Suku Bunga The Fed Naik, Ini Dampak ke Indonesia

Berikut penjelasan dampak kenaikan suku bunga The Federal Reserve (the Fed) terhadap Indonesia.

oleh Thurfah Mahira AhnafDiterbitkan 17 September 2026, 14:45 WIB
Ketua Dewan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh berbicara selama konferensi pers di Federal Reserve di Washington. Rabu, 29 Juli 2026. (AP Photo/Mark Schiefelbein)

Liputan6.com, Jakarta - The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan 25 bps menjadi 3,75–4,00% pada pertemuan Federal Open Market Committee 15-16 September 2026, memantik pertanyaan lama yang selalu relevan: kenapa kebijakan bank sentral Amerika Serikat ini bisa berpengaruh ke Indonesia?

Berikut penjelasan lengkapnya.

Apa itu suku bunga The Fed?

Suku bunga The Fed adalah kisaran sasaran suku bunga sangat pendek antarbank di Amerika Serikat (federal funds rate), yang ditetapkan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) sebagai instrumen utama kebijakan moneter AS. Suku bunga ini bukan bunga kredit yang langsung dikenakan kepada masyarakat, melainkan acuan yang merambat ke bunga simpanan, kredit, obligasi pemerintah AS, kredit perumahan, pembiayaan perusahaan, hingga nilai tukar dolar.

"Suku bunga the Fed adalah suku bunga kebijakan yang dipakai AS," kata Ekonom Institute for Economic and Social Research Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) Teuku Riefky.

Menurut Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, logika di baliknya sederhana: ketika inflasi terlalu tinggi, The Fed biasanya menaikkan suku bunga untuk mengurangi permintaan dan tekanan harga. Sebaliknya, ketika ekonomi terlalu lemah dan inflasi terkendali, suku bunga dapat diturunkan untuk mendorong aktivitas ekonomi. "Dalam keputusan terakhir, The Fed menilai aktivitas ekonomi AS masih cukup solid sementara inflasi tetap tinggi," ujar Josua.

Kenapa suku bunga The Fed menjadi perhatian global?

Josua menjelaskan, perubahan suku bunga itu memengaruhi imbal hasil surat utang pemerintah AS, nilai dolar, biaya pendanaan dalam dolar, serta keputusan investor dalam menempatkan dana di seluruh dunia.

Aset Berbasis Dolar AS Dominasi Pasar Global

Teller menghitung lembaran mata uang dolar AS di penukaran mata uang, Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

"Ketika bunga dan imbal hasil aset AS naik, investor mempunyai alternatif investasi yang lebih menarik dengan risiko yang relatif rendah, sehingga sebagian dana dapat berpindah dari negara berkembang menuju aset dolar," tuturnya.

Riefky menambahkan, alasan strukturalnya adalah karena aset berbasis dolar AS (USD) mendominasi pasar keuangan global.

Nota Keuangan beserta APBN Tahun Anggaran 2023 merekam momen The Fed memperkuat dolar yang mendepresiasi mata uang di banyak negara berkembang. Dalam kondisi sekarang, menurut Josua, pengaruh tersebut diperbesar oleh harga energi dan ketidakpastian geopolitik. Menjelang keputusan The Fed, imbal hasil surat utang AS 10 tahun sempat menembus 5%, dan kenaikan harga minyak kembali memicu kekhawatiran inflasi.

Mengapa suku bunga The Fed sering dijadikan patokan?

Josua menegaskan istilah "patokan" perlu diluruskan. Suku bunga The Fed bukan patokan formal yang wajib diikuti seluruh bank sentral, yang menetapkan kebijakan sesuai kondisi masing-masing negara.

Namun, kebijakan The Fed menjadi rujukan praktik global karena dolar AS berperan besar dalam perdagangan, pembiayaan, dan investasi internasional, sementara surat utang pemerintah AS menjadi salah satu rujukan utama penentuan dana global. Akibatnya, ketika The Fed mengubah suku bunga, biaya kesempatan menempatkan dana di negara-negara berkembang ikut berubah.

"Nota Keuangan bahkan secara eksplisit menyebut arah suku bunga AS sebagai salah satu faktor yang menentukan imbal hasil SBN Indonesia dan dinamika aliran modal," kata Josua.

Suku Bunga The Fed Berdampak pada Empat Jalur

Investasi, khususnya non-bangunan, tetap menopang pertumbuhan ekonomi. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Riefky menambahkan, selain menjadi instrumen dominan pasar keuangan global, aset berbasis dolar Amerika Serikat (AS) ini juga berfungsi sebagai safe-haven asset, tempat investor "berlindung" ketika situasi global tidak menentu.

Menurut Josua, pengaruh The Fed berasal dari dominasi dolar dan kedalaman pasar keuangan AS, bukan karena negara lain wajib mengikuti kebijakannya.

Apa dampak suku bunga The Fed terhadap ekonomi Indonesia?

Salurannya setidaknya ada empat: nilai tukar, aliran modal, biaya pembiayaan, dan suku bunga domestik.

Riefky menyebut, suku bunga tinggi The Fed berpotensi memicu capital outflow atau aliran dana keluar karena perbedaan suku bunga (rate differential) antara AS dan Indonesia yang menipis, yang nantinya dapat berujung pada pelemahan nilai tukar rupiah.

Josua menjelaskan, jika suku bunga AS bertahan tinggi, investor cenderung meminta imbal hasil lebih tinggi untuk tetap memegang aset Indonesia. Akibatnya, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) dapat meningkat, biaya utang pemerintah dan perusahaan naik, serta ruang penurunan suku bunga domestik menyempit.

"Nota Keuangan menilai tingginya bunga global berpotensi menaikkan biaya pendanaan internasional, memperkuat dolar, meningkatkan volatilitas aliran modal, dan menekan mata uang negara berkembang termasuk Indonesia," ujar Josua.

Kondisi pasar Indonesia saat ini menunjukkan sensitivitas tersebut. Per 11 September 2026, imbal hasil SBN 10 tahun berada di sekitar 7,15% dan rupiah berada di sekitar Rp 17.600 per dolar AS.

Meski begitu, Josua menekankan dampaknya ke pertumbuhan tidak selalu langsung.

Suku Bunga The Fed Naik, Jadi Tekanan Indonesia

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Bunga global tinggi dapat membuat biaya modal lebih mahal dan perusahaan lebih berhati-hati berinvestasi. Namun, Indonesia mempunyai beberapa bantalan, salah satunya cadangan devisa yang pada akhir Agustus 2026 mencapai US$ 146,5 miliar atau Rp 2.600 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 17.750).

Berdasarkan Siaran Pers Bank Indonesia (BI) No.28/181/DKom pada 7 September 2026, posisi tersebut setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor, atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional yang sekitar tiga bulan impor.

"Karena itu, kenaikan suku bunga The Fed merupakan tekanan bagi Indonesia, tetapi tidak otomatis menghasilkan krisis apabila stabilitas fiskal, cadangan devisa, inflasi, sistem keuangan, dan kepercayaan investor tetap terjaga," kata Josua.

Ekonom Bank BCA David Sumual menambahkan, catatan soal tren cadangan devisa yang perlu diwaspadai, yaitu (dalam ukuran bulan impor) turun dari 6,3 bulan impor pada Januari 2026 menjadi 5,4 bulan impor pada Agustus 2026.

Apa dampak kenaikan suku bunga The Fed terhadap rupiah?

Ketika bunga AS naik, imbal hasil aset dolar menjadi lebih menarik. Jika tambahan imbal hasil aset rupiah dianggap tidak cukup untuk mengimbangi risiko nilai tukar dan lainnya, dana asing dapat keluar atau aliran dana baru melambat. Permintaan dolar AS pun meningkat, sedangkan rupiah tertekan.

Josua mencatat, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) merekam pola ini pada 2026. kenaikan ekspektasi terhadap suku bunga The Fed, bersamaan dengan konflik Timur Tengah, turut menekan rupiah dan aliran modal negara berkembang. Pada Juli 2026, rupiah juga tertekan karena tingginya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

Rupiah Tak Harus Melemah karena Suku Bunga The Fed

Tumpukan mata uang Rupiah, Jakarta, Kamis (16/7/2020). Bank Indonesia mencatat nilai tukar Rupiah tetap terkendali sesuai dengan fundamental. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Riefky menambahkan, capital outflow akibat rate differential yang menipislah yang secara langsung memicu pelemahan nilai tukar rupiah.

David menyoroti kenaikan suku bunga The Fed ditambah ekspektasi kenaikan lanjutan juga mendorong Indeks Dolar AS (DXY) naik ke level 100,30 menurut TradingView DXY Chart, sehingga menekan rupiah.

Namun, Josua mengingatkan, hubungan ini tidak bersifat mekanis—rupiah tidak harus selalu melemah setiap kali The Fed menaikkan bunga. Jika kenaikan sudah sepenuhnya diperkirakan pasar, reaksinya bisa relatif terbatas.

Bahkan, dolar dapat melemah apabila, setelah menaikkan bunga, The Fed memberi sinyal bahwa kenaikan berikutnya tidak akan terlalu agresif,skenario yang sempat diperhitungkan pasar sebelum keputusan terakhir, karena sebagian besar pengetatan sudah masuk ke harga aset.

"Untuk rupiah, yang lebih penting bukan sekadar kenaikan 0,25 poin persentase kemarin, tetapi berapa jauh suku bunga AS masih akan naik dan berapa lama akan dipertahankan tinggi," ungkap Josua.

Apa dampak kenaikan suku bunga The Fed terhadap BI Rate?

Josua menjelaskan, kenaikan suku bunga The Fed menyulitkan penurunan BI-Rate, tetapi bukan berarti suku bunga BI harus dinaikkan ke jumlah yang sama.

Riefky menyederhanakan mekanismenya, yakni kenaikan suku bunga The Fed membuat rate differential (selisih suku bunga) antara Indonesia dan AS menjadi lebih kecil.

Sebagai gambaran, pada pertemuan BI 18-19 Agustus 2026 diputuskan BI Rate berada di 5,75%, dan sebelum keputusan terakhir suku bunga The Fed berada di 3,50–3,75%. Setelah The Fed menaikkan bunga menjadi 3,75–4,00%, selisih suku bunga nominal memang menyempit.

BI Tidak Harus Ikut Menaikkan Suku Bunga

Kantor Bank Indonesia di di Jl. M.H. Thamrin No.2, Jakarta Pusat. (Dok BI)

Menurut Josua, jika pada saat yang sama rupiah mengalami tekanan berat, arus modal keluar meningkat, dan ekspektasi inflasi memburuk, BI mempunyai alasan lebih kuat untuk mempertahankan bunga tinggi atau, jika diperlukan, menaikkannya. Sebaliknya, apabila rupiah stabil, inflasi tetap dalam sasaran, cadangan devisa memadai, dan tekanan pasar mereda, BI tidak perlu mengikuti The Fed secara satu berbanding satu.

"Mandat BI bukan mempertahankan selisih tertentu dengan suku bunga The Fed, melainkan menjaga stabilitas rupiah dan inflasi dengan tetap mempertimbangkan pertumbuhan," ujar Josua.

Kerangka kebijakan 2026 menunjukkan BI menggunakan BIRate untuk menjaga stabilitas, sementara instrumen likuiditas dan kebijakan perbankan tetap diarahkan untuk mendukung pembiayaan dan pertumbuhan.

Sementara itu, David memberikan pandangan yang sedikit berbeda soal ruang gerak BI. Ia menilai BI dapat mengatasi volatilitas jangka pendek melalui intervensi pasar.

Namun, jika tren penguatan dolar AS berlanjut hingga akhir tahun, intervensi yang berlebihan berisiko mengikis lebih jauh posisi cadangan devisa, apalagi penerbitan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) akan sulit dilakukan jika terjadi normalisasi kebijakan Saldo Anggaran Lebih (SAL).

"Dengan demikian, BI tetap perlu membuka opsi untuk mengikuti langkah The Fed menaikkan suku bunga 25–50 bps, karena dolar masih dijadikan mata uang jangkar dalam perdagangan dan investasi," ujar David.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya