Masuk Forbes 400, Kekayaan Presiden OpenAI Tembus Rp 452 Triliun

Presiden OpenAI Greg Brockman resmi debut di daftar Forbes 400 tahun 2026 dengan kekayaan Rp 452,5 triliun, melampaui aset CEO Sam Altman.

oleh Thurfah Mahira AhnafDiterbitkan 18 September 2026, 21:00 WIB
Presiden OpenAI, Greg Brockman, menyampaikan pidato dalam konferensi pers AMD menjelang ajang tahunan Consumer Electronics Show di Las Vegas, Nevada, pada 5 Januari 2026. (Foto oleh Caroline Brehman/AFP via Getty Images)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden OpenAI, Greg Brockman, resmi masuk dalam daftar 400 orang terkaya di Amerika Serikat (AS) versi Forbes tahun 2026. Sebagai pendatang baru, Brockman langsung menduduki posisi ke-45 dengan kekayaan bersih mencapai US$ 25,5 miliar atau sekitar Rp 452,5 triliun (dengan asumsi kurs Rp 17.750 per dolar AS). Posisinya berada tepat di bawah pendiri Nike, Phil Knight, dan satu tingkat di atas taipan media, Rupert Murdoch.

Dikutip dari Yahoo Finance, Jumat (18/9/2026). Sebagian besar kekayaan Brockman berasal dari kepemilikan sahamnya di OpenAI. Berdasarkan kesaksiannya dalam persidangan pada Mei lalu, nilai kepemilikan tersebut telah melampaui US$ 20 miliar (Rp 354,9 triliun). Bahkan, estimasi terbaru dari Forbes mencatat nilainya kini mendekati US$ 30 miliar (Rp 532,4 triliun).

Jumlah tersebut kontras dengan kekayaan CEO OpenAI, Sam Altman. Berbeda dari Brockman, Altman tidak memiliki saham langsung di OpenAI dan kekayaannya diperkirakan "hanya" US$ 3,3 miliar (Rp 58,5 triliun). Angka ini belum cukup untuk membawanya masuk ke dalam daftar Forbes 400 tahun 2026, yang menetapkan batas minimum kekayaan sebesar US$ 4,4 miliar (Rp 78 triliun).

Sementara itu, pendiri OpenAI lainnya, Ilya Sutskever—yang dalam persidangan mengaku memiliki saham senilai US$ 7 miliar (Rp 124,2 triliun)—diperkirakan hanya mengantongi sepertiga dari total kekayaan Brockman.

 

Lonjakan Industri AI dan Sosok Baru Forbes 400

Kreator ChatGPT OpenAI Bikin Alat untuk Deteksi Teks Buatan AI atau Manusia. (Doc: OpenAI)

Brockman merupakan satu dari 34 pendatang baru dalam daftar tahun ini. Nama-nama baru lainnya mencakup Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick serta enam pendiri Anthropic. Secara keseluruhan, total kekayaan para taipan dalam daftar Forbes 400 mencatatkan rekor baru sebesar US$ 8 triliun (Rp 141.900 triliun), naik US$ 1,4 triliun (Rp 24.850 triliun) dibandingkan tahun 2025.

Forbes menyebut pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) sebagai pendorong utama lahirnya para miliarder baru ini. Setidaknya ada 14 nama lain dari industri AI yang turut masuk daftar, termasuk Brett Adcock (Figure AI) serta pasangan pendiri Anthropic, Daniela dan Dario Amodei.

Di sisi lain, posisi puncak Forbes 400 masih ditempati oleh Elon Musk selama lima tahun berturut-turut. Kekayaan Musk diperkirakan telah menyentuh US$ 908 miliar (Rp 16.117 triliun) setelah SpaceX menggelar penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) pada Juni 2026.

 

Latar Belakang dan Kontroversi Jurnal Finansial

Brockman tumbuh besar di Thompson, North Dakota, sebagai anak ketiga dari empat bersaudara di keluarga dokter. Ia sempat mengenyam pendidikan di Harvard University sebelum akhirnya mengundurkan diri pada tahun pertama. Ia kemudian melanjutkan studi di MIT, namun kembali keluar (drop out) untuk bergabung dengan Stripe—perusahaan perintis tempat ia menjadi karyawan keempat sekaligus menjabat sebagai Chief Technology Officer (CTO).

Perjalanan karier Brockman di OpenAI tidak lepas dari sengketa hukum yang melibatkan perubahan status perusahaan dari organisasi nirlaba (non-profit) menjadi entitas berorientasi profit. Salah satu bukti yang menyudutkannya dalam gugatan hukum oleh Elon Musk adalah catatan jurnal pribadi Brockman pada 2017. Dalam jurnal tersebut, ia menulis pertanyaan pada dirinya sendiri: "Secara finansial, apa yang akan membawa saya mencapai US$ 1 miliar?".

Musk menuding Brockman dan Altman telah membujuknya untuk mendanai organisasi nirlaba OpenAI sebelum secara sepihak mengubahnya menjadi entitas komersial. Namun di persidangan, Brockman menjelaskan bahwa catatan itu sekadar mencerminkan harapannya agar kerja keras bertahun-tahun dalam membangun OpenAI bisa membuahkan hasil finansial yang setimpal.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya