Arvian dan Foto-Foto Arbas, Kenangan Masa Kecil Bersama Ayah

Arbas kerap menceritakan pengalaman jurnalistiknya kepada Arvian.

oleh Rifqy Alief AbiyyaDiterbitkan 15 September 2026, 17:43 WIB
Doa Arvian untuk sang ayah Arie Basuki yang hilang kontak di Selat Sunda (Foto: Rifqy/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah terik matahari Pantai Carita, ombak terus bergulung, lalu pecah di bibir pantai. Tak banyak wisatawan atau pengunjung kala itu. Di tepi laut, keluarga Jurnalis Foto Merdeka.com, Arie Basuki, berkumpul dan menundukkan kepala dalam doa. Mereka berharap, delapan orang yang hingga kini belum ditemukan segera memberikan kabar.

Embusan angin semakin kencang jelang siang. Namun doa yang dipanjatkan justru semakin khidmad. Tampak adik Arbas, sapaan akrab Arie Basuki, Lintang, khusyuk memanjatkan doa. Begitu pun Arvian, putra sulung Arbas juga tak luput mendoakan ayahnya yang hingga kini belum diketahui kabarnya.

Sesekali kedua matanya menatap lautan luas yang seolah tak berujung. Di tempat itu, mereka masih menanti kehadiran Arbas. Tatapan mereka tampak kosong, namun harapan tetap mereka genggam.

Setelah selesai berdoa, mereka tak langsung kembali ke penginapan. Keduanya memilih duduk sejenak di tepian pantai, tetap memanjatkan doa tanpa henti. Sesekali mereka berbincang satu sama lain, seolah tak ingin perbincangan tentang peristiwa sepekan lalu itu terhenti.

Arvian (26), menyimpan harapan penuh agar ayah yang dicintainya dapat kembali. Setidaknya, ada kabar dan kepastian mengenai keberadaan sang ayah setelah insiden hilang kontak saat meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau pekan lalu.

"Setidaknya ada hal yang jelas lah. Gimana, gimana-gimananya. Terus sebabnya seperti apa, analisisnya dari pihak resminya seperti apa," ungkap Arvian saat berbincang dengan Liputan6.com, Selasa (15/9/2026).

Arvian membawa harapannya itu dari jarak ratusan kilometer. Selama ini, dia memang tinggal dan bekerja di Surabaya sebagai konsultan. Dia sangat terkejut ketika mendapatkan kabar ayahnya hilang kontak di Selat Sunda bersama empat jurnalis dan tiga kru kapal lainnya. Arvian mengaku baru mendapat kabar mengenai hilangnya sang ayah pada Senin malam, sekitar pukul 21.00 hingga 22.00 WIB.

 

Komunikasi Terakhir Jelang Aksi Agustus

Doa Arvian dan pamannya menunggu kabar Arie Basuki yang hilang kontak di Selat Sunda (Foto: Rifqy/Liputan6.com)

Saat itu, ia bahkan tidak mengetahui bahwa ayahnya tengah berada di Selat Sunda untuk menjalankan tugas liputan. Tinggal berjauhan membuat komunikasi keduanya tidak terjalin setiap saat.

Terakhir kali Arvian mendapat kabar tentang pekerjaan sang ayah adalah saat Arbas meliput aksi demonstrasi di kawasan DPR pada 27 Agustus lalu. Sehari sebelumnya, keduanya sempat bertemu di kediamannya di Cinere, Depok.

“Nggak tahu (liputan Gunung Anak Krakatau). Terakhir, terakhir bilang liputan itu waktu aksi,” jelasnya.

Pertemuan singkat tersebut menjadi salah satu kenangan terakhir yang terus melekat di ingatan Arvian. Setelahnya, kabar tentang sang ayah justru datang pada situasi yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Sejak mendengar kabar tersebut, pikiran Arvian campur aduk. Ia selalu memantau pemberitaan dan perkembangan pencarian dari Surabaya, sembari berkomunikasi dengan ibu maupun pamannya, yang berada di lokasi.

Kondisi ini memengaruhi pekerjaannya. Namun, Arvian bersyukur karena terus mendapatkan dukungan dari teman kantor maupun atasannya. Mereka rutin menanyakan perkembangan dari peristiwa tersebut. Bahkan, rekan-rekannya turut membantu pekerjaan Arvian di tengah pekerjaan yang dikejar waktu. Dengan begitu, Arvian juga dapat fokus mengikuti perkembangan pencarian sang ayah.

Namun, mengikuti perkembangan pencarian dari kejauhan tidak cukup baginya. Arvian memutuskan datang langsung ke lokasi tempat sang ayah terakhir kali menjalankan tugas.

Minggu, 13 September 2026, Arvian bergegas menuju Posko SAR Nasional pencarian jurnalis dan kru kapal di Carita, Pandeglang, Banten. Namun, ia terlebih dahulu singgah di Yogyakarta untuk menjemput saudaranya, kemudian berangkat bersama.

Setibanya di Yogyakarta, rasa lelah sudah tak dapat dilawan. Ia menyempatkan istirahat sejenak. Baginya, istirahat selama dua jam sudah lebih dari cukup. Arvian kembali bergegas ke Pandeglang, meski sempat singgah di Bogor untuk menjemput saudara lainnya.

Selama perjalanan, Arvian mengaku mengandalkan kopi dan rokok untuk menahan kantuk. Ia terus berpacu dengan waktu agar bisa segera tiba di lokasi pencarian. Sebab, berdasarkan informasi yang diterimanya dari pamannya, yaitu harus sudah tiba di lokasi sebelum waktu magrib, Senin, 14 September 2026.

 

Nasihat Ayah dan Foto Penuh Kenangan

Perjalanan panjang itu kemudian mengingatkan Arvian pada sosok ayah yang sejak dulu terbiasa pergi jauh untuk liputan. Di sela cerita perjalanannya, Arvian mengenang beberapa momen bersama sang ayah. Menurutnya, liputan ke daerah bencana bukanlah hal baru bagi Arbas.

Sejak kecil, Arvian bahkan sudah terbiasa ditinggal sang ayah ketika harus menjalankan tugas jurnalistik, termasuk saat Arbas meliput bencana seperti tsunami Aceh 2004 hingga konflik perang di Libya.

Meski kerap kali mendapatkan tugas jauh, Arbas bukanlah orang yang menutup diri tentang pekerjaannya. Arbas kerap menceritakan pengalaman jurnalistiknya kepada Arvian. Bahkan, sang ayah sempat mengarahkan Arvian untuk kuliah di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) agar memperdalam ilmu jurnalistik. Walaupun Arbas sendiri bukanlah alumnus dari kampus tersebut.

“Aku dulu tuh sempat disuruh Papa ke IISIP,” ucapnya.

Cerita-cerita tentang pekerjaan Arbas rupanya tidak hanya tersimpan dalam ingatan Arvian. Sebagian juga masih tersimpan dalam bentuk foto. Kenangan tentang tugas sang ayah juga tersimpan dalam sejumlah foto yang dimiliki Arvian. Foto-foto tersebut bahkan sempat dibukukan.

"Dulu waktu 2004 tsunami itu, itu tuh kayak aku punya foto-fotonya Papa yang di liputan di sana itu," ungkapnya.

Bagi Arvian, foto-foto tersebut bukan sekadar kerja jurnalisitk. Di dalamnya, tersimpan kenangan tentang sosok ayah yang sejak dulu terbiasa pergi jauh menjalankan tugas.

Kini, ketika melihat kembali foto-foto tersebut, kenangan masa kecil tentang sang ayah kembali muncul.

"Kalau lihat foto-foto kayak gitu tuh kayak apa ya, ya namanya udah dewasa ya Mas, kayak pengen balik ke masa kecil," ujar Arvian.

Di tengah rindu yang menumpuk, Arvian hanya punya doa sederhana. Dia berharap sang ayah segera pulang. Tak perlu membawa karya jurnalistik yang baik, cukup cerita penenang tentang kabarnya yang baik-baik saja.

"Harapan saya cuma satu, kembali berkumpul dengan keluarga," ujar Arvian lirih.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya