Liputan6.com, Jakarta - Ferrari Luce EV menjadi salah satu mobil listrik yang paling banyak diperbincangkan di kalangan pencinta otomotif dunia. Selain menjadi mobil listrik perdana Ferrari, kendaraan yang dibanderol sekitar USD 639.000 atau setara Rp 10,1 miliar tersebut juga menuai perhatian berkat bahasa desainnya yang terbilang tidak biasa.
Desain Ferrari Luce EV sendiri diketahui mendapat sentuhan dari Jony Ive, mantan desainer Apple yang dikenal sebagai sosok di balik sejumlah produk ikonik iPhone. Ketika perdebatan mengenai desain mobil listrik tersebut masih berlangsung, industri aftermarket justru sudah bergerak cepat menyiapkan berbagai ide modifikasi.
Advertisement
Salah satu yang paling menarik datang dari Vossen Wheels. Produsen pelek asal Amerika Serikat tersebut memperlihatkan kreasi digital Ferrari Luce EV dengan tampilan yang jauh lebih agresif dibandingkan versi standarnya.
Berdasarkan informasi yang dikutip dari Carscoops, Jumat (11/9/2026), Vossen mengubah karakter visual Ferrari Luce EV melalui kombinasi pelek berdesain unik, bodi yang dibuat lebih ceper, serta perangkat aerodinamika berukuran besar.
Perubahan paling mencolok terlihat pada bagian kaki-kaki. Vossen membekali Ferrari Luce EV dengan velg duoblock seri G2-13T yang tersedia dalam ukuran 18 hingga 22 inci.
Desain velg tersebut mengusung gaya aerodisc yang sekilas mengingatkan pada mobil reli. Namun, bagian lingkar tengahnya justru menciptakan visual yang menyerupai bingkai lensa kamera pada iPhone.
Uniknya, elemen tersebut terasa cukup selaras dengan karakter desain Ferrari Luce EV yang futuristis. Bahkan, aksen tersebut seolah menjadi penghubung visual antara mobil listrik Ferrari dengan latar belakang desain Jony Ive yang identik dengan produk-produk Apple.
Dibuat Slammed, Ferrari Luce EV Jadi Makin Agresif
Tidak hanya mengganti pelek, Vossen juga membuat Ferrari Luce EV terlihat jauh lebih rendah alias slammed. Jarak bodi dengan permukaan aspal dibuat sangat minim sehingga memberikan kesan lebih agresif dan ekstrem.
Untuk memperkuat tampilan, bagian eksterior juga mendapatkan sejumlah perangkat aerodinamika tambahan. Di antaranya adalah splitter depan baru, side skirt yang dibuat lebih lebar, serta diffuser belakang berukuran jumbo.
Bagian buritan menjadi semakin mencolok berkat penggunaan fixed rear wing atau sayap belakang permanen berukuran besar.
Penggunaan sayap seperti ini terbilang cukup berani untuk sebuah Ferrari. Pasalnya, Ferrari selama ini dikenal cukup konservatif dalam menyematkan perangkat aerodinamika berukuran besar pada model jalan raya mereka.
Meski tampil ekstrem, kreasi Vossen tersebut masih berupa rekaan digital atau render. Artinya, belum ada kepastian bahwa paket modifikasi ini akan benar-benar diproduksi dan ditawarkan kepada konsumen Ferrari Luce EV.
Namun, kehadiran render tersebut menunjukkan betapa cepatnya industri aftermarket merespons kemunculan mobil listrik performa tinggi.
Ferrari Luce EV sendiri baru dijadwalkan mulai dikirim kepada konsumen di Eropa pada akhir 2026. Setelah itu, distribusinya akan berlanjut ke sejumlah pasar global sepanjang 2027.
Dengan harga mencapai miliaran rupiah, Luce EV jelas bukan mobil listrik yang ditujukan untuk konsumen umum. Namun, bagi pemiliknya yang ingin tampil berbeda, kreasi seperti milik Vossen bisa menjadi gambaran bagaimana mobil listrik mewah tersebut dapat dipersonalisasi.
Terlepas dari kontroversi desainnya, Ferrari Luce EV membuktikan bahwa elektrifikasi tidak serta-merta menghilangkan daya tarik sebuah supercar. Bahkan sebelum unitnya beredar luas di jalan raya, mobil listrik perdana Ferrari ini sudah menjadi kanvas bagi para pemain aftermarket untuk bereksperimen dengan desain yang lebih ekstrem.