Laba Semester I 2026 Melesat, Gudang Garam Pastikan Tak Tambah Capex

Laba Gudang Garam (GGRM) melesat di semester I 2026 berkat efisiensi capex dan pelunasan utang. Manajemen bidik volume penjualan stabil di semester II.

oleh Thurfah Mahira AhnafDiterbitkan 10 September 2026, 12:40 WIB
Direksi PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dalam Public Expose Live 2026, Kamis (10/9/2026).

Liputan6.com, Jakarta - PT Gudang Garam Tbk (GGRM) menikmati momentum lonjakan laba bersih yang melesat tajam pada semester I 2026. Meski demikian, emiten produsen rokok ini enggan merinci target belanja modal (capital expenditure/capex) hingga akhir tahun.

"Target yang ada itu memang tidak kita umumkan, tetapi kita tentunya memiliki target,” ujar Direktur sekaligus Corporate Secretary Gudang Garam, Heru Budiman, dalam sesi tanya jawab Public Expose Live 2026 pada Kamis (10/9/2026).

Ia memastikan tidak ada rencana penambahan capex, baik untuk operasional pabrik rokok maupun pembangunan Bandara Dhoho tahun ini. Satu-satunya pos belanja modal yang masih berjalan adalah pembangunan jalan tol, dengan estimasi kebutuhan dana sekitar Rp 1 triliun hingga Rp 2 triliun sepanjang 2026.

Pengetatan capex ini dibarengi dengan perbaikan neraca keuangan perusahaan. Rasio gearing (perbandingan total liabilitas terhadap ekuitas) Gudang Garam membaik dari 30,7 persen menjadi 21,5 persen pada periode yang sama.

Pinjaman jangka pendek perusahaan juga turun Rp 5,205 miliar, sehingga total liabilitas perseroan anjlok 26,4 persen secara tahunan (year-on-year).

Kombinasi disiplin belanja modal dan pelunasan utang menjadi kunci lonjakan laba bersih Gudang Garam. Dengan menekan pinjaman hingga nyaris nol pada tanggal neraca, beban bunga perusahaan menyusut signifikan. Hal ini berhasil mendongkrak profitabilitas, meski pendapatan penjualan tergerus akibat penurunan volume akibat maraknya rokok murah dan ilegal.

"Kalau memang uang itu tidak diperlukan, ya tentunya akan dipertimbangkan untuk membayar dividen," kata Heru berhati-hati terkait kemungkinan pembagian dividen tambahan.

 

Strategi Harga dan Volume Penjualan

Heru menambahkan, perseroan tetap mencermati pergerakan kompetitor sebelum mengambil kebijakan harga.

"Kalau mereka naik dan kita memerlukan uangnya, kita akan mencoba menaikkan harga," tuturnya.

Namun, ia menegaskan risiko dari penyesuaian harga tersebut. "Kalau saya menaikkan harga terus, saya berhadapan dengan pesaing di kelas yang sama," ujarnya merujuk pada risiko menjadikan produk Gudang Garam sebagai rokok termahal yang dapat memicu konsumen beralih ke merek lain.

Menatap semester II 2026, Gudang Garam memasang target realistis agar penurunan volume penjualan dapat terhenti.

"Kita hanya bisa berharap volume itu tidak lagi mengalami penurunan," katanya.

Mengenai keberlanjutan pemulihan kinerja keuangan, Heru optimistis selama kondisi makroekonomi cenderung stabil. "Perbaikan di semester pertama ini diharapkan berlanjut di semester kedua,” pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya