Ratusan Siswa di Pati Tumbang Usai Santap MBG

Ratusan siswa mengalami sejumlah keluhan yang sama. Yakni mulai dari mual, pusing, sakit perut, muntah hingga diare.

oleh Arief PramonoDiterbitkan 09 September 2026, 13:59 WIB
Antrean ambulans membawa siswa keracunan di Pati

Liputan6.com, Jakarta - Kepanikan luar biasa terjadi di lingkungan MTs Negeri 3 Pati dan SMP Negeri 1 di Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Ratusan siswa di dua sekolahan tersebut tumbang diduga keracunan.

Mereka mengalami gejala gangguan pencernaan secara massal, Rabu (9/9/2026) siang. Kondisi itu diduga terjadi usai mereka menyantap menu makan bergizi gratis (MBG) yang dibagikan di dua sekolah tersebut, Selasa (8/9/2026).

Ratusan siswa mengalami sejumlah keluhan yang sama. Yakni mulai dari mual, pusing, sakit perut, muntah hingga diare. Kondisi tersebut membuat sejumlah siswa harus dievakuasi menggunakan ambulans dan kendaraan kepolisian untuk mendapatkan penanganan medis.

Informasi dihimpun, awalnya MBG terlambat didistribusikan ke sekolah, Selasa (8/9/2026). Biasanya mobil pengantar MBG datang ke MTs Negeri 3 Pati dan diterima pukul 11.20 WIB.

Namun pada hari tersebut makanan baru tiba pukul 12.00 WIB. Kala makanan tiba, para siswa bergegas menyantap menu MBG, usai melaksanakan salat zuhur berjemaah di musala MTs Negeri 3 Pati.

Keluhan kesehatan tidak langsung dirasakan siswa MTs. Gejala mulai muncul pada Selasa sore hingga malam hari.

“Keluhannya (para siswa) mulai muncul sore sampai malam, ada yang mual, pusing, sakit perut, muntah dan diare,” ungkap Kepala MTsN 3 Pati, Zaenal Arifin, Rabu (9/9/2026).

Situasi pun semakin mengkhawatirkan pada Rabu pagi. Sebagian siswa masih datang ke sekolah, tetapi keluhan kesehatan kembali bermunculan. Aktivitas siswa menuju toilet bahkan disebut mengalami peningkatan cukup drastis.

Pihak guru MTs Negeri 3 Pati yang melihat kondisi siswa mereka, kemudian berkoordinasi dengan petugas kesehatan. Sejumlah ambulans dan kendaraan kepolisian dikerahkan membawa siswa yang mengalami keluhan menuju Puskesmas Gembong.

Karena jumlah pasien yang datang cukup banyak, Puskesmas Gembong mengalami kelebihan kapasitas. Sebagian siswa kemudian dirujuk ke RSUD RAA Soewondo Pati. Mereka menjalani pemeriksaan dan mendapatkan penanganan medis.

 

Murid di Pati keracunan usai santap MBG

Menu MBG Disantap Siswa

Menu MBG yang dikonsumsi para siswa meliputi nasi bakar ayam suwir, telur ceplok, orak-arik tempe dan lalapan. Selanjutnya ada kerupuk udang dan irisan buah semangka.

Sebelum munculnya keluhan kesehatan, kata Zaenal, sejumlah siswa sempat mengaku bahwa makanan MBG tersebut memiliki rasa yang enak. Bahkan, beberapa siswa disebut sempat menambah porsi makanan.

Namun demikian, pihak MTS Negeri 3 Pati belum dapat memastikan bahwa makanan MBG tersebut merupakan penyebab munculnya gangguan kesehatan yang dialami para siswa.

“Anak-anak ada yang bilang makanannya enak, bahkan ada yang menambah. Tapi itu belum bisa menjadi dasar untuk menyimpulkan penyebabnya,” terang Zaenal.

 

Dinkes Pati Telusuri Keracunan

Terpisah, Dinas Kesehatan Kabupaten Pati turun tangan ke lokasi untuk memantau proses evakuasi dan penanganan terhadap para siswa yang mengalami keluhan.

“Kami masih memantau evakuasi pasien (siswa sekolah), informasi lebih lanjut akan disampaikan selanjutnya,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pati, Luki Pratugas Narimo.

Petugas kesehatan hingga kini juga masih melakukan pemeriksaan dan pemantauan terhadap kondisi para siswa. Penyebab pasti dugaan keracunan setelah konsumsi MBG tersebut masih dalam penelusuran.

Kasus di Kecamatan Gembong Pati ini menjadi perhatian. Sebab terjadi di tengah pelaksanaan program MBG yang bertujuan meningkatkan pemenuhan gizi anak sekolah.

Peristiwa tersebut juga menyoroti pentingnya pengawasan keamanan pangan dalam setiap tahapan penyediaan makanan. Mulai dari pengolahan, pengemasan, penyimpanan hingga distribusi ke sekolah.

Program MBG diharapkan tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan nutrisi siswa. Namun juga memastikan setiap makanan yang diterima dan dikonsumsi anak-anak berada dalam kondisi aman serta memenuhi standar kesehatan.

Hingga saat ini, pihak berwenang masih melakukan pemantauan terhadap para siswa dan penelusuran untuk mengetahui penyebab pasti munculnya gangguan kesehatan tersebut.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya