Gunung Fuji Dilanda Cuaca Ekstrem, 6 Pendaki Meninggal Sepanjang Musim Pendakian

Di tengah meningkatnya risiko kecelakaan dan cuaca ekstrem, Gunung Fuji mempertimbangkan aturan lebih ketat bagi pendaki off-season.

oleh Alfareza RamadhaniDiterbitkan 14 September 2026, 14:00 WIB
Gunung Fuji terlihat dari kuil Arakura Fuji Sengen di kota Fujiyoshida, prefektur Yamanashi, pada Kamis (22/4/2021). Prefektur Yamanashi terletak di sebelah barat Tokyo yang memiliki spot-spot wisata terkenal, salah satunya gunung tertinggi di Jepang, Gunung Fuji. (Behrouz MEHRI / AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Musim pendakian Gunung Fuji di Jepang berakhir pada 10 September 2026 dengan catatan enam pendaki meninggal dunia. Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, meski pemerintah Jepang telah memperketat aturan untuk menekan praktik pendakian berbahaya di gunung tertinggi negara itu.

Hari-hari terakhir sebelum penutupan musim pendakian justru berlangsung dalam cuaca ekstrem. Hujan deras dan angin kencang menerjang sejumlah jalur, menunjukkan cepatnya perubahan kondisi alam di kawasan pegunungan.

Pada 9 September, polisi Prefektur Shizuoka menemukan dua pendaki dalam kondisi henti jantung dan paru-paru. Keduanya merupakan pria yang mendaki seorang diri, yakni warga Jepang berusia sekitar 50-an tahun dan pria yang diduga warga Thailand berusia 60-an tahun, melansir The Asahi Shimbun, Senin (14/9/2026).

Polisi tidak menemukan luka luar yang signifikan pada tubuh kedua korban. Kondisi cuaca ekstrem diduga menjadi salah satu faktor yang membuat mereka tidak mampu bertahan di tengah situasi tersebut.

Hujan deras mengguyur Gunung Fuji sejak 8 hingga 9 September. Curah hujan di sekitar Stasiun Kelima Jalur Gotemba mencapai 52 milimeter dalam satu jam pada malam hari.

Situasi serupa terjadi di jalur Fujinomiya. Hujan berintensitas tinggi turun dalam waktu singkat, sementara angin kencang menerpa lereng bagian atas gunung.

Kecepatan angin di sejumlah titik mencapai 80 hingga 90 kilometer per jam. Badan Meteorologi Jepang memperingatkan kondisi tersebut dapat membuat pendaki kesulitan berjalan

Aturan Ketat Belum Menghapus Risiko di Gunung Fuji

Seorang pria berjalan di bawah tori di kuil Arakura Fuji Sengen saat Gunung Fuji terlihat dari kota Fujiyoshida, prefektur Yamanashi, Jepang, pada Kamis (22/4/2021). Gunung Fuji merupakan gunung tertinggi di Jepang dengan tinggi sekitar 3.776 meter dari atas permukaan laut. (Behrouz MEHRI / AFP)

Pemerintah daerah Jepang telah memperketat aturan untuk membuat pendakian Gunung Fuji lebih aman. Kebijakan tersebut menyasar praktik bullet climbing, yakni mendaki sepanjang malam demi mencapai puncak saat matahari terbit tanpa waktu istirahat yang cukup.

Prefektur Yamanashi memasang gerbang di Stasiun Kelima sejak 2024 dan menetapkan biaya pendakian sebesar 4.000 yen atau sekitar Rp 460 ribu. Pembatasan akses pada malam hari kembali berlaku pada musim pendakian 2026.

Namun, jumlah pendaki justru mengalami peningkatan. Jalur Yoshida di sisi Yamanashi mencatat lebih dari 175 ribu pendaki, meningkat sekitar 20 persen dari tahun sebelumnya.

Petugas menilai kebijakan tersebut berhasil mengurangi pendaki yang melakukan bullet climbing serta mereka yang datang tanpa perlengkapan memadai.

Kondisi berbeda terlihat di sisi Shizuoka. Sebanyak 55 kecelakaan pendakian tercatat sepanjang Juli dan Agustus, disertai peningkatan jumlah pendaki yang mengalami cedera.

Cuaca Memaksa Pendaki Membatalkan Perjalanan ke Puncak

Nilai budaya dan inspirasi artistiknya yang mendalam menjadikan gunung ini tercatat sebagai Situs Warisan Budaya Dunia UNESCO pada tahun 2013. Tampak dalam foto, Gunung Fuji, gunung tertinggi di Jepang dengan ketinggian 3.776 meter (12.460 kaki), terlihat di balik daun-daun musim gugur dari kota Fujikawaguchiko, Prefektur Yamanashi, pada Senin 17 November 2025 pagi hari. (Caroline GARDIN/AFP)

Tidak semua pendaki memilih memaksakan perjalanan ketika kondisi Gunung Fuji memburuk. Seorang pria asal Inggris berusia 34 tahun bersama temannya sempat menunda pendakian akibat cuaca buruk sebelum kembali mencoba mencapai puncak pada 10 September.

Angin yang semakin kencang membuat keduanya mengubah rencana. Mereka memilih turun karena perjalanan menuju puncak dinilai terlalu berisiko untuk diteruskan dalam kondisi tersebut.

Keputusan serupa diambil seorang pria asal Prefektur Tottori yang mendaki bersama putranya. Keduanya harus mengurungkan niat mencapai puncak setelah cuaca tidak memungkinkan perjalanan dilanjutkan. "Anak saya yang mengatur seluruh perjalanan, dan ini adalah pertama kalinya saya mendaki Gunung Fuji," ujarnya.

Kekecewaan tetap terasa karena rencana mereka tidak berjalan sesuai harapan. Namun, pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa keselamatan harus menjadi prioritas ketika menghadapi perubahan kondisi alam di gunung.

"Memang mengecewakan, tapi kita tidak bisa melawan alam," katanya.

Pertimbangan Aturan Baru

Foto diambil pada 31 Agustus 2023 ini memperlihatkan pengunjung mendaki lereng Gunung Fuji, puncak tertinggi di Jepang dengan ketinggian 3.776 meter. Dengan jutaan pengunjung setiap tahunnya, Gunung Fuji bukan lagi tempat ziarah yang damai seperti dulu. (Mathias CENA/AFP)

Penutupan musim pendakian tidak menghentikan upaya pemerintah Jepang memperkuat keselamatan di Gunung Fuji. Prefektur Shizuoka kini mempertimbangkan aturan baru bagi pendaki yang tetap melakukan perjalanan di luar musim resmi.

Jalur menuju puncak ditutup selama off-season dan tidak mendapat perawatan seperti saat musim pendakian. Kondisi cuaca yang lebih sulit diprediksi, serta minimnya petugas di pondok gunung juga dapat menyulitkan proses penyelamatan ketika terjadi keadaan darurat.

Pemerintah daerah tengah membahas kewajiban bagi pendaki off-season untuk melaporkan rencana perjalanan pada pemerintah setempat sebelum memulai pendakian.

Menurut SoraNews24, aturan tersebut berpotensi mencakup biaya penyelamatan atau sanksi bagi pendaki yang mengabaikan kewajiban hingga membutuhkan pertolongan.

Prefektur Yamanashi juga disebut tengah mencari mekanisme untuk memberikan konsekuensi kepada pendaki di luar musim yang memerlukan operasi penyelamatan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya