Menyibak Misteri Segitiga Masalembo, Mengapa Perairan Ini Rawan Kecelakaan?

Masalembo menjadi alarm bahwa laut harus dipahami dengan sains, dipantau dengan data, dan diarungi dengan perencanaan serta kewaspadaan tinggi.

oleh Ahmad ApriyonoDiterbitkan 16 September 2026, 10:39 WIB
Daerah ini disebut penuh misteri karena kecelakaan serta peristiwa hilangnya kapal dan pesawat

 

Liputan6.com, Jakarta - Usai lagi-lagi menjadi titik lokasi terjadinya kecelakaan laut, perairan Masalembo di Laut Jawa, kembali dikait-kaitkan dengan beragam cerita mistis, bahkan disebut-sebut sebagai 'Segitiga Bermuda Indonesia'. Padahal jika ditelisik dari sisi sains, kawasan perairan yang menjadi titik lokasi tenggelamnya KM Virgo Transport dengan ratusan penumpang itu, punya fakta-fakta menarik untuk dipahami sebagai bagian dari sistem laut Indonesia yang kompleks.

Daryono, Anggota Ikatan Ahli Bencana (IABI), dalam paparannya, Rabu (16/9/2026) mengatakan, kompleksitas sistem laut di perairan Masalembo, tidak berarti wilayah perairan tersebut secara otomatis menjadi penyebab tunggal kapal tenggelam.

"Risiko pelayaran di kawasan ini lebih tepat dipahami sebagai hasil interaksi berbagai faktor, antara lain angin, gelombang, arus, pasang surut, kondisi atmosfer, batimetri, karakteristik kapal, muatan, serta keputusan dan prosedur navigasi," katanya.

Kawasan Masalembo sendiri, kata Daryono, berada dalam sistem perairan yang berhubungan dengan Laut Jawa, Selat Makassar, dan Laut Flores. Selat Makassar merupakan salah satu jalur penting Arus Lintas Indonesia (Arlindo) yang membawa massa air dari kawasan Pasifik menuju perairan Indonesia bagian selatan. Sementara itu, Laut Jawa dan Laut Flores memiliki karakteristik sirkulasi yang dipengaruhi konfigurasi kepulauan, pasang surut, serta perubahan musiman akibat sistem monsun.

"Artinya, kawasan ini bukan sekadar tempat 'bertemunya tiga laut', melainkan bagian dari sistem pertukaran massa air yang dinamis. Perbedaan temperatur, salinitas, densitas, kedalaman, dan arah arus dapat membentuk struktur laut yang kompleks, baik secara horizontal maupun vertikal," katanya.

Pada kondisi tertentu, perbedaan densitas antarlapisan dapat menghasilkan stratifikasi laut dan shear arus, yaitu perbedaan kecepatan atau arah arus antara satu lapisan dengan lapisan lainnya. Proses tersebut dapat berhubungan dengan turbulensi, pencampuran massa air, maupun fenomena gelombang internal.

"Namun, fenomena ini tidak boleh langsung dianggap sebagai penyebab kapal kehilangan daya apung atau kendali," ungkap Daryono.

Faktor Atmosfer

Faktor atmosfer juga sangat penting, kata Daryono. Masalembo berada dalam wilayah yang dipengaruhi sistem monsun Asia-Australia. Perubahan arah dan kecepatan angin dapat memengaruhi pembentukan serta propagasi gelombang. Dalam kondisi tertentu, gelombang yg datang dari arah berbeda dapat bertemu dan membentuk cross-sea, yaitu kondisi ketika terdapat sistem gelombang dari lebih dari satu arah.

"Cross-sea dapat meningkatkan gerakan kapal, terutama rolling (miring ke kiri dan kanan) dan pitching (mengangguk ke depan dan belakang), serta menambah beban dinamis pada struktur kapal," katanya.

Namun, pembentukan cross-sea tidak semata-mata disebabkan oleh 'benturan angin dengan arus'. Kondisi tersebut dapat terbentuk dari kombinasi gelombang lokal yang dibangkitkan angin dengan gelombang yang datang dari wilayah lain.

Selain faktor atmosfer, cuaca konvektif juga perlu diperhitungkan. Laut yang hangat menyediakan uap air dan energi bagi atmosfer, tetapi suhu permukaan laut yang tinggi tidak otomatis menghasilkan badai ekstrem. Diperlukan kondisi atmosfer lain yang mendukung pertumbuhan awan konvektif.

Ketika awan Cumulonimbus berkembang kuat, dapat terjadi hujan lebat, petir, downdraft, dan gust front. Hembusan angin yang berubah cepat, dapat menyebabkan kondisi laut berubah dalam waktu relatif singkat.

"Bagi kapal, perubahan mendadak pada angin dan gelombang dapat meningkatkan beban dan gerakan kapal. Kombinasi angin, gelombang, dan arus merupakan parameter penting yang perlu diperhatikan dalam pelayaran," katanya.

Selain kondisi atmosfer dan laut, kata Daryono, batimetri atau bentuk serta kedalaman dasar laut juga berpengaruh. Perubahan kedalaman dapat memengaruhi propagasi gelombang melalui proses seperti shoaling dan refraksi. Ketika gelombang memasuki perairan yang lebih dangkal, kecepatannya dapat berkurang dan karakteristiknya berubah.

Namun, perlu ditekankan bahwa perubahan kedalaman tidak selalu berarti tinggi gelombang akan meningkat secara drastis. Besarnya perubahan bergantung pada periode dan arah datang gelombang, kedalaman laut, bentuk dasar laut, pasang surut, serta kondisi arus setempat.

"Karena itu, kondisi laut yang berbahaya di Masalembo sebaiknya tidak dijelaskan dengan satu mekanisme tunggal. Risiko pelayaran merupakan hasil interaksi antara faktor lingkungan dan faktor manusia serta kapal," katanya.

Faktor lingkungan dapat berupa angin, gelombang, arus, pasang surut, cuaca konvektif, dan batimetri. Sementara itu, faktor kapal dan operasional meliputi stabilitas, distribusi dan pengamanan muatan, kondisi teknis, kecepatan pelayaran, kemampuan manuver, kompetensi awak, serta keputusan navigasi.

Dalam kondisi gelombang besar, misalnya, kapal dapat mengalami rolling dan pitching yang signifikan. Apabila stabilitas kapal terganggu atau terjadi pergeseran muatan, kondisi tersebut dapat menjadi semakin serius. Pada kapal Ro-Ro (kapal yang memungkinkan kendaraan masuk dan keluar kapal dengan cara dikendarai bukan diangkat menggunakan crane), pengamanan kendaraan dan muatan juga merupakan bagian penting dari keselamatan karena pergeseran muatan dapat memengaruhi stabilitas.

Meski begitu, Daryono mengingatkan, fenomena oseanografi dan meteorologi di perairan Masalembo tidak boleh dianggap sebagai kesimpulan penyebab kecelakaan Virgo Transport 8.

"Apa yang terjadi di perairan Masalembo merupakan faktor lingkungan yang secara fisik dapat memengaruhi kondisi pelayaran, tetapi kontribusi masing-masing faktor harus dibuktikan melalui data dan investigasi kecelakaan," ungkapnya.

Jangan Terjebak Penyebab Tunggal: Kondisi Alam

Daryono mewanti-wanti untuk menghindari anggapan bahwa semua kecelakaan di Masalembo disebabkan oleh faktor tunggal: kondisi alam. Kecelakaan kapal pada dasarnya merupakan peristiwa yang dapat melibatkan banyak faktor secara bersamaan. Investigasi yang baik harus melihat kondisi cuaca dan laut, kondisi kapal, muatan, stabilitas, mesin, navigasi, keputusan operasional, hingga faktor manusia.

"Masalembo tidak perlu dijelaskan sebagai wilayah mistis atau 'kuburan kapal'. Secara ilmiah, kawasan ini merupakan lingkungan laut yang dinamis dan kompleks," katanya.

Tantangannya sekarang, kata Daryono, bukan karena adanya kekuatan misterius, tetapi karena kondisi laut dan atmosfer dapat berubah serta berinteraksi dengan karakteristik kapal dan aktivitas pelayaran.

"Pelajaran terpenting dari Masalembo adalah, keselamatan pelayaran membutuhkan informasi cuaca dan laut yang aktual, perencanaan pelayaran yang baik, pemantauan kondisi kapal dan muatan, kesiapan awak, serta keberanian mengambil keputusan untuk menunda atau mengubah pelayaran ketika kondisi dirasa tidak aman," katanya.

Pada akhirnya Masalembo bukanlah misteri. Masalembo adalah pengingat bahwa laut harus dipahami dengan sains, dipantau dengan data, dan diarungi dengan perencanaan serta kewaspadaan tinggi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya