Liputan6.com, Jakarta - ASEAN Economist & Senior Vice President Global Economics and Markets Research UOB Indonesia, Enrico Tanuwidjaja menyebut pentingnya membangun kepercayaan domestik (domestic trust) dahulu sebelum menarik kepercayaan investor global, di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.
"Untuk reclaiming global trust, menurut saya, kita harus build domestic trust. Ini isu yang kita harusnya bahas hari ini lebih dalam," ujar Enrico, membuka UOB Media Circle 2026 bertajuk "Reclaiming Global Trust: Indonesia's Investment Agenda for a Volatile World" di UOB Plaza, Jakarta, Selasa (15/9/2026).
Advertisement
Menurut Indonesian Investment Authority (INA), Indonesia membutuhkan dana sekitar US$ 800 miliar atau Rp 14.144 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 17.680) untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8%. Target itu tidak bisa hanya mengandalkan investor domestik, melainkan juga memerlukan dukungan kuat dari investor asing.
Enrico turut membandingkan posisi Indonesia dengan negara-negara ASEAN lain yang memiliki spesialisasi ekonomi masing-masing, sehingga tidak semata bersaing memperebutkan investasi yang sama.
"Indonesia contohnya, kita rely on consumption domestic. Ini yang butuh trust. Makanya menurut saya ini penting sekali, sementara belanja pemerintah ini lagi digeser. Tapi kalau kita lihat ekonomi ASEAN lainnya, Vietnam, itu sangat bergantung pada electronics and export. Kalau AI demand turun, dia akan lemah, kita enggak langsung kena. Singapura juga, Malaysia juga. Filipina masih oke, karena dia services," katanya.
Masalah Perizinan dan Lahan Indonesia Sebagai Pertimbangan Investor
Sementara itu, Direktur Promosi Investasi Asia Tenggara, Australia, Selandia Baru dan Pasifik Kementerian Investasi dan Hilirisasi RI/BKPM, Saribua Siahaan menyampaikan, dua indikator utama yang selalu menjadi pertimbangan investor sebelum berinvestasi di Indonesia adalah kepastian perizinan dan kepastian lahan.
"Ada dua indikator besar yang selalu menjadi pertimbangan investor sebelum dia berinvestasi ke Indonesia, yang pertama masalah perizinan, yang kedua masalah lahan. Kalau dua hal ini sudah clear, artinya dia tinggal lihat domestik," ujarnya.
Ia menambahkan, pemerintah telah menetapkan 28 komoditas yang wajib industri di dalam negeri sebagai bagian dari strategi mendorong nilai tambah ekonomi domestik, dengan target pertumbuhan ekonomi mengarah pada 8% pada 2029.
Enrico turut menyoroti tren realisasi investasi asing langsung (FDI) yang sempat mengalami penurunan pada 2025, meski investor tetap menunjukkan optimisme jangka panjang.
"Direct investasi terakhir ya, 2025 itu ada sedikit pullback tapi jangan salah, mereka tetap optimis, cuma ya pindah jadi lebih ke arah yang nanti, jadi kayak future commitment of green energy lalu M&A itu meningkat," ujarnya.
"Menurut saya itu teratur sekali legalitas untuk kepastian hukum, kedatangan justru kita mesti mengikuti dengan eksekusi sebenarnya," ia menambahkan.
Di sisi lain, Head of Corporate Banking UOB Indonesia Edwin Kadir menekankan, kepastian regulasi menjadi kebutuhan utama dunia usaha saat ini, lebih dari sekadar mempertimbangkan naik-turunnya risiko bisnis yang sudah lazim diperhitungkan investor.
Investor Butuh Kepastian Predictability
"Satu hal yang mereka ingin kepastian adalah predictability dalam hal menjalankan usaha. Artinya kepastian dari sisi aturan, kepastian dari sisi menjalankan usaha," kata Edwin.
Ia menambahkan, kombinasi antara kepastian hukum dan kepastian usaha pada akhirnya akan menciptakan sustainable business framework yang melibatkan pemerintah, pelaku usaha, dan sektor perbankan sebagai satu kesatuan.
Enrico turut menyoroti pentingnya investor menahan keuntungan investasi di dalam negeri (reinvestment) sebagai indikator nyata keberhasilan membangun kepercayaan, alih-alih terus memulangkan keuntungan ke negara asal setiap kuartal.
"Kalau kita itu sukses, mereka akan tertahan di sini, otomatis, they will reinvest. Kalau enggak, ya sama aja, mereka investasi, sudah gitu. Itu we don't know," ujarnya.