Liputan6.com, Jakarta - PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) membukukan penguatan kinerja sepanjang semester I 2026, meski dibayangi kenaikan biaya operasional dan tantangan cuaca ekstrem di sejumlah wilayah tambang. Emiten ini mencatatkan laba bersih US$ 110 juta atau Rp 1,9 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 17,560), tumbuh 17% dibandingkan periode sama 2025.
Pertumbuhan laba ini ditopang pendapatan perusahaan yang naik 9% year-on-year menjadi US$ 1 miliar atau Rp 17,5 triliun, hasil kombinasi antara naiknya volume penjualan sebesar 5% menjadi 12,3 juta ton dan penguatan harga jual rata-rata (ASP) sebesar 4% menjadi USD 81 per ton.
Advertisement
Capaian ini justru terjadi di tengah volume produksi yang sedikit menurun. ITMG mencatat produksi batu bara sebesar 9,9 juta ton pada semester pertama 2026, turun 5% dibandingkan periode yang sama 2025. Artinya, pertumbuhan laba lebih banyak didorong oleh efisiensi dan strategi penjualan, bukan semata kenaikan volume tambang.
Presiden Direktur ITMG, Mulianto, menyebut pencapaian ini sebagai bukti ketahanan perusahaan menghadapi dinamika pasar.
"Peningkatan volume penjualan dan harga jual rata-rata memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan pendapatan dan laba," ujar Mulianto.
Ia menambahkan, pihaknya terus memperkuat disiplin biaya sembari meningkatkan efisiensi dan produktivitas operasional demi menjaga kinerja perusahaan secara berkelanjutan.
ITM juga memiliki neraca keuangan yang sangat sehat. Rasio utang terhadap ekuitas alias debt to equity perusahaan hanya berada di level 0,01 kali, dengan net gearing minus 37%, yang artinya ITMG punya kas jauh lebih besar dibandingkan total pinjamannya.
Target Produksi
Total aset perusahaan per 30 Juni 2026 tercatat US$ 2,417 miliar atau Rp 42,4 triliun. Perseroan kantongi kas dan setara kas mencapai US$ 738 juta atau Rp 12,95 triliun.
Sementara itu, pembayaran royalti ke pemerintah naik 7% secara tahunan menjadi US$ 111 juta atau Rp 1,9 triliun, sejalan dengan naiknya volume penjualan batu bara perusahaan ke sejumlah negara tujuan ekspor utama seperti Tiongkok, Jepang, dan Indonesia sendiri.
Untuk sisa tahun 2026, ITM menargetkan produksi tahunan di kisaran 22-22,9 juta ton dengan target penjualan 26,9-27,5 juta ton, sebagian besar harganya sudah terkunci lewat kontrak fixed price maupun mengikuti indeks pasar.
"Untuk target produksi tahun ini, sebesar 22 juta ton sampai dengan 22,9 juta ton," ucap Direktur ITMG, Yulius Kurniawan.