Liputan6.com, Jakarta - Erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) tak hanya berdampak pada penerbangan dan warga di sekitar Selat Sunda. Aktivitas vulkanik tersebut juga mulai memengaruhi kehidupan nelayan di Kabupaten Lampung Selatan.
Hasil tangkapan ikan nelayan dilaporkan menurun drastis setelah material vulkanik dari erupsi Anak Krakatau masuk ke perairan Selat Sunda. Kondisi itu membuat pendapatan nelayan anjlok hingga 70 persen.
Advertisement
Air laut di sejumlah wilayah tangkap nelayan kini terlihat lebih keruh. Selain kesulitan mendapatkan ikan, nelayan juga menghadapi risiko lebih besar saat melaut di tengah aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang masih berlangsung.
Meski kondisi perairan mengkhawatirkan, sebagian nelayan tetap melaut. Mereka mengaku tidak memiliki banyak pilihan karena harus mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Salah seorang nelayan di Dermaga BOM Kalianda, Tatang, mengaku kondisi di tengah laut dalam beberapa hari terakhir cukup mengkhawatirkan. Namun, kebutuhan rumah tangga membuatnya tetap berangkat mencari ikan.
"Di tengah laut memang terasa sangat mengkhawatirkan. Tapi kebutuhan rumah tangga harus dipenuhi, mau bagaimana lagi kami tetap harus berangkat," kata Tatang, Selasa (8/9/2026).
Menurut Tatang, hasil tangkapan nelayan dalam beberapa hari terakhir mengalami penurunan tajam. Bahkan, sejumlah nelayan yang menggunakan perahu kecil seperti klotok dan ketinting terpaksa kembali ke dermaga tanpa membawa hasil.
Beban Makin Berat
Kondisi tersebut membuat beban nelayan semakin berat. Mereka tetap harus mengeluarkan biaya untuk membeli bahan bakar dan memenuhi kebutuhan selama melaut, meski tidak mendapatkan pemasukan dari hasil tangkapan.
Nelayan lainnya, Dodo, mengaku dirinya dan sejumlah rekannya bahkan terpaksa berutang kepada juragan setelah beberapa kali pulang tanpa membawa hasil.
"Dua hari ini kami terpaksa berutang kepada juragan untuk menutupi kebutuhan bahan bakar dan makan, karena pulang kosong," ujar Dodo.
Dampak erupsi Gunung Anak Krakatau juga mulai terlihat dari menurunnya aktivitas nelayan di sejumlah dermaga di Kabupaten Lampung Selatan.
Sebagian nelayan memilih menunda aktivitas melaut karena khawatir dengan kondisi perairan Selat Sunda. Sementara sebagian lainnya tetap mencari ikan meski harus menghadapi risiko dan hasil tangkapan yang jauh berkurang.