Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia turun pada perdagangan Rabu setelah pemerintahan Presiden Donald Trump berupaya menenangkan pasar dengan menyebut pipa minyak Arab Saudi yang rusak akan kembali beroperasi dalam beberapa hari.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 3,2% dan ditutup pada US$ 102,43 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent, yang menjadi patokan harga minyak internasional, melemah 2,7% menjadi US$ 105,83 per barel.
Advertisement
Meski turun pada perdagangan Rabu, harga minyak telah melonjak lebih dari 16% sepanjang bulan ini. Kenaikan tersebut terjadi ketika konflik di kawasan Teluk Persia meningkat tajam.
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan bahwa penghentian operasi pipa tersebut merupakan gangguan singkat dan sementara.
"Ini adalah gangguan singkat dan sementara," kata Wright dikutip dari CNBC, Kamis (17/9/2026). Menurut dia, gangguan tersebut akan berlangsung dalam hitungan hari.
Namun, sejumlah analis independen memperingatkan penghentian operasi bisa berlangsung selama beberapa pekan. Perkiraan itu mengacu pada citra satelit yang menunjukkan kerusakan cukup parah pada salah satu stasiun pompa.
EKspor Lewat Selat Hormuz
Wright mengatakan Arab Saudi telah mengambil langkah cepat untuk meningkatkan ekspor minyak melalui Selat Hormuz dengan bantuan militer AS selama pipa tersebut belum beroperasi.
Direktur Riset Komoditas Kpler Matt Smith mengatakan empat kapal tanker super yang secara keseluruhan mampu mengangkut sekitar 8 juta barel minyak terlihat melakukan pemuatan di pelabuhan Ras Tanura dan Juaymah di pesisir Teluk Persia, Arab Saudi, pada Selasa.
"Mereka kemungkinan akan menjadi bagian dari upaya pengangkutan melalui rute Oman melewati Selat Hormuz," ujar Smith.
Arab Saudi menutup pipa tersebut pada akhir pekan lalu setelah mengalami kerusakan akibat serangan pesawat nirawak yang diluncurkan dari Irak.
Hingga kini, pemerintah Arab Saudi belum memberikan penilaian mengenai tingkat kerusakan maupun perkiraan waktu yang dibutuhkan untuk memulihkan operasional pipa.
Pipa tersebut selama ini memungkinkan Arab Saudi mengalihkan ekspor minyak menuju Laut Merah. Jalur ini menjadi penting ketika AS dan Iran memperebutkan kendali atas Selat Hormuz.
Sebelum perang, Selat Hormuz merupakan jalur utama ekspor minyak negara-negara Teluk.
Perjalanan Kapal Tanker Tetap Berisiko
Militer AS kini telah membuka jalur di sepanjang pesisir Oman yang memungkinkan negara-negara Teluk meningkatkan ekspor minyak melalui Selat Hormuz.
Meski demikian, volume pengiriman minyak masih jauh di bawah tingkat sebelum perang.
Perjalanan kapal tanker melalui kawasan tersebut juga tetap berisiko meski mendapat perlindungan militer AS. Iran masih melancarkan serangan terhadap kapal tanker yang melintas.
Berdasarkan laporan insiden dari United Kingdom Maritime Trade Operations Centre, sedikitnya dua kapal telah diserang di Selat Hormuz sejak Sabtu.
Kondisi tersebut membuat pasar minyak global masih menghadapi ketidakpastian pasokan. Pemulihan operasional pipa Arab Saudi menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pelaku pasar karena jalur tersebut dapat membantu mengurangi tekanan terhadap distribusi minyak melalui Selat Hormuz.
Di sisi lain, eskalasi konflik di kawasan Teluk Persia tetap menjadi risiko bagi harga minyak dunia. Gangguan pada jalur ekspor maupun serangan terhadap kapal tanker berpotensi memengaruhi kelancaran pasokan energi global.