Kekeringan Ekstrem Pati: Bangkai Sapu-Sapu Berserakan

Bangkai sapu-sapu berserakan di sungai yang mengering.

oleh Arief PramonoDiterbitkan 09 September 2026, 12:11 WIB
Bangkai ikan sapu-sapu di sungai Pati

Liputan6.com, Jakarta - Bencana kekeringan di Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah mulai menjadi persoalan serius. Debit Sungai Silugonggo menyusut dan Bendung Karet Sungai Juana mengering.

Parahnya lagi, tanah di sejumlah titik bantaran sungai retak dan ambles. Sedangkan tumpukan bangkai ikan sapu-sapu menebarkan bau menyengat yang mengganggu.

Warga berharap aliran air dari waduk kembali dibuka, sehingga sisa cadangan air mengisi Sungai Juana dan airnya dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian di sekitar lokasi.

 

"Permintaan kami, air dialirkan lagi untuk pertanian dan bau bangkai ikan tertangani," kata Sekretaris Desa Bungasrejo, Luwito Kito, Rabu (9/9/2026).

Menurut Luwito, bau bangkai ikan harus segera ditangani. Sebab dikhawatirkan menimbulkan dampak lingkungan dan kesehatan jika dibiarkan terlalu lama.

Dampak menyusutnya debit air juga terlihat di sepanjang Sungai Silugonggo. Di sejumlah titik wilayah Kecamatan Pati dan Kecamatan Jakenan, tanah di tepian sungai mengalami retakan hingga ambles.

Salah satunya terjadi di Dukuh Sampang, Desa Tondomulyo. Tanah di pinggir Sungai Silugonggo ambles hingga sekitar 1,5 meter sejak Sabtu (22/8/2026) lalu.

Retakan tanah membentang cukup panjang. Warga memperkirakan total retakan mencapai 40 hingga 50 meter. Sementara kondisi paling parah berada pada bentangan sekitar 25 meter.

Sudarno, warga setempat mengatakan, amblesnya tanah turut berdampak pada bangunan punden dan pompa air irigasi. Pompa tersebut kini tidak dapat digunakan untuk mengalirkan air ke lahan pertanian.

"Fasilitas pompa air tidak bisa berfungsi dan tidak bisa untuk mengairi sawah petani-petani," tutur Sudarno.

Bagi kalangan petani Kecamatan Jakenan, rusaknya pompa irigasi menjadi persoalan serius. Di tengah kondisi sungai yang debit airnya terus menyusut, akses terhadap sumber air untuk sawah semakin terbatas.

 

Tujuh Ruko Ambles

Persoalan serupa terjadi di Dukuh Guyangan, Desa Purworejo, Kecamatan Pati. Tanah di kawasan bantaran Sungai Silugonggo kembali ambles. Hal itu menyebabkan kerusakan pada talud pembatas sungai.

Peristiwa tersebut terjadi sejak Selasa (25/8/2026). Kedalaman tanah yang ambles bervariasi, mulai 50 sentimeter hingga mencapai dua meter.

"Selain merusak talud, sedikitnya tujuh ruko yang berada di sepanjang area sungai turut terdampak, " ucap Kepala Desa Purworejo, Duwi Sumaryono.

Kerusakan talud beton pembatas Sungai Silugonggo, kata doa, bahkan membentang hingga sekitar 400 meter. Beruntung, kejadian tersebut tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka-luka.

"Dalam kejadian tersebut tidak ada korban jiwa, luka-luka maupun korban dari rumah penduduk, hanya pagar/talud beton pembatas Sungai Silugonggo yang mengalami kerusakan sepanjang sekitar 400 meter," benernya.

Rangkaian kejadian tersebut menunjukkan dampak kekeringan di Pati mulai meluas. Bukan hanya persoalan berkurangnya air untuk pertanian, namun juga memunculkan persoalan lingkungan. Selain itu, gangguan aktivitas warga, kerusakan fasilitas irigasi hingga ancaman terhadap infrastruktur di sepanjang bantaran sungai.

 

Sungai di Pati mengering

Bangkai Ikan Dievakuasi

Menanggapi keluhan warga, Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekretaris Daerah Jawa Tengah, Urip Sihabudin, mengaku telah mengecek kondisi Bendung Karet Sungai Juana dan bertemu dengan warga serta perangkat desa.

Menurut Urip, ada dua persoalan utama yang disampaikan masyarakat. Yakni bau bangkai ikan sapu-sapu dan permintaan agar aliran air dari waduk kembali dialirkan ke sungai untuk memenuhi kebutuhan pertanian.

"Intinya, masyarakat mengharapkan sungai ada air kembali, sehingga bisa dimanfaatkan dan juga menghilangkan dampak bau dari ikan sapu-sapu," kata Urip, Rabu (9/9/2026).

Untuk mengatasi bau menyengat, bangkai ikan sapu-sapu segera dipindahkan dan dikuburkan di lahan kosong di sekitar Bendung Karet. Proses tersebut diperkirakan membutuhkan waktu sekitar satu pekan. Karena harus menggunakan alat berat untuk menggali lokasi penguburan.

"Ada lahan kosong. Bangkai nanti dikubur agar bau tidak lagi mengganggu," imbuh Urip.

Sementara itu, permintaan warga agar aliran air kembali dibuka masih membutuhkan koordinasi dengan instansi yang berwenang mengatur sumber air. Diharapkan, persoalan tersebut dapat segera ditindaklanjuti agar kebutuhan air untuk pertanian sekaligus persoalan kekeringan di kawasan sungai dapat tertangani.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya