Liputan6.com, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Menteri ESDM), Bahlil Lahadalia memastikan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi bagi masyarakat. Meskipun konsumsi BBM subsidi dikhawatirkan lebih tinggi dari kuota yang ditetapkan.
Bahlil tak mengungkap secara gamblang soal angka penambahan alokasi BBM subsidi 2026 ini. Namun, dia memastikan ketersediaannya di tengah masyarakat.
Advertisement
"Kami pemerintah akan menyiapkan stok kebutuhan masyarakat, khususnya terkait dengan BBM bersubsidi," kata Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (17/9/2026).
Bahlil menyadari, ada peralihan dari pembelian ke BBM subsidi, terutama setelah ada kenaikan harga BBM non subsidi. Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mengamini adanya lonjakan konsumsi Pertalite sebagai BBM yang mengandung unsur subsidi pemerintah.
Pada Juni 2026, konsumsi Pertalite naik rata-rata 9,19% menjadi 82.760 KL per hari (dari sebelumnya 75.795 KL per hari). Lalu, Juli 2026 konsumsi melonjak 12,92% menjadi 85.589 KL per hari, meski harga Pertamax Turbo sempat turun ke Rp 19.300 per liter.
Serta, pada Agustus 2026, konsumsi berada pada level tinggi dengan kenaikan rata-rata 11,31% menjadi 84.368 KL per hari. Pada periode ini, Pertamax disesuaikan turun ke Rp 15.950 per liter, Pertamax Green Rp 16.600 per liter, dan Pertamax Turbo Rp 18.300 per liter.
Bahlil mengungkap akan ada aturan mengenai konsumsi BBM subsidi ke depan sambil mengimbau masyarakat mampu tak sembarangan beli BBM subsidi. "Saya akan mempertimbangkan, nanti kita lihat, tapi saya harus ngomongin dulu, kalau regulasi itu butuh proses, tapi imbauan ini penting," tegas dia.
Hitung Potensi Lebih Kuota
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengonfirmasi bahwa pemerintah masih menghitung potensi kelebihan (oversupply) penyaluran BBM bersubsidi jenis Pertalite sepanjang 2026. Bahlil tak menampik adanya fenomena migrasi atau peralihan konsumsi masyarakat dari Pertamax ke Pertalite.
Kementerian ESDM dan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mengidentifikasi potensi penyaluran Pertalite melampaui kuota tahunan yang ditetapkan. BPH Migas mencatat rata-rata konsumsi Pertalite sempat tembus 85.589 kiloliter (KL) per hari pada Juli 2026.
"Kami masih terus menghitung potensi kelebihannya berapa," ujar Bahlil di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (31/8/2026).
Ada Peralihan ke BBM Subsidi
Bahlil memaparkan bahwa fenomena beralihnya konsumen BBM non-subsidi (Pertamax series) ke Pertalite memuncak saat harga BBM nonsubsidi melonjak mengikuti tren harga minyak dunia.
"Ketika harga BBM dunia naik, sebagian pengguna RON 92 (Pertamax) beralih mengisi RON 90 (Pertalite), sehingga terjadi peningkatan konsumsi. Namun, angka pasti kenaikannya masih kami hitung," jelasnya.
Data BPH Migas mencatat lonjakan konsumsi Pertalite hingga 12% pada Juli 2026 dibandingkan periode sebelum kenaikan harga Pertamax.