Bendungan Terbesar Ketiga Indonesia Dibangun di Sultra, Anggaran Sentuh Rp 9,8 Triliun

Bendungan Pelosika di Sulawesi Tenggara akan masuk tiga besar bendungan terbesar di Indonesia.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 18 September 2026, 20:20 WIB
Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo dalam Peresmian Lima Bendungan, di Bendungan Meninting, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Jumat (10/7/2026). (Liputan6.com/Arief)

Liputan6.com, Jakarta - Pembangunan Bendungan Pelosika di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra) disiapkan Kementerian Pekerjaan Umum (Kementerian PU). Bendungan ini disiapkan untuk irigasi dan mendukung penyediaan air baku sebesar 750 liter per detik bagi masyarakat di Kabupaten Konawe.

Adapun pembangunan Bendungan Pelosika ini juga bagian dari target pembangunan infrastruktur baru bidang sumber daya air 2025-2029.

Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan, pembangunan bendungan harus selaras dengan pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi supaya ketersediaan air yang ditampung dapat dimanfaatkan secara optimal. Hal ini terutama untuk mendukung sektor pertanian.

"Suplai air yang berkelanjutan menjadi kunci peningkatan produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani,” ujar Dody dikutip dari Antara, Jumat (18/9/2026).

Dia menuturkan, keberadaan tampungan air yang andal merupakan bagian penting dalam meningkatkan produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani.

Bendungan Pelosika diprediksi menjadi bendungan terbesar ketiga di Indonesia setelah Bendungan Jatiluhur dan Jatigede, sekaligus menjadi bendungan terbesar di Sultra.

Pembangunan bendungan ini ditujukan untuk memperkuat ketahanan pangan dan air, sekaligus memberikan manfaat dalam pengendalian banjir serta mendukung ketahanan energi bagi masyarakat.

Pembangunan Bendungan Pelosika saat ini berada pada tahap proses pemrograman, dan siap untuk proses lelang, dengan masa pelaksanaan 2026–2030.

Bendungan ini memiliki total kapasitas tampung 1,117 miliar m³ dengan tampungan efektif sebesar 808 juta m³. Luas genangan mencapai 5.451,56 hektare dengan luas daerah tangkapan air 2.780,93 km².

Kehadiran Bendungan Pelosika akan mendukung layanan irigasi seluas 20.458 hektare, yang terdiri atas 12.678 hektare daerah irigasi fungsional dan 7.780 hektare daerah irigasi potensial.

 

Dukung Penyediaan Air Baku

Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo. (Foto: Kementerian PU)

Dukungan air irigasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan indeks pertanaman dari 220 persen menjadi 300 persen, sehingga lahan pertanian yang sebelumnya dapat ditanami dua kali dalam setahun berpotensi meningkat menjadi tiga kali dalam setahun

Selain untuk irigasi, bendungan ini akan mendukung penyediaan air baku sebesar 750 liter per detik bagi masyarakat di Kabupaten Konawe. Air baku tersebut dapat diolah melalui instalasi pengolahan air (IPA) dan disalurkan melalui jaringan perpipaan untuk memenuhi kebutuhan air bersih hingga sekitar 540.000 jiwa.

Bendungan Pelosika juga dirancang untuk mengurangi risiko banjir dari 19.330 hektare menjadi 6.301 hektare di wilayah Kabupaten Konawe yang mencakup 10 kecamatan, yakni Kecamatan Asinua, Abuki, Lambuya, Uepai, Unaaha, Konawe, Anggaberi, Wawotobi, Wonggeduku, dan Pondidaha.

Keberadaan bendungan ini diharapkan juga dapat mendukung pengembangan energi melalui Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berkapasitas 40 MW dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 261,12 MW.

 

Anggaran Pembangunan

Adapun kebutuhan anggaran pembangunan Bendungan Pelosika mencapai sekitar Rp 9,8 triliun. Secara teknis, bendungan ini menggunakan tipe urugan inti clay dengan tinggi 63 meter, elevasi puncak bendungan 121 meter, panjang puncak total 404,26 meter, dan lebar puncak 15 meter.

Untuk mendukung keamanan bendungan, desain Pelosika dilengkapi pelimpah utama tipe ogee serta pelimpah darurat tipe broad-crest.

Kehadiran Bendungan Pelosika merupakan bagian penting dari upaya Kementerian PU dalam memperkuat infrastruktur sumber daya air di Sulawesi Tenggara, khususnya untuk mendukung ketahanan pangan, ketahanan air, pengendalian banjir, dan pemanfaatan energi secara berkelanjutan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya