

Strategi serupa sebelumnya juga diberitakan sebagai bagian dari pembicaraan antara Stellantis, Huawei, dan JAC. Namun, hingga kini belum terdapat pengumuman resmi mengenai kesepakatan komersial definitif dari seluruh pihak.

Untuk menekan biaya produksi sekaligus tetap memanfaatkan fasilitas manufaktur Maserati di Italia, rencana tersebut disebut akan menggunakan skema Semi Knocked Down (SKD).

Dalam skema ini, struktur bodi atau body-in-white kendaraan akan diproduksi di fasilitas JAC di Hefei, China. Komponen tersebut kemudian dikirim ke Italia untuk menjalani proses perakitan akhir.

Tahapan di Italia dapat mencakup pemasangan interior hingga proses kalibrasi kendaraan.

Laporan yang beredar menyebut fasilitas Maserati di Cassino dan Modena berpotensi dilibatkan dalam proses tersebut.

Pendekatan ini memberikan Maserati kesempatan untuk memanfaatkan efisiensi rantai pasok dan kapasitas manufaktur China, sekaligus mempertahankan tahapan akhir produksi di Italia.

Penjualan Tertekan

Rencana kolaborasi tersebut datang ketika Maserati menghadapi tekanan cukup besar dari sisi penjualan dan profitabilitas.

Berdasarkan data resmi Stellantis, Maserati mencatatkan pengiriman sebanyak 7.900 unit sepanjang 2025. Angka tersebut turun dibandingkan 11.300 unit pada 2024.

Pada periode yang sama, pendapatan bersih Maserati tercatat sebesar 726 juta euro, turun dari 1,04 miliar euro pada 2024.

Maserati juga membukukan kerugian operasional yang disesuaikan sebesar 198 juta euro, dengan margin operasional negatif 27,3 persen.

Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan bagi Maserati ketika industri otomotif global bergerak semakin cepat menuju elektrifikasi.

Meski menghadapi penurunan penjualan dan kerugian, Stellantis sebelumnya menegaskan bahwa Maserati tetap menjadi bagian dari portofolio merek perusahaan.

CEO Stellantis Antonio Filosa pada Juni 2026 juga menyatakan posisi Maserati tetap dipertahankan sebagai merek inti. Pada saat yang sama, perusahaan terus mengevaluasi strategi untuk memperkuat kembali bisnis merek mobil mewah asal Italia tersebut.

Jika terealisasi, kolaborasi dengan Huawei dan JAC dapat menjadi salah satu perubahan strategis penting bagi Maserati dalam menghadapi era kendaraan listrik.

Bagi Maserati, pemanfaatan teknologi dan ekosistem manufaktur China bukan hanya berkaitan dengan pengembangan mobil listrik baru.

Langkah ini juga menunjukkan bagaimana produsen mobil premium tradisional mencari pendekatan baru untuk menekan biaya pengembangan sekaligus mengejar perkembangan teknologi kendaraan listrik yang berlangsung cepat.

Dengan dua model EV yang disebut tengah disiapkan, Maserati berupaya menggabungkan desain dan identitas Italia dengan teknologi serta kemampuan manufaktur China.

Jika rencana tersebut terealisasi sesuai laporan, GT listrik Maserati berpotensi menjadi salah satu produk penting dalam upaya merek berlambang Trident tersebut membangun kembali bisnisnya di pasar global.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya