Minyak Jelantah Program MBG Disulap Jadi Bahan Bakar Pesawat

Pertamina Cilacap olah jelantah program MBG hingga rumah tangga jadi bahan bakar pesawat ramah lingkungan.

oleh Idris Rusadi PutraDiterbitkan 10 September 2026, 15:15 WIB
PT Pertamina Patra Niaga menyesuaikan harga khusus avtur di sejumlah bandara Angkasa Pura di Indonesia. (Foto: Pertamina)

Liputan6.com, Jakarta - Pertamina melalui Kilang Unit IV Cilacap tengah menjajaki pemanfaatan minyak goreng bekas atau jelantah dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Limbah minyak dapur ini nantinya bakal diolah menjadi bahan bakar pesawat udara ramah lingkungan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF). 

Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Kilang Cilacap, Hermawan Budiantoro, mengungkapkan bahwa pengumpulan limbah minyak goreng atau Used Cooking Oil (UCO) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta KDMP dijalankan melalui skema antarbisnis (business-to-business/BtoB).

"UCO nanti dikumpulkan dari SPPG, KDMP,” kata Hermawan di sela temu media nasional di Cilacap, Jawa Tengah, dikutip dari Antara, Kamis (10/9/2026).

Selain dari ekosistem MBG dan koperasi desa, Pertamina Cilacap juga menjaring pasokan UCO dari sektor hotel, restoran, kafe, hingga pemasok berskala besar seperti Gabungan Pengusaha/Pelaku Usaha Limbah Minyak Goreng Indonesia (Gapulimgi). Potensi pasokan dari asosiasi Gapulimgi sendiri terbilang fantastis, yakni diperkirakan mencapai 240 ribu hingga 300 ribu ton per tahun.

Sasar Limbah Rumah Tangga hingga Maskapai Asing

PT Pertamina Patra Niaga melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Soekarno-Hatta memasok 92.901 liter avtur ke pesawat Airbus A380 Emirates yang mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Dok PPN

Tak hanya mengandalkan jalur B to B, Pertamina juga membuka pintu bagi masyarakat luas melalui skema langsung ke konsumen (business-to-consumer/B to C). Lewat skema ini, warga atau komunitas dapat menjual jelantah rumah tangga mereka ke Pertamina seharga Rp6.000 per liter, sementara harga untuk skema BtoB diproyeksikan berada di atas angka tersebut.

Langkah ini memperkuat pijakan Indonesia dalam pengembangan bahan bakar penerbangan hijau. Produksi perdana SAF di dalam negeri telah bergulir pada Juli–Agustus 2025, menyusul kesuksesan uji coba penerbangan komersial bersama armada Garuda Indonesia Boeing 737-800 pada September 2023. 

Saat uji coba tersebut, Pertamina menggunakan campuran 2,4% minyak inti sawit yang telah melalui proses pemurnian, pemutihan, dan penghilangan bau (refined, bleached, and deodorized kernel oil/RBDPKO). Ke depan, Pertamina menargetkan porsi kandungan SAF dapat ditingkatkan hingga menyentuh 3 persen.

Kualitas SAF buatan dalam negeri ini juga telah mengantongi sertifikasi internasional International Sustainability and Carbon Certification (ISCC). Bahan bakar terbarukan ini pun sudah menyuplai kebutuhan penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta serta Bandara Ngurah Rai Bali, yang dimanfaatkan oleh maskapai nasional seperti Garuda Indonesia dan Pelita Air, hingga beberapa maskapai asing.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya