Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah tipis pada perdagangan Selasa (8/9/2026). Meski demikian, rupiah diperkirakan berpeluang menguat seiring membaiknya mayoritas mata uang kawasan, terutama yen Jepang.
Mengutip data perdagangan, rupiah dibuka turun 5 poin atau 0,03 persen menjadi 17.645 per dolar AS. Posisi ini melemah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level 17.640 per dolar AS.
Advertisement
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova memperkirakan rupiah akan menguat tipis pada perdagangan hari ini. Pergerakan tersebut terutama didorong oleh membaiknya mata uang di kawasan Asia serta pelemahan indeks dolar AS.
“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan menguat tipis dipengaruhi oleh menguatnya mayoritas mata uang kawasan, terutama yen Jepang seiring melandainya index dollar,” ujarnya dikutip dari Antara.
Pergerakan yen Jepang menjadi salah satu perhatian utama pasar. Mengutip Xinhua, yen sempat menguat hingga ke kisaran 155 per dolar AS.
Penguatan tersebut terjadi di tengah spekulasi bahwa Bank of Japan (BoJ) akan menaikkan suku bunga dalam pertemuan kebijakan pada pertengahan bulan ini. Ekspektasi tersebut mendorong pembelian yen di pasar valuta asing.
Kenaikan yen juga memunculkan spekulasi bahwa selisih suku bunga antara Jepang dan AS akan menyempit dalam waktu dekat.
Sentimen Dalam Negeri
Gubernur BOJ Kazuo Ueda sebelumnya menyatakan kesiapan untuk menaikkan suku bunga dengan mempertimbangkan perkembangan ekonomi dan harga di Jepang.
Di sisi lain, ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat turut memengaruhi pergerakan mata uang. Pasar semakin memperkirakan Federal Reserve AS akan mempertahankan suku bunga pada level saat ini untuk sementara waktu.
Perkiraan tersebut muncul seiring tekanan inflasi di AS yang mulai berkurang. Kondisi ini turut membuat indeks dolar AS melandai dan memberikan ruang bagi sejumlah mata uang kawasan, termasuk rupiah, untuk menguat.
Meski demikian, sentimen dari dalam negeri masih menjadi perhatian pelaku pasar. Rully menyebut pasar mulai meningkatkan kekhawatiran terhadap defisit neraca perdagangan, terutama di tengah kenaikan harga minyak dan meningkatnya kebutuhan dolar AS.
“Harga minyak Brent tembus USD 98 per barel dan USD WTI 93 per barel. Peningkatan permintaan dolar terbesar berasal dari impor yang naik 27 persen secara tahunan,” kata Rully.
Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan kebutuhan valuta asing untuk pembayaran impor. Sementara itu, lonjakan impor juga ikut mendorong permintaan dolar AS di pasar domestik.
Dengan berbagai sentimen tersebut, pergerakan rupiah akan dipengaruhi oleh dinamika mata uang kawasan, arah indeks dolar AS, serta perkembangan harga komoditas dan permintaan dolar di dalam negeri.