Liputan6.com, Jakarta - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Mesuji, Lampung, belum sepenuhnya mereda. Sejumlah titik panas bahkan kembali muncul di lokasi yang sebelumnya telah dilakukan pemadaman.
Berdasarkan laporan penanganan Polres Mesuji periode 22 Agustus hingga 16 September 2026, tercatat sekitar 782,33 hektare areal terbakar. Sementara itu, sebanyak 613 titik panas (hotspot) terdeteksi di wilayah tersebut.
Advertisement
Dari ratusan hotspot tersebut, 18 titik masuk kategori rendah, 556 kategori sedang, dan 39 titik lainnya berada dalam kategori tinggi.
Kapolres Mesuji AKBP Muhammad Firdaus mengatakan, penanganan karhutla masih dilakukan secara berkelanjutan. Sebab, di sejumlah lokasi petugas masih menemukan bara api, sementara beberapa hotspot kembali muncul setelah sebelumnya berhasil dipadamkan.
"Kami terus melakukan pemantauan dan penanganan terhadap titik-titik hotspot, termasuk lokasi yang kembali muncul api atau bara," kata Firdaus, Kamis (17/9/2026).
Salah satu lokasi yang beberapa kali kembali ditangani petugas berada di Desa Talang Batu, Kecamatan Mesuji Timur.
Pada 14 September 2026, petugas melakukan pemadaman di areal PT Silva Inhutani dengan luas sekitar 40 hektare setelah kembali ditemukan hotspot.
Sehari berselang, petugas kembali melakukan pengecekan sekaligus pemadaman di lokasi yang sama. Kali ini, hotspot kembali terdeteksi di areal sekitar 10 hektare.
Pada hari yang sama, tim gabungan juga melakukan pemadaman hotspot di Desa Talang Batu dengan luasan sekitar 50 hektare.
Penanganan melibatkan personel Polri, pemadam kebakaran, serta masyarakat.
"Penanganan tidak hanya dilakukan saat api terlihat. Kami juga melakukan pengecekan dan pendinginan untuk memastikan titik api tidak kembali menyala," jelasnya.
Selain kawasan perusahaan, petugas juga menangani karhutla di lahan yang berada di sekitar permukiman warga.
Pada 15 September, tim melakukan penanganan sisa bara di Desa Kebun Dalam, Kecamatan Way Serdang, dengan luas sekitar 1.250 meter persegi.
Pemadaman juga dilakukan di Desa Bangun Jaya, Kecamatan Tanjung Raya, pada lahan seluas sekitar 10 hektare.
"Sementara di HGU PT BTLA, Desa Wiralaga II, Kecamatan Mesuji, polisi bersama sekitar 80 karyawan perusahaan melakukan pemadaman sisa bara di areal sekitar 58 hektare," sebutnya.
Penanganan karhutla di Kabupaten Mesuji dilakukan secara gabungan dengan melibatkan Polri, TNI, BPBD, Damkar, pemerintah desa, perusahaan, hingga masyarakat.
Firdaus mengatakan, keterlibatan berbagai unsur diperlukan lantaran lokasi kebakaran tersebar di sejumlah wilayah. Selain itu, beberapa titik membutuhkan penanganan berulang karena kembali ditemukan bara maupun hotspot.
"Kami berkoordinasi dengan TNI, BPBD, Damkar, pemerintah desa, pihak perusahaan dan masyarakat dalam setiap penanganan di lapangan," katanya.
Dari catatan Polres Mesuji, aktivitas pemadaman telah berlangsung hampir setiap hari sejak 22 Agustus 2026.
Sejumlah areal bahkan kembali menjadi lokasi pemadaman setelah sebelumnya dinyatakan padam.
Polres Mesuji memastikan pemantauan terhadap titik panas akan terus dilakukan. Petugas juga melakukan pendinginan untuk memastikan sisa bara benar-benar padam dan tidak kembali memicu kebakaran.