Liputan6.com, Jakarta - Saham perusahaan teknologi melemah pada Senin, (14/9/2026) di bursa saham Asia. Hal ini setelah pemimpin perusahaan terkait lonjakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mendukung seruan memperlambat pengembangan di sektor itu. Hal ini di tengah peringatan hal itu dapat menimbulkan ancaman bagi umat manusia.
Mengutip the Strait Times, Senin pekan ini, penurunan di pasar saham diperparah lonjakan harga minyak. Hal ini setelah Arab Saudi menutup jalur pipa utama. Sementara itu, data inflasi Amerika Serikat (AS) tidak banyak mengubah harapan kalau the Federal Reserve (the Fed) akan menaikkan suku bunga pekan ini.
Advertisement
Saham produsen cip memimpin aksi jual di Asia. Hal ini setelah CEO Anthropic Dario Amodei pada 12 September menyerukan agar perusahaan-perusahaan AI mengatur laju pengembangan teknologi terdepan, atau mengoordinasikan perlambatan pengembangan teknologi itu. Hal ini untuk memungkinkan pemahaman yang lebih baik mengenai risiko yang muncul.
Salah satu kekhawatiran utama adalah apa yang disebut sebagai peningkatan diri secara rekursif (recursive self-improvement), yakni ketika AI mampu menciptakan generasi penerusnya sendiri.
"Jika dibiarkan tanpa kendali, hal ini bisa melampaui kemampuan kita untuk memahami dan mengendalikan sistem-sistem tersebut, sehingga pengembangannya harus dilakukan dengan sangat hati-hati, atau bahkan dipertimbangkan kembali," tulis Amodei.
Para pesaing utamanya, Sam Altman dari OpenAI dan Elon Musk dari xAI, secara terbuka mendukungnya. Musk bahkan menyatakan, "Dario benar."
Komentar-komentar tersebut muncul setelah seorang peneliti mengundurkan diri dari Anthropic karena kekhawatiran teknologi tersebut dapat lepas dari kendali manusia.
Peneliti lain, yang tidak mengundurkan diri, menyatakan secara terbuka, "kami benar-benar meyakini bahwa AI bisa membunuh seluruh umat manusia," dan memperkirakan kemungkinannya lebih besar dari "10% dalam satu dekade mendatang."
Meskipun Presiden AS Donald Trump menyuarakan penentangan terhadap pernyataan tersebut dan Ketua DPR Mike Johnson mengatakan "kita tidak perlu panik saat ini," para pelaku pasar tetap melepas kepemilikan saham teknologi mereka pada 14 September.
Indekks Kospi Memimpin Koreksi
Raksasa investasi teknologi yang terdaftar di bursa Tokyo, SoftBank, anjlok lebih dari 12%, sementara produsen cip Kioxia turun lebih dari 7% dan Advantest lebih dari 2%.
Saham perusahaan Korea Selatan, SK Hynix dan Samsung, juga mengalami penurunan tajam.
Indeks Kospi Seoul memimpin penurunan di pasar yang lebih luas, sementara bursa Tokyo, Shanghai, Taipei, dan Manila juga melemah.
Sebaliknya, kenaikan tercatat di bursa Sydney, Singapura, dan Hong Kong. Aksi jual ini juga dipicu oleh ekspektasi The Fed akan menaikkan biaya pinjaman pada 16 September dalam upaya mengatasi inflasi yang tetap tinggi, yang menurut data pekan lalu masih jauh di atas target bank sentral sebesar 2%.
"Pasar swap mengindikasikan adanya probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 92% dalam pertemuan The Fed, dengan asumsi pengetatan kumulatif sebesar 50 basis poin" hingga akhir tahun, ujar Chris Weston dari Pepperstone.
"Secara psikologis, siklus kenaikan suku bunga The Fed jarang menguntungkan aset berisiko, terutama jika imbal hasil obligasi pemerintah (Treasury), baik nominal maupun riil, mencapai level tertinggi baru dan pasar saham terus menghadapi tekanan jual setiap kali terjadi reli harga," ia menambahkan.
Sentimen Lain di Bursa Saham Asia
Sementara itu, Rodrigo Catril dari National Australia Bank menyatakan, keputusan untuk tidak menaikkan suku bunga akan menimbulkan risiko kredibilitas. Hal ini mengingat pasar sudah hampir sepenuhnya memperhitungkan adanya kenaikan, keputusan untuk mempertahankan suku bunga yang mengecewakan dapat memicu aksi jual obligasi pemerintah.
Harapan akan penurunan inflasi dalam waktu dekat terhambat oleh krisis di Timur Tengah, di mana harga minyak bertahan jauh di atas US$ 100 per barel.
Harga kedua kontrak minyak utama melonjak lebih dari 2% pada 14 September setelah Riyadh menutup jalur pipa Timur-Barat akibat serangan drone oleh kelompok pemberontak Houthi Yaman, sementara sebuah kapal dagang juga terkena serangan di Selat Hormuz.
Kelompok Houthi terus memperkuat cengkeraman mereka di Selat Bab el-Mandeb, sebuah koridor pelayaran vital yang menghubungkan Eropa dan Asia serta menjadi jalur alternatif selain Selat Hormuz.
Konflik ini menyebabkan rata-rata harga solar di AS menembus angka US$ 6 per galon pada 11 September untuk pertama kalinya, sebuah lonjakan harga yang mengejutkan bagi bahan bakar utama di sektor transportasi dan pertanian.
Di sisi lain, Oman menyatakan telah menunda pembicaraan antara Iran dan negara-negara Teluk mengenai masa depan jalur perairan strategis tersebut, yang merupakan rute vital bagi sebagian besar perdagangan minyak dunia melalui jalur laut.