Liputan6.com, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi delapan bandar udara kembali membuka operasional penerbangan setelah hasil pengujian paper test menunjukkan tidak adanya paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK), Selasa (8/9/2026).
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, BMKG melakukan pengujian paper test secara berkala di sejumlah titik untuk melengkapi pemantauan citra satelit dan data meteorologi penerbangan.
Advertisement
Pengujian tersebut dilakukan guna memastikan kondisi keamanan udara sebelum pengelola bandara membuka kembali operasional penerbangan.
“Hasil pengamatan paper test per pukul 06.00 WIB menyatakan bahwa delapan bandara yang sebelumnya ditutup operasionalnya dinyatakan negatif dari paparan abu vulkanik. BMKG tetap memantau pergerakan abu secara real-time agar seluruh penerbangan berjalan aman,” kata Faisal dalam keterangannya, Selasa (8/9/2026).
Menindaklanjuti hasil pemantauan tersebut, Perum LPPNPI atau AirNav Indonesia menerbitkan Notice to Airmen (NOTAM) yang menyatakan delapan bandara telah kembali beroperasi.
Rinciannya, Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang dibuka kembali sejak pukul 00.30 WIB, disusul Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta pada pukul 00.40 WIB dan Bandara Husein Sastranegara di Bandung pada pukul 00.42 WIB.
Selanjutnya, Bandara Budiarto Curug di Tangerang kembali beroperasi mulai pukul 01.25 WIB dan Bandara Pondok Cabe di Tangerang Selatan pada pukul 01.28 WIB.
Sementara itu, Bandara Muhammad Taufik Kiemas di Sumatra Selatan dibuka kembali pada pukul 09.31 WIB, Bandara Radin Inten II di Lampung pada pukul 09.45 WIB, serta Bandara Salakanagara Tanjung Lesung di Banten pada pukul 09.50 WIB.
Pergerakan Abu Anak Krakatau
Sejalan dengan itu, Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani menjelaskan, BMKG terus memantau pergerakan abu vulkanik yang secara umum berada pada ketinggian hingga 7.000 kaki atau sekitar 2,13 kilometer.
Abu tersebut bergerak ke arah selatan-barat daya, mencakup sebagian wilayah Banten bagian barat laut dan Samudra Hindia di barat laut Banten.
Pergerakan abu pada 8 September 2026 pukul 09.00 WIB diperkirakan memiliki kecepatan 5–10 knot atau sekitar 9,3–18,5 kilometer per jam.
“Pantauan cuaca di sekitar GAK dan perairan Selat Sunda cenderung cerah hingga cerah berawan dari pagi hingga malam hari,” ujar Andri.
Sementara itu, Plh. Deputi Bidang Geofisika BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan, pemantauan melalui 20 tsunami gauge dan HF Radar Array di Carita serta Tanjung Lesung tidak menemukan anomali gelombang muka air laut. Dengan demikian, probabilitas tsunami berada dalam kategori rendah, yakni di bawah 50 persen.
BMKG juga memprakirakan tinggi gelombang di wilayah sekitar Selat Sunda berkisar 0,5–3 meter dalam tujuh hari ke depan, yakni pada 8–13 September 2026.
"Hingga pagi ini, tidak terdeteksi anomali kenaikan tinggi muka air laut ataupun perubahan pola arus permukaan secara signifikan yang mengindikasikan akan terjadinya tsunami," kata Ardhasena.