Bursa Saham Asia Hari Ini Lesu, Kospi dan Nikkei Pimpin Koreksi

Mengikuti wall street, bursa saham Asia Pasifik turun pada perdagangan saham Jumat, (11/9/2026).

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 11 September 2026, 08:54 WIB
Seorang wanita berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Jepang. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Asia Pasifik melemah pada perdagangan saham Jumat, (11/9/2026). Indeks saham acuan di Korea Selatan dan Jepang yakni Kospi dan Nikkei memimpin koreksi di bursa saham Asia.

Mengutip CNBC, pada awal sesi perdagangan, indeks Kospi di Korea Selatan turun 2,7%. Saham-saham SK Hynix dan Samsung Electronics masing-masing turun 4% dan 3,8%. Indeks Kosdaq merosot lebih dari 2%.

Indeks Nikkei 225 di Jepang turun 2,6%. Indeks Topix terpangkas 1,86%. Indeks ASX 200 di Australia tergelincir 1%.

Sementara itu, indeks Hang Seng terpangkas 1,4% dan indeks CSI 300 di Hong Kong turun 1,4%.

Kontrak berjangka saham atau stock futures tidak banyak berubah pada Kamis malam waktu setempat saat pelaku pasar menantikan laporan indeks harga konsumen Agustus 2026. Kontrak berjangka S&P 500 naik tipis. Kontrak berjangka terkait Dow Jones turun 11 poin. Sedangkan kontrka berjangka Nasdaq 100 naik tipis kurang dari 0,1%.

Pada sesi perdagangan regular, Dow Jones turun lebih dari 300 poin atau 0,6%. Indeks S&P 500 susut 0,6% dan indeks Nasdaq terpangkas 0,7%.

Dalam sepekan ini, tiga indeks acuan itu alami penurunan dalam empat hari berturut-turut. Selama sepekan, Dow diperkirakan mencatat penurunan sebesar 2,5%, sementara S&P 500 menuju penurunan 1,6%. Nasdaq juga diperkirakan akan turun sebesar 1,6%.

Pada Kamis, pasar saham tertekan oleh lonjakan harga minyak, di mana kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak melampaui US$ 100 per barel. Baik kontrak berjangka minyak AS maupun minyak mentah Brent internasional mencatatkan harga penyelesaian tertinggi sejak 19 Mei seiring berlanjutnya konflik antara AS dan Iran hingga bulan ketujuh.

Suku bunga obligasi juga melonjak seiring kenaikan harga minya. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun menembus angka 4,95%, mencapai level tertinggi sejak Oktober 2023.

 

 

Pelaku Pasar Cermati Data Ekonomi AS

Dalam file foto 11 Mei 2007 ini, tanda Wall Street dipasang di dekat fasad terbungkus bendera dari Bursa Efek New York. (Richard Drew/AP Photo)

Pada Kamis, para pelaku pasar juga mencermati indeks harga produsen (PPI) Agustus, sebuah indikator inflasi tingkat grosir. Indeks tersebut naik 0,4% secara bulanan dan meningkat 5,4% secara tahunan.

Perhatian kini tertuju pada data indeks harga konsumen (CPI) bulan Agustus yang akan dirilis pada Jumat. Para ekonom yang disurvei oleh Dow Jones memperkirakan kenaikan sebesar 0,4% secara bulanan dan tingkat inflasi tahunan sebesar 3,4%.

Laporan krusial ini akan menjadi bahan pertimbangan bagi keputusan Federal Reserve mengenai suku bunga pada 16 September. Menurut perangkat FedWatch dari CME Group, perdagangan kontrak berjangka fed funds mengindikasikan adanya kemungkinan sekitar 71% akan terjadi kenaikan suku bunga.

Ekonom Natixis CIB Americas, Christopher Hodge menuturkan, hasil laporan CPI akan menjadi faktor penentu apakah The Fed akan mempertahankan suku bunga atau menaikkannya pada pekan depan.

"Angka yang sesuai dengan konsensus akan menandai bulan keempat berturut-turut dengan data inflasi yang menggembirakan, sekaligus meredakan tekanan bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga pada bulan September," ujar dia.

"Jika angka inflasi lebih tinggi daripada konsensus, kami memperkirakan akan ada kenaikan suku bunga pada pertemuan pekan depan,” ia menambahkan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya