Trump Desak Zelenskyy Hentikan Serangan ke Kilang Minyak Rusia

Pernyataan Trump disampaikan setelah harga rata-rata solar di AS mencetak rekor pada Jumat (11/9/2026), dengan menembus US$6 per galon.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 14 September 2026, 09:00 WIB
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada 3 Maret 2026.(Dok. AP/Mark Schiefelbein)

Liputan6.com, Washington, DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Minggu (13/9) meminta Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menghentikan serangan terhadap kilang minyak Rusia dan infrastruktur lain yang digunakan untuk memproduksi serta menyalurkan solar.

Menurut Trump, serangan-serangan tersebut ikut menyebabkan kelangkaan solar di pasar global.

Selama berbulan-bulan, Ukraina melancarkan serangan jarak jauh terhadap industri minyak dan gas Rusia. Serangan tersebut memicu penjatahan bahan bakar di berbagai wilayah Rusia dan mendorong Rusia melarang ekspor solar pada Juli, sehingga pasokan di pasar global yang sudah ketat semakin berkurang.

Namun, ketatnya pasokan global juga dipicu oleh perang Iran yang menghambat pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.

Kenaikan harga bahan bakar menjadi tekanan bagi warga AS menjelang pemilu paruh waktu pada November.

Trump kemudian ditanya wartawan apakah ia telah berbicara dengan Zelenskyy setelah percakapan terbarunya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Ia menjawab dengan meminta Zelenskyy menghentikan serangan terhadap Rusia.

"Zelenskyy harus melakukan satu hal. Dia harus berhenti melumpuhkan pasokan solar di Rusia," kata Trump kepada wartawan di sela-sela turnamen golf Irish Open yang digelar di klub golf miliknya di Doonbeg.

"Kami sudah berbicara dengan Zelenskyy mengenai hal itu. Ada banyak target lain. Jangan serang solar karena itu merugikan, itu merugikan dunia."

Ekspor Solar Negara-negara Teluk Anjlok Sejak Perang Iran

Menurut laporan Badan Energi Internasional (IEA) yang dirilis Jumat, ekspor bersih diesel dan gasoil dari negara-negara Teluk pada Agustus hanya mencapai sedikit lebih dari 25 persen dari volume sebelum perang terhadap Iran dimulai pada Februari.

"Gangguan terhadap sistem pengilangan Rusia dan hampir terhentinya ekspor produk minyak setelah serangan Ukraina semakin intensif turut memperparah berkurangnya pasokan tersebut," tulis IEA.

IEA menambahkan, pada Februari, gabungan ekspor bersih diesel dan gasoil dari negara-negara Teluk dan Rusia mencakup hampir 45 persen perdagangan global melalui jalur laut.

Sementara itu, menurut Ukraina, industri minyak Rusia tidak hanya menjadi sumber pendanaan perang, tetapi juga secara langsung memasok bahan bakar untuk mendukung invasi ke Ukraina yang telah berlangsung lebih dari empat tahun.

Dalam beberapa pekan terakhir, Rusia meningkatkan serangan udara terhadap Ukraina dengan menggunakan rudal balistik dan drone bermesin jet untuk menembus pertahanan negara tersebut.

Rusia turut menggempur jaringan listrik Ukraina menjelang musim dingin. Para pejabat Ukraina menilai serangan itu bertujuan melemahkan semangat warga sipil.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya