Harga yang Harus Dibayar Demi Membuktikan Diri

Melepaskan kebutuhan untuk membuktikan diri tidak serta-merta membuat kita menjadi kurang berambisi.

Dr. Rudolf Tjandra, CEO & President Director Kalbe Nutritionals. (Liputan6.com/Djoko Poerwanto)

Liputan6.com, Jakarta - Sebagian besar dari masa kerja saya, saya menganggap ambisi sebagai sebuah kebajikan yang tidak memerlukan banyak penjelasan. Kita bekerja keras, mengejar tanggung jawab yang lebih besar, ingin menang, dan bangga saat diakui atas apa yang telah kita capai. Tidak ada yang terlalu rumit dari hal itu. Pencapaian adalah pencapaian, dan pengakuan adalah hadiah yang alami. Baru jauh di kemudian hari saya mulai bertanya-tanya apakah ada dorongan lain yang bersembunyi di balik ambisi: kebutuhan untuk membuktikan sesuatu tentang diri kita.

Perbedaannya sangat halus, dan mungkin itulah sebabnya butuh waktu lama bagi saya untuk menyadarinya. Ingin membangun bisnis yang sukses adalah satu hal; ingin membangun bisnis yang sukses karena keberhasilannya membuktikan bahwa kita mampu adalah hal lain. Ingin melakukan pekerjaan dengan baik itu sehat, tetapi membutuhkan pekerjaan berjalan lancar karena kegagalan akan membuat kita merasa tidak mampu adalah hal yang jauh lebih berbahaya. Dari luar, keduanya terlihat hampir identik. Namun dari dalam, keduanya menciptakan hubungan yang sangat berbeda dengan kesuksesan, kegagalan, dan orang lain.

Saya telah melihat hal ini berulang kali dalam dunia bisnis. Beberapa orang yang paling sulit dipimpin belum tentu mereka yang paling tidak mampu. Mereka bisa jadi sangat cerdas, berambisi, dan berprestasi, namun kesulitan mereka bersumber dari terlalu banyaknya identitas diri yang dipertaruhkan untuk menjadi yang benar, sukses, atau dikagumi. Begitu hal itu terjadi, diskusi bisnis secara diam-diam dapat berubah menjadi kontes pribadi. Sanggahan terhadap sebuah gagasan terasa seperti ancaman bagi personal, hasil yang mengecewakan menjadi sesuatu yang harus dijustifikasi alih-alih dipahami, dan rekan kerja yang tidak sependapat mulai terlihat seperti lawan ketimbang sumber informasi lain.

Ironisnya, semakin kita bertekad untuk membuktikan kompetensi kita, semakin sulit bagi kita untuk belajar. Ketika rasa keberhargaan diri kita terikat pada status 'serba tahu' atau 'sukses', kritik bukan lagi sekadar umpan balik yang berguna. Kritik berubah menjadi bukti tidak nyaman bahwa citra diri yang kita pegang mungkin tidak sepenuhnya akurat. Akibatnya, naluri kita adalah melindungi citra tersebut ketimbang menyelidiki kebenaran dari bukti yang ada.

Hal ini sangat berbahaya dalam kepemimpinan, karena kepemimpinan pada dasarnya adalah seni mengelola apa yang tidak kita ketahui. Pasar berubah, perilaku konsumen tidak sesuai ekspektasi, strategi gagal, pesaing memberi kejutan, dan orang-orang yang kita pikir sudah kita pahami ternyata jauh lebih rumit dari yang kita bayangkan. Tingginya jabatan tidak pernah menghilangkan ketidakpastian. Malah, konsekuensi dari membuat kesalahan menjadi semakin besar seiring kita naik ke tingkatan organisasi yang lebih tinggi.

Namun, semakin tinggi posisi kita, semakin sulit rasanya untuk mengakui bahwa kita tidak memiliki jawabannya. Kita telah menghabiskan bertahun-tahun mengumpulkan pengalaman serta membangun reputasi, dan ada godaan yang bisa dimaklumi untuk percaya bahwa posisi kita menuntut kita untuk tahu lebih banyak daripada orang lain. Namun kepemimpinan tidak menjadi lebih kuat ketika seorang pemimpin merasa harus memiliki setiap jawaban. Kepemimpinan menjadi lebih kuat ketika orang-orang di sekitar pemimpin merasa cukup aman untuk memberikan jawaban yang tidak dimiliki oleh sang pemimpin.

Saya telah belajar bahwa ada perbedaan besar antara rasa percaya diri dan kebutuhan akan validasi. Rasa percaya diri memungkinkan kita untuk berkata, "Saya pikir ini keputusan yang tepat, tetapi saya bisa saja salah." Kebutuhan akan pengakuan membuat kita berpikir, "Saya harus benar, karena jika saya salah, itu mencerminkan siapa diri saya." Pola pikir yang pertama memberi ruang untuk eksperimen dan pembelajaran; pola pikir yang kedua menjadikan setiap keputusan sebagai ujian atas identitas diri.

Ini bukan hanya masalah bagi para eksekutif. Orang tua bisa sangat terikat pada pencapaian anak-anak mereka hingga nilai sekolah sang anak menjadi pernyataan tentang diri mereka sendiri. Profesional muda dapat menjadi terobsesi dengan promosi, gelar, dan pengakuan karena setiap pencapaian baru seolah mengonfirmasi bahwa mereka terus melangkah maju. Wirausahawan bisa terikat secara emosional pada sebuah ide bisnis, bahkan jauh setelah bukti menunjukkan bahwa ide tersebut perlu diubah. Bahkan di media sosial, kita semakin sering mengurasi hidup kita sebagai bukti bahwa kita sukses, menarik, cerdas, sehat, atau bahagia.

Tidak ada dari hal ini yang pada dasarnya salah. Ambisi bisa sangat produktif, pengakuan bisa menjadi motivator, dan tidak ada yang salah dengan keinginan untuk berhasil atau bangga atas apa yang telah kita capai. Masalah timbul ketika pencapaian berhenti menjadi sesuatu yang kita kejar karena itu bermakna, dan berubah menjadi sesuatu yang kita butuhkan agar merasa berharga. Pada titik itu, kesuksesan bukan lagi sekadar hasil yang diinginkan; kesuksesan menjadi sebuah bentuk kepastian emosional, sementara kegagalan menjadi jauh lebih sulit untuk ditoleransi.

Hal ini mungkin menjelaskan mengapa orang terkadang berperilaku tidak rasional ketika reputasi mereka dipertaruhkan. Mereka mempertahankan keputusan yang seharusnya ditinjau ulang, menghindari percakapan yang sulit, menyalahkan keadaan atau orang lain, dan menunda tindakan ketika kemungkinan gagal terasa terlalu menyakitkan. Mereka bahkan mungkin mengejar kesempurnaan ketika tingkat 'cukup baik' sebenarnya sudah memadai, karena hasil yang tidak sempurna mengancam citra yang ingin mereka pertahankan. Dalam bisnis, perilaku ini bisa sangat mahal harganya karena organisasi harus terus membayar konsekuensi dari suatu keputusan hanya karena pembuat keputusan tersebut tidak sanggup mengakui bahwa keputusannya salah.

Ada biaya lain yang kurang terlihat: banyaknya waktu hidup yang dihabiskan untuk mengkhawatirkan pemikiran orang lain. Kita membandingkan karier kita dengan rekan sejawat, secara diam-diam menghitung apakah kita berada di depan atau di belakang, menghabiskan energi untuk menjaga pencitraan, dan terobsesi apakah kontribusi kita cukup diakui atau tidak. Jika digabungkan, tindakan-tindakan kecil untuk perlindungan diri ini dapat menguras perhatian yang sebenarnya bisa digunakan untuk bekerja, membina hubungan, belajar, atau sekadar menjalani hidup.

Mungkin hal ini menjadi semakin jelas seiring bertambahnya usia kita. Setelah berdekade-dekade mengumpulkan gelar, pencapaian, dan pengakuan, pada akhirnya kita menyadari bahwa tidak ada satu pun dari hal tersebut yang abadi. Organisasi berubah, posisi berganti pemilik, anak-anak muda berdatangan dengan ide-ide baru, dan pasar terus bergerak maju. Bahkan hal-hal yang dulu terasa sangat sentral bagi identitas kita, pada akhirnya dapat menjadi tanggung jawab orang lain. Hal itu bisa terasa tidak nyaman, terutama jika rasa keberhargaan diri kita sangat terikat pada apa yang kita lakukan secara profesional, namun hal itu juga bisa terasa membebaskan dengan cara yang unik.

Begitu Anda menyadari bahwa Anda tidak bisa menggenggam pengakuan selamanya, sebuah pertanyaan berbeda mulai muncul: jika saya tidak perlu lagi membuktikan diri, apa yang sebenarnya ingin saya lakukan?

Bagi saya, ini adalah salah satu pertanyaan paling menarik tentang tahap akhir dari kehidupan profesional. Ketika kemajuan karier bukan lagi tujuan utama, ambisi tidak serta-merta hilang. Ambisi tersebut hanya menjadi tidak terlalu didorong oleh ego. Keinginan untuk membangun, menciptakan, mengajar, menulis, membimbing, atau berkontribusi tetap bisa sangat kuat, namun motivasinya telah berubah. Anda menjadi tidak terlalu peduli tentang apa yang dikatakan pencapaian itu tentang Anda, dan lebih peduli pada apakah pencapaian itu sendiri memang berharga.

Pergeseran itu bisa terjadi pada usia berapa pun. Seorang manajer muda bisa melakukannya besok, seorang wirausahawan bisa menyadarinya setelah usaha yang gagal, dan seorang siswa bisa mempelajarinya setelah menemukan bahwa menjadi orang terpintar di kelas kurang penting dibandingkan tetap memiliki rasa ingin tahu. Yang berubah belum tentu tingkat ambisinya, melainkan alasan di balik ambisi tersebut.

Paradoks yang menarik adalah bahwa melepaskan kebutuhan untuk membuktikan diri tidak serta-merta membuat kita menjadi kurang berambisi. Hal itu justru membuat kita lebih berani mengambil risiko karena identitas diri kita tidak lagi dipertaruhkan pada hasilnya. Kita dapat mengejar tujuan yang sulit tanpa menuntut kepastian bahwa kita akan berhasil, mendengarkan kritik tanpa langsung membela diri, mengubah arah tanpa merasa bahwa berganti pikiran berarti kehilangan muka, dan memberikan penghargaan kepada orang lain tanpa khawatir bahwa kesuksesan mereka akan mengurangi kesuksesan kita.

Yang paling penting, kita bisa gagal tanpa menjadikan kegagalan itu sebagai vonis atas siapa diri kita.

Saya juga mulai percaya bahwa ambisi yang paling sehat cenderung sedikit lebih besar daripada diri kita sendiri. Membangun bisnis hanya untuk menjadi berkuasa atau dikagumi bisa menjadi proses yang memuakkan dalam perbandingan, karena akan selalu ada orang yang lebih kaya, lebih berpengaruh, atau lebih dipuja. Membangun bisnis yang menciptakan sesuatu yang berguna, memberi kesempatan bagi orang lain, dan meninggalkan organisasi dalam kondisi yang lebih kuat daripada saat kita temukan memberikan jenis motivasi yang berbeda. Hasil luar mungkin terlihat serupa, tetapi pengalaman batinnya sangat jauh berbeda.

Yang satu utamanya adalah tentang membuktikan sesuatu tentang diri kita. Yang lainnya adalah tentang menciptakan sesuatu yang berarti.

Mungkin inilah mengapa beberapa pemimpin menjadi lebih menarik seiring bertambahnya usia mereka. Mereka tidak lagi harus menjadi orang terpintar di dalam ruangan. Mereka menjadi lebih nyaman mengajukan pertanyaan, mendengarkan tanpa langsung merespons, dan mengakui apa yang tidak mereka ketahui. Otoritas mereka datang bukan dari memiliki semua jawaban, melainkan dari memiliki kearifan untuk mengetahui pertanyaan mana yang penting.

Kita menghabiskan paruh pertama karier kita mencoba menetapkan siapa diri kita. Kita mengumpulkan kualifikasi, gelar, pencapaian, dan pengakuan, dan hal-hal ini berguna karena membuka pintu serta memberi kita rasa percaya diri. Namun ada satu titik di mana terus mengumpulkan bukti menjadi tidak lagi diperlukan. Pertanyaannya bukan lagi apakah kita cukup baik. Pertanyaannya adalah apa yang ingin kita lakukan dengan kemampuan, pengalaman, dan sisa waktu yang kita miliki.

Mungkin, itulah bentuk ambisi yang lebih dewasa: bukan ambisi tanpa ego, karena saya ragu hal seperti itu ada, melainkan ambisi di mana ego tidak lagi memegang kendali. Kita masih bisa ingin menang, masih peduli pada keunggulan, dan masih menikmati pengakuan, tanpa membutuhkan semua hal tersebut untuk memberi tahu siapa diri kita.

Ada perbedaan yang sangat besar antara mengatakan, "Saya berhasil, maka saya berharga," dengan mengatakan, "Saya berhasil, dan sekarang apa yang bisa saya lakukan dengan kesuksesan ini?" Yang pertama membuat kita terus menatap diri sendiri; yang kedua memungkinkan kita untuk melihat melampaui diri sendiri.

Dan mungkin saat itulah pencapaian menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar cara untuk membuktikan bahwa kita berarti. Pencapaian menjadi sebuah cara untuk menjadikan diri kita bermanfaat.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya