Standard Chartered Prediksi Arbitrum Bisa Kalahkan Bitcoin dan Ethereum

Standard Chartered memproyeksikan Arbitrum bisa mencapai US$ 10 pada 2030, didorong pertumbuhan aset tokenisasi dan pendapatan jaringan.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 16 September 2026, 12:10 WIB
Arbitrum. (Ilustrasi by AI)

Liputan6.com, Jakarta - Bank investasi global Standard Chartered melihat prospek jangka panjang Arbitrum cukup besar. Analis Standard Chartered Geoff Kendrick menilai jaringan layer-2 Ethereum tersebut berpotensi menjadi salah satu penerima manfaat utama dari meningkatnya penggunaan aset tokenisasi dan layanan keuangan onchain.

Dikutip dari Cointelegraph, Rabu (16/9/2026), Kendrick menyoroti model pendapatan Arbitrum. Jaringan ini memperoleh 10% dari pendapatan protokol bersih perusahaan yang membangun layanan di atasnya.

Salah satu contoh yang disoroti adalah Robinhood Chain, yang dikembangkan perusahaan pialang online Robinhood.

Kendrick memperkirakan Arbitrum menghasilkan pendapatan sekitar US$ 5 juta pada September, atau lebih dari lima kali lipat dibandingkan sebelum Robinhood Chain diluncurkan pada Juli.

“Pada ekonomi digital, pertumbuhan aktivitas di jaringan dapat memberikan dampak langsung terhadap ekonomi protokol,” tulis Kendrick.

Menurut Standard Chartered, Arbitrum tidak sekadar menjadi jaringan bagi pengguna kripto. Infrastruktur tersebut juga berpotensi menjadi fondasi bagi tokenisasi aset dan layanan keuangan onchain.

Model pembagian pendapatan tersebut menjadi salah satu dasar optimisme Standard Chartered terhadap prospek ekonomi Arbitrum dan token ARB.

Dua Risiko Utama

Arbitrum. (Ilustrasi by AI)

Standard Chartered menilai Robinhood Chain menjadi contoh awal bagaimana aktivitas sektor keuangan tradisional dapat memengaruhi pendapatan Arbitrum.

Kendrick menyebut kehadiran Robinhood Chain telah mengubah ekonomi Arbitrum secara “material”. Jika semakin banyak perusahaan membangun produk berbasis blockchain, pendapatan protokol Arbitrum berpotensi ikut meningkat.

Berdasarkan proyeksi tersebut, Standard Chartered memperkirakan harga ARB dapat mencapai US$ 10 pada 2030. Dari level saat ini, target tersebut setara dengan kenaikan sekitar 70 kali lipat.

Bank tersebut juga membandingkan potensi kinerja Arbitrum dengan Bitcoin dan Ether dalam periode yang sama. Dalam skenario yang digunakan Standard Chartered, Arbitrum berpotensi memberikan kinerja lebih tinggi secara risk-adjusted.

Namun, proyeksi tersebut memiliki sejumlah syarat. Kendrick menyoroti dua risiko utama, yakni pertumbuhan tokenisasi aset yang lebih lambat dari perkiraan dan meningkatnya persaingan dari jaringan blockchain lain.

Kedua faktor tersebut penting karena pertumbuhan pendapatan Arbitrum sangat bergantung pada semakin banyaknya perusahaan yang memilih menggunakan infrastrukturnya.

 

Prediksi Soal Chainlink

(ilustrasi kripto Chainlink by AI)

Proyeksi Standard Chartered juga bertumpu pada pertumbuhan real-world assets (RWA) yang ditokenisasi. Berdasarkan data RWA.xyz, nilai kumulatif aset dunia nyata yang telah ditokenisasi hampir mencapai US$ 39 miliar.

Kendrick kembali menegaskan proyeksi Standard Chartered bahwa nilai aset tokenisasi dapat mencapai US$ 4 triliun pada akhir 2028, seiring semakin banyak bank dan manajer aset membawa aset mereka ke jaringan blockchain.

Dalam skenario tersebut, Arbitrum berpotensi memperoleh manfaat karena memungkinkan perusahaan membangun jaringan layer-2 sendiri sekaligus mendapatkan bagian dari pendapatan protokol bersih.

Standard Chartered sebelumnya juga mengaitkan pertumbuhan RWA dengan prospek Chainlink dan sektor decentralized finance (DeFi) secara lebih luas.

Ke depan, perkembangan adopsi aset tokenisasi dan kemampuan Arbitrum menarik proyek-proyek besar menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Jika pertumbuhannya sesuai proyeksi, pendapatan protokol dapat meningkat dan mendukung prospek ARB.

Sebaliknya, perlambatan tokenisasi atau pergeseran proyek ke jaringan pesaing dapat mengubah proyeksi tersebut secara signifikan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya