Rupiah Melemah ke 17.739 per Dolar AS, Pasar Cermati Kebijakan The Fed

Rupiah hari ini melemah ke 17.739 per dolar AS setelah The Fed menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 17 September 2026, 11:40 WIB
Petugas valas menghitung mata uang dolar AS di DolarAsia Valas di kawasan BSD, Tangerang Selatan, Banten. (merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali melemah pada pembukaan perdagangan Kamis. Rupiah turun 43 poin atau 0,24 persen ke level 17.739 per dolar AS dari penutupan sebelumnya 17.696 per dolar AS. Pergerakan rupiah masih dibayangi kebijakan moneter Amerika Serikat, tingginya yield US Treasury, serta sentimen terhadap kondisi fiskal dalam negeri.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa menyatakan pergerakan kurs rupiah hari ini dipengaruhi perkembangan kebijakan moneter AS.

“Pergerakan rupiah saat ini masih dipengaruhi oleh perkembangan kebijakan moneter AS dan kondisi pasar global,” ucapnya dikutip dari Antara, Kamis (17/9/2026).

Tekanan terhadap rupiah muncul setelah Federal Reserve atau The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada Rabu (16/9/2026). Dengan keputusan tersebut, suku bunga acuan AS kini berada pada kisaran 3,75-4,00 persen.

Kenaikan suku bunga dilakukan ketika inflasi Amerika Serikat masih berada di atas target. Kebijakan tersebut kemudian memberikan dukungan terhadap dolar AS sekaligus menjaga imbal hasil atau yield US Treasury tetap berada pada level tinggi.

Kondisi itu membuat ruang penguatan rupiah menjadi lebih terbatas. Investor masih mencermati arah kebijakan moneter AS, terutama setelah keputusan terbaru The Fed.

 

Kondisi Fiskal dan Stabilitas Pasar Keuangan

Teller menghitung lembaran mata uang dolar AS di penukaran mata uang, Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Di tengah tekanan dari pasar global, terdapat sentimen yang sedikit memberikan ruang bagi mata uang regional, termasuk rupiah. Salah satunya berasal dari penurunan harga minyak setelah kekhawatiran mengenai pasokan mulai mereda.

“Dengan kondisi tersebut, rupiah berpotensi bergerak volatil dan masih berada dalam tekanan dalam jangka pendek, dengan kisaran 17.650 per dolar AS- 17.800 per dolar AS. Pergerakan selanjutnya akan dipengaruhi oleh arah kebijakan The Fed, perkembangan yield US Treasury, serta sentimen terhadap kondisi fiskal domestik,” ungkap dia.

Menurut Amru, perhatian pelaku pasar di dalam negeri juga masih tertuju pada kondisi fiskal dan stabilitas pasar keuangan. Kemampuan pemerintah menjaga kredibilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menjadi salah satu hal yang diperhatikan, khususnya di tengah tekanan eksternal.

Dengan berbagai sentimen tersebut, pergerakan rupiah dalam jangka pendek diperkirakan tetap dinamis. Pasar akan mencermati perkembangan kebijakan The Fed, pergerakan yield US Treasury, harga minyak, serta persepsi investor terhadap kondisi fiskal Indonesia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya