Antisipasi Tsunami Dampak Erupsi Anak Krakatau, BNPB Cek Kesiapan Pesisir Banten

Pengecekan dilakukan di Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang, dan Kota Cilegon.

oleh SupriatinDiterbitkan 10 September 2026, 09:41 WIB
Penampakan Terkini Anak Krakatau dari KRI Lepu. Foto: @bpbdlampung

Liputan6.com, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengecek kesiapsiagaan tsunami di sejumlah wilayah pesisir Banten di tengah potensi dampak aktivitas Gunung Anak Krakatau. Pengecekan dilakukan di Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang, dan Kota Cilegon dengan mengacu pada indikator standar Tsunami Ready.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan tim Kedeputian Bidang Pencegahan BNPB telah melakukan penugasan sejak 6 September 2026. Tim berkoordinasi dengan pemerintah daerah, memantau kondisi wilayah terdampak, sekaligus memberikan asistensi kesiapsiagaan.

Menurut Berton, langkah tersebut dilakukan untuk memastikan pemerintah dan masyarakat di kawasan pesisir siap menghadapi potensi dampak aktivitas Gunung Anak Krakatau, termasuk bahaya tsunami. Pengecekan juga menyasar wilayah vital dan permukiman yang pernah terdampak tsunami Selat Sunda pada 2018.

"Penilaian kesiapsiagaan dilakukan di kawasan Tanjung Lesung, Desa Sumberjaya, dan Desa Panimbangjaya di Pandeglang, serta beberapa desa pesisir di Serang dan Cilegon, untuk memastikan berfungsinya sarana peringatan dini," kata Berton, Kamis (10/9/2026).

Di Kabupaten Pandeglang, tim BNPB mencatat menara sirene peringatan dini di Kecamatan Sumur dan Panimbang dalam kondisi siap operasi. Jalur evakuasi juga terpasang dengan baik dan simulasi bencana rutin digelar.

Meski demikian, alat Warning Receiver System (WRS) Gen di Tanjung Lesung masih dalam proses perbaikan.

Sementara di Kabupaten Serang, pemeriksaan dilakukan di Desa Salira, Karang Suraga, dan Desa Anyar. BNPB mencatat Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) dan relawan pantai aktif menjalankan perannya, didukung menara sirene serta peta evakuasi menuju titik aman yang berfungsi normal.

Untuk Kota Cilegon, peninjauan dilakukan di Kelurahan Kubangsari. BNPB memastikan terdapat standar operasional prosedur (SOP) peringatan dini, fasilitator kelurahan aktif menyebarkan informasi, serta sirene tsunami di area kantor kelurahan berfungsi dengan baik.

Berton mengapresiasi kolaborasi pemerintah daerah dan komunitas relawan dalam menjaga kesiapan infrastruktur peringatan dan pemantauan bencana. Menurut dia, kesiapan tersebut penting untuk mendukung keselamatan masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir.

Jejak Tsunami Dipicu Anak Krakatau

Gunung Anak Krakatau kembali erupsi dalam beberapa hari terakhir. Setelah mengalami erupsi yang berlangsung sekitar 25 jam pada akhir pekan, aktivitas vulkaniknya masih berlanjut secara berkala dengan mengeluarkan abu, lava, dan material pijar.

Gunung Anak Krakatau memiliki sejarah panjang dengan bencana tsunami di Selat Sunda. Salah satu yang paling dikenang terjadi pada 22 Desember 2018, ketika erupsi Anak Krakatau memicu longsoran lereng gunung ke laut dan kemudian menimbulkan tsunami di pesisir Banten dan Lampung.

Tsunami 2018 berbeda dengan tsunami yang umumnya dipicu gempa bumi. BMKG menyebut tsunami tersebut merupakan tsunami nontektonik yang terjadi akibat longsoran lereng Gunung Anak Krakatau ke laut setelah erupsi.

Sebelumnya, kawasan Selat Sunda juga pernah mengalami tsunami dahsyat akibat letusan Krakatau pada 1883. Catatan BMKG menyebut letusan tersebut memicu tsunami dengan ketinggian yang diperkirakan mencapai 30 hingga 40 meter di sejumlah wilayah. Sejarah tersebut menjadi alasan kesiapsiagaan masyarakat pesisir Banten terus diperkuat.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya