Liputan6.com, Jakarta - Harga solar di Amerika Serikat (AS) mencapai US$ 6 per galon pada Jumat, (11/9/2026). Harga solar mencapai US$ 6 itu pertama kali dalam sejarah, seiring gangguan pasokan bahan bakar akibat perang di Ukraina dan Iran memicu kenaikan biaya transportasi di seluruh sektor ekonomi.
Mengutip CNBC, berdasarkan data AAA, pengemudi truk dan petani harus membayar sekitar 63% lebih mahal untuk mengisi tangki truk besar dan tractor dibandingkan periode sama tahun lalu. Kini, rata-rata harga nasional mencapai US$ 6,0556 per gallon.
Advertisement
Harga bahkan lebih tinggi di California, negara bagian dengan sektor pertanian terbesar di AS, yakni mencapai US$ 7,9827 per galon.
Biaya bahan bakar meningkat seiring lonjakan harga minyak mentah sebagai respons terhadap eskalasi tajam konflik antara AS dan Iran bulan ini. Harga kontrak berjangka minyak mentah AS sempat melampaui US$ 100 per barel pada Kamis untuk pertama kalinya sejak Mei. Kontrak tersebut telah mencatat kenaikan sekitar 20% sepanjang September.
"Solar merupakan tulang punggung ekonomi yang sesungguhnya, meskipun konsumen cenderung lebih memperhatikan harga bensin eceran," ujar Presiden Rapidan Energy, Bob McNally, dalam wawancara dengan program "The Exchange" di CNBC pada Selasa.
Kenaikan harga solar pada akhirnya dibebankan kepada konsumen melalui harga pangan, barang konsumsi, dan energi. Solar menjadi bahan bakar bagi truk, kereta api, dan kapal yang mengangkut barang ke pasar. Solar juga menggerakkan mesin-mesin yang digunakan petani untuk menanam dan memanen hasil bumi, serta digunakan untuk pemanas ruangan dan pembangkit listrik di beberapa wilayah.
"Ini adalah jenis bahan bakar yang dampaknya lebih tersembunyi, lebih mahal, dan lebih besar," kata McNally.
"Saat harga terus merangkak naik, hal ini menjadi kekhawatiran nyata,” ia menambahkan.
Bakal Tekan Ekonomi
Harga solar pada tingkat ini akan menjadi "pembunuh senyap" bagi perekonomian, kata Kepala Analisis Perminyakan di GasBuddy, Patrick De Haan, dalam wawancara dengan program "Power Lunch" di CNBC pada Selasa.
De Haan menuturkan, sementara itu, harga bensin belum pernah setinggi ini pada periode akhir tahun seperti sekarang. Harga bensin di SPBU sempat mencetak rekor tertinggi saat libur Hari Buruh (Labor Day) di US$ 4,15 per galon pada awal pekan ini. Warga Amerika Serikat kini menghabiskan sekitar US$ 700 juta lebih banyak per hari untuk bensin dan solar dibandingkan setahun yang lalu.
"Hal ini membuat konsumen terkejut melihat lonjakan harganya," kata De Haan.
Biaya bahan bakar meningkat karena perang di Iran dan Ukraina telah mengganggu pasokan global. Kyiv telah menggempur kilang-kilang minyak Rusia, memaksa Moskow melarang ekspor solar. Iran dan sekutu militan Houthi-nya di Yaman juga telah menyerang kilang-kilang milik sekutu AS di kawasan Teluk. Ekspor bahan bakar melalui Selat Hormuz terhambat akibat serangan Iran terhadap kapal-kapal tanker.
Kenaikan Harga Solar Jadi Tantangan Pemerintahan Trump
Chief Operating Officer Valero, Gary Simmons menuturkan, konflik di Eropa Timur dan Timur Tengah telah menghentikan operasi kilang dengan kapasitas sekitar 5 juta barel per hari, dalam panggilan pembahasan kinerja keuangan perusahaan penyulingan minyak AS tersebut pada 30 Juli.
Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow menuturkan, dunia telah kehilangan hampir 8% pasokan solarnya, sementara hanya tersedia sedikit kapasitas penyulingan cadangan untuk menutupi kekurangan tersebut.
Kepala Riset Komoditas RBC Capital Markets, Helima Croft menuturkan, kenaikan harga solar menghadirkan "tantangan besar" bagi pemerintahan Trump.
"Kilang-kilang minyak AS beroperasi pada tingkat utilisasi 98%, praktis tidak ada kapasitas cadangan yang tersisa," kata Croft pada 4 September 2026.