Liputan6.com, Jakarta - Presiden Prancis Emmanuel Macron menuturkan, Prancis sedang berupaya mengamankan pasokan minyak dan mengurangi tekanan terhadap harga bahan bakar. Hal ini dilakukan Prancis di tengah ketegangan yang memengaruhi pasar energi.
"Ketika minyak berada di bawah tekanan, harga di pompa bensin melonjak. Saya tahu apa artinya hal itu bagi rakyat Prancis,” ujar Macron dalam sebuah unggahan di platform X, dahulu bernama Twitter dikutip dari laman Anadolu, Kamis (17/9/2026).
Advertisement
Macron menuturkan, setelah melakukan pembicaraan dengan Perdana Menteri Irak Ali Falih al-Zaidi pada awal pekan ini, ia juga berbicara dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani pada Rabu pekan ini.
Macron juga mengatakan, prioritas utama adalah memulihkan kebebasan navigasi di Selat Hormuz, melindungi infrastruktur energi mitra dan mengamankan produksi minyak.
"Menjamin pasokan kita adalah hal yang sangat penting," ujar dia.
Ia menambahkan, Prancis bekerja sama dengan mitra koalisi untuk memastikan kebebasan navigasi melalui jalur perairan strategis tersebut.
Macron mengatakan Prancis juga sedang berupaya membuka rute alternatif guna mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz dan memperkuat keamanan pasokan.
"Lebih banyak rute untuk minyak berarti ketergantungan yang lebih rendah. Ketergantungan yang lebih rendah berarti keamanan yang lebih baik. Dan keamanan yang lebih baik berarti tekanan harga yang lebih ringan," kata Macron.
"Melawan ketegangan. Mengamankan pasokan minyak. Meringankan tekanan pada harga bahan bakar. Itu semua adalah bagian dari upaya melindungi rakyat Prancis," ia menambahkan.
Harga Bahan Bakar Melonjak
Harga bahan bakar di seluruh dunia, termasuk di Prancis, telah melonjak tajam dalam beberapa pekan terakhir akibat gangguan yang terkait dengan konflik di Timur Tengah, dengan harga bensin dan solar mencapai rekor tertinggi.
Kelompok pemberontak Houthi di Yaman, yang kembali terlibat pertempuran dengan pasukan pemerintah pada Juli, dikabarkan telah membuat kemajuan baru-baru ini dan menguasai Bab el-Mandeb, selat sempit yang krusial bagi ekspor minyak mentah Arab Saudi sejak Iran membatasi pelayaran melalui Selat Hormuz.
Harga Minyak Dunia Turun Usai AS Ungkap Pipa Arab Saudi Segera Beroperasi
Sebelumnya, harga minyak dunia turun pada perdagangan Rabu setelah pemerintahan Presiden Donald Trump berupaya menenangkan pasar dengan menyebut pipa minyak Arab Saudi yang rusak akan kembali beroperasi dalam beberapa hari.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 3,2% dan ditutup pada US$ 102,43 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent, yang menjadi patokan harga minyak internasional, melemah 2,7% menjadi US$ 105,83 per barel.
Meski turun pada perdagangan Rabu, harga minyak telah melonjak lebih dari 16% sepanjang bulan ini. Kenaikan tersebut terjadi ketika konflik di kawasan Teluk Persia meningkat tajam.
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan bahwa penghentian operasi pipa tersebut merupakan gangguan singkat dan sementara.
"Ini adalah gangguan singkat dan sementara," kata Wright dikutip dari CNBC, Kamis (17/9/2026). Menurut dia, gangguan tersebut akan berlangsung dalam hitungan hari.
Namun, sejumlah analis independen memperingatkan penghentian operasi bisa berlangsung selama beberapa pekan. Perkiraan itu mengacu pada citra satelit yang menunjukkan kerusakan cukup parah pada salah satu stasiun pompa.
Ekspor Lewat Selat Hormuz
Wright mengatakan Arab Saudi telah mengambil langkah cepat untuk meningkatkan ekspor minyak melalui Selat Hormuz dengan bantuan militer AS selama pipa tersebut belum beroperasi.
Direktur Riset Komoditas Kpler Matt Smith mengatakan empat kapal tanker super yang secara keseluruhan mampu mengangkut sekitar 8 juta barel minyak terlihat melakukan pemuatan di pelabuhan Ras Tanura dan Juaymah di pesisir Teluk Persia, Arab Saudi, pada Selasa.
"Mereka kemungkinan akan menjadi bagian dari upaya pengangkutan melalui rute Oman melewati Selat Hormuz," ujar Smith.
Arab Saudi menutup pipa tersebut pada akhir pekan lalu setelah mengalami kerusakan akibat serangan pesawat nirawak yang diluncurkan dari Irak.
Hingga kini, pemerintah Arab Saudi belum memberikan penilaian mengenai tingkat kerusakan maupun perkiraan waktu yang dibutuhkan untuk memulihkan operasional pipa.
Pipa tersebut selama ini memungkinkan Arab Saudi mengalihkan ekspor minyak menuju Laut Merah. Jalur ini menjadi penting ketika AS dan Iran memperebutkan kendali atas Selat Hormuz.
Sebelum perang, Selat Hormuz merupakan jalur utama ekspor minyak negara-negara Teluk.