Liputan6.com, Jakarta - Seorang nelayan disebut sempat memperingatkan rombongan lima jurnalis dan tiga kru speedboat agar tidak buru-buru kembali ke Carita sebelum mereka hilang kontak di Selat Sunda. Peringatan tersebut disampaikan karena kondisi cuaca dan gelombang laut saat itu disebut sedang buruk.
Informasi ini disampaikan Relawan dan Pegiat Wisata Laut Lampung Selatan, Yodistara Nugraha berdasarkan komunikasi dengan seorang nelayan yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan nakhoda speedboat rombongan.
Advertisement
Menurut Yodistara, nelayan tersebut berpapasan dengan speedboat rombongan jurnalis di perairan Krakatau, tepatnya di sekitar Legon Cabe dan Pulau Panjang.
Saat itu, nelayan tersebut sedang berlayar dari Pantai Carita menuju kawasan Krakatau. Sementara rombongan jurnalis disebut tengah dalam perjalanan kembali menuju Pagedongan, Carita.
"Saya dan rombongan bertemu dengan nelayan itu hari Rabu kemarin di pinggir Pulau Panjang area Anak Krakatau. Kemarin hasil komunikasi kami, nelayan ini dari arah Pantai Carita menuju Krakatau dan bertemu rombongan jurnalis di kawasan Krakatau. Kebetulan nelayan ini masih ada hubungan kerabat dengan nakhoda yang ada di speedboat tersebut," kata Yodistara saat dikonfirmasi Liputan6.com, Kamis (10/9/2026).
Yodistara mengatakan, ketika berpapasan, nelayan tersebut sempat meminta rombongan jurnalis tidak langsung kembali ke Carita. Saat itu, kondisi gelombang di perairan Selat Sunda disebut cukup besar.
"Pesannya waktu itu, jangan pulang dulu karena cuaca sedang buruk. Nelayan itu sendiri juga mengaku saat perjalanan menuju Krakatau sudah menghadapi ombak besar," tuturnya.
Berpapasan Menjelang Magrib
Pertemuan antara nelayan dan rombongan jurnalis itu disebut berlangsung menjelang magrib pada Senin (7/9/2026), atau pada hari ketika rombongan tersebut dilaporkan hilang kontak.
Namun, setelah berpapasan, nelayan tersebut tidak mengetahui lagi arah perjalanan speedboat rombongan jurnalis. Ia baru mengetahui kapal tersebut belum kembali ke Pagedongan setelah mendapat informasi dari tim relawan.
"Setelah kami kasih tahu kalau kapal rombongan jurnalis belum kembali, nelayan itu terlihat sedih dan termenung. Karena memang ada hubungan kekerabatan dengan nakhoda yang ada di kapal itu," ungkap Yodistara.
Kondisi laut yang kurang bersahabat juga dirasakan langsung oleh Yodistara dan tim relawan ketika melakukan penyisiran.
"Ketika kami melakukan pencarian, ombak memang besar dan angin juga cukup kencang," ucapnya.
Karena mempertimbangkan keselamatan, tim relawan yang semula berencana menggunakan speedboat akhirnya menggantinya dengan kapal nelayan berukuran lebih besar.
"Kami awalnya mau menggunakan speedboat, tetapi melihat kondisi cuaca tidak memungkinkan, akhirnya kami ganti menggunakan kapal nelayan yang lebih besar dan panjang. Lebih safety," ujarnya.
Relawan Sisir Perairan Krakatau hingga Sebesi
Yodistara mengatakan tim relawan mulai melakukan pencarian sehari setelah menerima kabar hilangnya kontak rombongan. Sebanyak enam relawan dikerahkan setelah mempersiapkan personel dan logistik.
Penyisiran dilakukan di sejumlah titik, mulai dari Pulau Sertung, Gunung Anak Krakatau, Pulau Panjang, hingga Pulau Sebesi. Tim relawan juga berkoordinasi dengan Basarnas Lampung dan Polairud Polda Lampung untuk membagi wilayah pencarian.
"Kami berangkat dan koordinasi dengan Polairud dan Basarnas. Lokasi pencarian dibagi supaya area yang disisir lebih luas dan pencarian bisa maksimal," kata dia.
Meski demikian, kondisi laut membuat tim relawan tetap memperhitungkan faktor keselamatan selama melakukan pencarian.
"Kami punya SOP. Jangan sampai niatnya mencari, nanti malah kami yang dicari. Jadi keselamatan tim tetap menjadi pertimbangan," ujarnya.
Pencarian Hari Ketiga
Memasuki hari ketiga pencarian, Yodistara mengatakan tim masih mengumpulkan informasi dari jaringan nelayan di sejumlah wilayah. Koordinasi juga dilakukan dengan nelayan di Pulau Belimbing, Kabupaten Tanggamus, Lampung.
Informasi dari para nelayan tersebut diperlukan untuk memperhitungkan kemungkinan pergerakan speedboat maupun korban berdasarkan arah arus dan angin.
"Hari ini kami masih koordinasi dan mencari informasi dari teman-teman nelayan. Kemungkinan arah angin dan arus juga terus kami perhitungkan," katanya.
Yodistara memastikan upaya pencarian masih terus dilakukan bersama berbagai pihak dan jaringan nelayan di sejumlah wilayah.
"Kami tidak berhenti berupaya. Ini bentuk kepedulian dan rasa kemanusiaan. Kami terus berkoordinasi dengan semua pihak dan teman-teman nelayan untuk mencari informasi," tandasnya.