Liputan6.com, Jakarta - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mengeluarkan peringatan dini terkait potensi gerakan tanah atau tanah longsor di sembilan kecamatan di wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur hingga akhir September 2026.
Peringatan tersebut berdasarkan peta pemantauan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Advertisement
“Prakiraan wilayah potensi terjadi gerakan tanah disusun berdasarkan hasil tumpang susun (overlay) antara peta zona kerentanan gerakan tanah dengan peta prakiraan curah hujan bulanan yang diperoleh dari BMKG,” tulis BPBD DKI Jakarta dalam unggahan resminya, dikutip Rabu (16/9/2026).
Pemetaan tersebut menempatkan seluruh kecamatan terdampak dalam Zona Menengah potensi gerakan tanah. Tujuh kecamatan berada di Jakarta Selatan, yaitu Cilandak, Jagakarsa, Kebayoran Baru, Kebayoran Lama, Mampang Prapatan, Pasar Minggu, dan Pesanggrahan.
Sementara dua kecamatan lainnya berada di Jakarta Timur, yakni Kramatjati dan Pasar Rebo.
Minta Warga Bersiap Hadapi Potensi Cuaca Ekstrem
Pihak BPBD menjelaskan bahwa area dalam Zona Menengah memiliki tingkat kerentanan sedang, namun risikonya dapat meningkat drastis jika curah hujan melonjak melampaui batas normal.
“Pada zona menengah daerah yang mempunyai potensi menengah untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan,” jelas pihak BPBD.
Menanggapi potensi bencana tersebut, BPBD DKI Jakarta mengimbau seluruh aparatur pemerintah wilayah beserta warga setempat untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kondisi cuaca ekstrem.
“Untuk itu kepada Lurah, Camat, dan masyarakat diimbau untuk tetap mengantisipasi adanya potensi gerakan tanah pada saat curah hujan di atas normal,” imbau BPBD DKI Jakarta.