Liputan6.com, Jakarta - Di era ketika kekayaan fantastis selalu diidentikkan dengan teknologi canggih, AI, atau media sosial, kisah Reinhold Würth menyajikan sudut pandang yang berbeda. Pengusaha asal Jerman ini membuktikan bahwa menekuni produk industri dasar yang kerap dianggap 'membosankan' seperti baut, sekrup, dan alat teknik bisa melahirkan imperium bisnis global sekaligus membawanya masuk ke jajaran orang terkaya di dunia.
Mengutip laporan Forbes, Kamis (10/9/2026), Reinhold dan keluarganya kini mengantongi kekayaan bersih mencapai US$ 28,4 miliar atau sekitar Rp 496 triliun (kurs Rp 17.473 per US$). Capaian ini menempatkannya sebagai salah satu konglomerat manufaktur paling berpengaruh di Eropa.
Advertisement
Perjalanan bisnis Reinhold dimulai sejak usia yang sangat muda. Pada 1949, saat baru berusia 14 tahun, ia magang menjadi karyawan pertama di toko grosir sekrup kecil milik ayahnya, Adolf Würth, di Künzelsau, Jerman.
Takdir berubah drastis ketika sang ayah meninggal mendadak pada 1954. Di usianya yang baru 19 tahun, Reinhold terpaksa mengambil alih kendali perusahaan yang kala itu hanya menyisakan dua orang pekerja, yaitu dirinya dan sang ibu.
Meski diterpa cobaan di usia muda, Reinhold memimpin dengan visi yang tajam. Dilansir dari Standard, dalam kurun waktu tujuh dekade, pria yang dijuluki "The Screw King" ini berhasil menyulap bisnis keluarga bersahaja tersebut menjadi Würth Group. Kini, raksasa industri global itu menaungi lebih dari 400 perusahaan di 80 negara lebih, mempekerjakan puluhan ribu karyawan, dan mencetak pendapatan tahunan puluhan miliar euro.
Jemput Bola dan Layani Pelanggan
Keberhasilan Reinhold tidak didapat secara instan, melainkan lewat filosofi penjualan yang revolusioner pada zamannya. Dikutip dari Aure's Notes, saat pedagang lain hanya diam menunggu pembeli datang, Würth justru memilih bergerak aktif mendatangi langsung para kontraktor, bengkel, hingga pengrajin untuk memahami kebutuhan mereka.
Reinhold sangat menomorsatukan kepuasan pelanggan. Salah satu prinsip terkenalnya yaitu: "Kepuasan pelanggan saja tidak cukup, kita harus menginspirasi mereka!" Ia tak ingin perusahaannya sekadar menjual barang harian, melainkan menjadi mitra yang siap menyelesaikan berbagai masalah teknis konsumen.
Tak berhenti di situ, ia nekat mengepakkan sayap ke sektor manufaktur dan riset (R&D). Tak lagi cuma menjual barang orang lain, perusahaannya mulai memproduksi sekrup sendiri, mendaftarkan puluhan paten inovasi pengikat, hingga meluncurkan lini produk berkualitas tinggi. Dari Jerman, ia merambah pasar internasional secara agresif ke Eropa, Amerika Serikat, Afrika, hingga Asia.
Pelajaran Penting dari Sang Raja Sekrup
Keberhasilan bisnis Reinhold Würth bertumpu pada tiga pilar utama: fokus penuh pada layanan pelanggan lewat tim penjamin langsung, budaya kerja yang saling percaya dan menghormati, serta disiplin finansial jangka panjang. Sebagai perusahaan keluarga, keberlanjutan bisnis selalu diutamakan dibanding mengejar untung sesaat.
Di luar dunia industri, Reinhold juga dikenal luas di bidang sosial dan seni. Mengutip Forbes, ia merupakan kolektor yang mengumpulkan puluhan ribu karya seni berharga lewat Yayasan Würth, yang kemudian dipamerkan di museum miliknya agar bisa dinikmati masyarakat umum.
Kisah Reinhold Würth memberikan pelajaran berharga bagi dunia wirausaha. Kesuksesan finansial yang kokoh tak selalu lahir dari tren bisnis yang serba canggih. Lewat konsistensi, kedisiplinan, dan fokus mendalam pada produk sederhana yang dibutuhkan sehari-hari, sebuah toko kecil pun sanggup tumbuh menjadi raksasa dunia.