Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas Sepanjang Sejarah

Copernicus melaporkan Agustus 2026 tercatat sebagai bulan terpanas sepanjang sejarah. Seberapa ekstrem?

oleh IskandarDiterbitkan 14 September 2026, 06:30 WIB
Anak-anak sekolah menggunakan handuk katun di atas kepala mereka untuk melindungi diri dari terik matahari saat berjalan melintasi ladang kering di pinggiran Jammu, India, Rabu 20 Mei 2026. (AP Photo/Channi Anand)

Liputan6.com, Jakarta - Layanan pemantauan iklim Uni Eropa, Copernicus, melaporkan bahwa Agustus 2026 tercatat sebagai bulan terpanas sepanjang sejarah.

Mengutip NPR, Senin (14/9/2026), lonjakan suhu ekstrem ini didorong oleh kombinasi berbahaya antara perubahan iklim akibat aktivitas manusia dan fenomena El Nino berukuran raksasa.

Kondisi tersebut sekaligus mengukuhkan periode panas kali ini sebagai musim panas terpanas di Belahan Bumi Utara yang pernah dicatat oleh para ilmuwan.

Berdasarkan data Copernicus, rata-rata suhu global pada bulan lalu mencapai 16,96 derajat Celsius. Angka ini secara teknis melampaui rekor tertinggi sebelumnya pada Juli 2023 sebesar 0,01 derajat Celsius.

Namun, karena perbedaan tersebut berada dalam rentang tingkat ketidakpastian pengukuran, para ahli mengategorikannya sebagai rekor yang seimbang.

Suhu global pada Agustus tercatat 1,65 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan pada masa pra-industri. Angka ini jauh melampaui ambang batas jangka panjang 1,5 derajat Celsius yang ditetapkan dalam Perjanjian Iklim Paris 2015.

Data Copernicus juga menunjukkan bahwa delapan bulan terpanas yang pernah terekam di Bumi seluruhnya terjadi sejak Juli 2023.

 

Suhu Laut Mendidih

Kondisi ekstrem tidak hanya terjadi di daratan. Rata-rata suhu permukaan laut global pada Agustus menyamai rekor terpanas sepanjang masa yang sebelumnya dicatat pada Maret 2024. Bahkan, tanggal 22 Agustus ditetapkan sebagai hari terpanas yang pernah terekam di lautan dunia.

Pengamatan dari Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA) menunjukkan bahwa suhu rata-rata musim panas di wilayah AS melampaui puncak era Dust Bowl pada tahun 1936—salah satu periode kekeringan dan panas terparah dalam sejarah Amerika Serikat.

Rekor suhu harian dan bulanan yang terus tergeser ini menjadi indikator kuat bahwa laju perubahan iklim kian terakselerasi.

Dampak dari kenaikan suhu ini mulai mengganggu aktivitas harian secara nyata. Gangguan skala besar mulai terlihat di berbagai negara, seperti penutupan sekolah, beban berlebih pada fasilitas kesehatan, jalan raya yang meleleh, hingga rel kereta api yang melengkung akibat pemuaian ekstrem.

 

Bahan Bakar Fosil Jadi Pemicu Utama

Meski fenomena alam El Nino berkontribusi terhadap lonjakan suhu di Pasifik, para ilmuwan menegaskan bahwa pendorong utamanya adalah emisi gas rumah kaca dari pembakaran batu bara, minyak bumi, dan gas alam.

Fenomena El Nino diperkirakan hanya menyumbang sekitar 0,1 hingga 0,2 derajat Celsius terhadap kenaikan suhu global. Sebagian besar sisa panas ekstrem tersebut murni berasal dari aktivitas emisi manusia.

Para ahli memprediksi bahwa suhu global berpotensi terus merangkak naik, dengan peluang besar memecahkan rekor tahun terpanas dalam waktu dekat. Seiring meningkatnya suhu Bumi, frekuensi dan intensitas gelombang panas, badai, banjir, serta kebakaran hutan diproyeksikan akan menjadi jauh lebih berbahaya.

Krisis ini menuntut aksi nyata dari seluruh dunia. Tanpa langkah drastis untuk menghentikan ketergantungan pada bahan bakar fosil, rekor suhu panas dipastikan akan terus terlampaui dan membawa dampak ekonomi serta kemanusiaan yang jauh lebih berat di masa depan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya