Tangis Keluarga Sambut Kedatangan Jenazah Sopir Korban Penembakan KKB

Jenazah Aris Sanda, sopir logistik korban penembakan KKB di Jalur Trans Wamena–Nduga, tiba di Makassar. Keluarga menunggu pemakaman di Toraja Utara.

oleh Ihwan FajarDiterbitkan 18 September 2026, 19:25 WIB
Keluarga dari Aris Sanda, sopir logistik yang ditembak KKB

Liputan6.com, Jakarta - Jenazah Aris Sanda (41), sopir logistik yang menjadi korban penembakan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Jalur Trans Wamena–Nduga, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, tiba di Terminal Kargo Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Jumat (18/9). Kedatangan peti jenazah disambut isak tangis keluarga yang telah menunggu.

Menurut keluarga, jenazah diterbangkan dari Jayapura menuju Makassar menggunakan Lion Air JT-797 dan mendarat sekitar pukul 14.00 Wita. Setelah proses penurunan, peti kemudian dibawa menuju area kargo bandara untuk diserahterimakan.

"Dua jam baru tiba di bandara, peti jenazah langsung dibawa ke luar ke terminal kargo. Setelah ini jenazah kita bawa pulang ke kampung halaman,"

ujar Somba Tonapa kepada wartawan.

Usai serah terima, keluarga menggelar ibadat singkat sebelum membawa jenazah pulang. Rencananya, jenazah terlebih dahulu disemayamkan di Lembang Tampang Buwonga, Kecamatan Bangkelekila, Kabupaten Toraja Utara.

"Untuk jadwal pemakaman belum ada. Tunggu kesepakatan keluarga,"

tuturnya.

Somba menuturkan, Aris telah merantau ke Papua selama 13 tahun dan bekerja mengantar logistik ke wilayah pedalaman dan pegunungan. Ia menyebut almarhum dikenal tekun di pekerjaannya.

"Dia mengabdi di Tanah Papua sana, untuk membawa logistik ke pendalaman, khususnya di Nuha, untuk kebutuhan masyarakat setempat,"

tuturnya.

Bagi keluarga di Toraja Utara, Aris disebut sebagai penopang utama. Somba mengenangnya sebagai pribadi yang baik dan berdedikasi.

"Sangat baik dan sangat mengabdi. Memang tulang punggung dalam keluarganya,"

ujarnya.

Menanggapi beredarnya video sebelum penembakan, Somba menyebut Aris sempat dipaksa membaca pernyataan agar bisa menyelamatkan diri. Ia menekankan situasi sulit yang dihadapi almarhum saat itu.

"Dia itu menyelamatkan diri, sehingga apa pun dia bisa katakan kepada orang-orang penduduk di sana,"

katanya.

Somba menambahkan, selama berada di Papua, Aris menjalin hubungan baik dengan masyarakat setempat, bahkan memiliki seorang bapak angkat yang merupakan warga asli Papua. Ia berharap situasi keamanan di Papua terus membaik agar pekerja yang mengantar kebutuhan logistik ke pedalaman dapat beraktivitas tanpa gangguan.

"Semoga saudara-saudara kita di Papua itu sadar bahwa jangan lagi terjadi kejadian seperti begini. Karena kita adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia,"

kata Somba.

"Semoga yang pelaku sendiri sadar. Masyarakat di sana juga memberikan arahan supaya di Papua itu aman,"

pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya