Liputan6.com, Berlin - Pada Minggu (6/9/2026), Jerman diguncang kemenangan terbesar partai sayap kanan jauh dalam pemilu negara bagian sejak era Nazi. Dalam pemilu di Saxony-Anhalt, wilayah timur Jerman yang dahulu berada di bawah pemerintahan komunis, partai anti-imigrasi dan pro-Kremlin Alternative fur Deutschland (AfD) meraih 44 persen suara dan menempati posisi pertama, hanya sedikit di bawah mayoritas mutlak.
Apa yang Terjadi dan Mengapa Hasil Ini Penting?
Advertisement
Kemenangan AfD di Saxony-Anhalt membuka peluang terbentuknya pemerintahan sayap kanan jauh di sebuah negara bagian Jerman untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia II.
Majalah berita Der Spiegel menggambarkan hasil pemilu tersebut sebagai "gempa politik" magnitudo 9,0.
AfD unggul hampir 27 poin persentase atas Christian Democratic Union (CDU), partai konservatif yang dipimpin Kanselir Jerman Friedrich Merz dan menjadi kekuatan utama dalam pemerintahan federal.
Kemenangan besar AfD diperkirakan akan berdampak luas terhadap politik Jerman dan bahkan melampaui batas negara tersebut.
Jika berhasil mengambil alih pemerintahan Saxony-Anhalt, AfD akan memiliki kewenangan luas dalam bidang pendidikan, kebudayaan, dan keamanan dalam negeri.
AfD antara lain berjanji menggencarkan "remigrasi" atau pemulangan migran dari Jerman serta deportasi, melarang bendera pelangi di sekolah, dan menghentikan pembangunan ladang pembangkit listrik tenaga angin baru.
Hasil pemilu di Saxony-Anhalt juga memberi AfD momentum kuat menjelang dua pemilu negara bagian lain yang akan digelar bulan ini.
Kemenangan itu sekaligus memunculkan keraguan mengenai kemampuan Merz mempertahankan posisinya. Ia menghadapi penolakan yang begitu besar terhadap kebijakan dan kepemimpinannya meski baru 16 bulan berkuasa.
Salah satu pemimpin AfD, Alice Weidel, mengatakan kepada wartawan di Berlin bahwa partainya menargetkan 40 persen suara dalam pemilu federal berikutnya yang dijadwalkan pada 2029.
AfD saat ini berada di posisi pertama dalam jajak pendapat dengan dukungan 28 persen.
Apa yang Mungkin Terjadi Selanjutnya?
Para pemimpin nasional AfD dan kandidat utama partai itu di Saxony-Anhalt, Ulrich Siegmund, mengatakan hasil pemilu menunjukkan bahwa pemilih telah memberikan mandat yang jelas kepada AfD untuk memerintah.
Siegmund, mantan penjual parfum yang dikenal piawai memanfaatkan media, menghadapi satu kendala besar. AfD tidak memiliki mayoritas mutlak di parlemen Saxony-Anhalt.
Artinya, AfD membutuhkan dukungan partai lain. Dukungan itu bisa berupa bergabung dalam koalisi atau mendukung pemerintahan minoritas AfD dari luar tanpa ikut masuk ke pemerintahan.
Sebelum pemilu, Siegmund berulang kali mengatakan bahwa ia hanya akan maju sebagai kepala pemerintahan Saxony-Anhalt jika memiliki dukungan mayoritas yang jelas.
Partai-partai lain telah menolak memberikan dukungan resmi yang dapat mengantarkan Siegmund ke tampuk kekuasaan.
Namun, BSW, sebuah partai populis kecil berhaluan kiri-konservatif, memberikan sinyal kemungkinan kerja sama tanpa dukungan resmi. BSW sendiri hanya tipis melewati ambang batas 5 persen suara yang diperlukan untuk mendapatkan kursi di parlemen.
Menjelang pemilu, sejumlah politikus CDU di Saxony-Anhalt secara terbuka mempertanyakan kebijakan yang dikenal sebagai "firewall". Istilah ini merujuk pada sikap partai-partai arus utama Jerman yang menolak bekerja sama dengan AfD agar partai tersebut tidak masuk pemerintahan.
Siegmund mengatakan ia akan menghabiskan beberapa hari dan pekan ke depan dengan "tangan terbuka", berusaha mendekati partai-partai lain.
Langkah itu akan menguji apakah penolakan yang selama ini kuat terhadap upaya membawa AfD ke pemerintahan masih dapat dipertahankan.
Jika gagal membentuk koalisi, Siegmund mengusulkan agar pemilu baru digelar. Namun, langkah tersebut membutuhkan persetujuan dua per tiga anggota parlemen Saxony-Anhalt.
Apa Arti Hasil Ini bagi Kebijakan "Firewall"?
Hasil mengejutkan di Saxony-Anhalt semakin memperkuat keraguan mengenai apakah strategi partai-partai arus utama untuk terus menjauhkan AfD dari pemerintahan masih dapat dipertahankan.
Sebelumnya, AfD baru sekali memenangkan pemilu negara bagian, yakni di Thuringia yang bertetangga dengan Saxony-Anhalt pada 2024.
Namun, kemenangan AfD ketika itu tidak setelak di Saxony-Anhalt. Partai-partai lain masih dapat menggabungkan kekuatan untuk membentuk koalisi lintas spektrum politik, meski partai-partai di dalamnya memiliki perbedaan ideologi yang besar.
Besarnya kemenangan AfD di Saxony-Anhalt membuat skenario serupa kali ini jauh lebih sulit dilakukan.
Sulit membayangkan CDU, yang mengalami kekalahan telak, dapat kembali membentuk koalisi "Frankenstein", sebutan untuk aliansi yang terdiri atas partai-partai dengan pandangan politik yang sangat berbeda.
Kepala pemerintahan Saxony-Anhalt, Sven Schulze, mengakui CDU tidak lagi memiliki mandat untuk mencoba membentuk koalisi semacam itu.
Apa Arti Hasil Ini bagi CDU dan Kanselir Merz?
Pemilu pada Minggu menjadi pukulan keras bagi Merz dan CDU.
Merz, yang tampak muram, mengaku "sangat terkejut" dengan hasil pemilu tersebut.
Survei terhadap pemilih setelah mereka memberikan suara menunjukkan kemarahan terhadap Merz karena ia tidak menepati janjinya untuk menghidupkan kembali perekonomian dan memperkuat disiplin anggaran negara.
Kenaikan harga energi yang dipicu inflasi dan perang Iran juga sangat dirasakan masyarakat Saxony-Anhalt, negara bagian termiskin di Jerman.
Persoalan biaya hidup diyakini jauh lebih besar pengaruhnya dalam menggerakkan pemilih dibandingkan isu imigrasi, yang selama ini menjadi salah satu tema utama kampanye AfD.
Meski dukungan terhadap AfD selama ini paling kuat di wilayah timur Jerman yang dahulu berada di bawah pemerintahan komunis, partai tersebut juga mencatat peningkatan dukungan yang besar dalam dua pemilu di negara bagian wilayah barat pada awal tahun ini.
Kenaikan itu terjadi di tengah kekhawatiran mengenai deindustrialisasi, yakni menyusutnya kegiatan industri.
Partai Sosial Demokrat (SPD), mitra junior dalam pemerintahan koalisi Merz, pada Senin memberi sinyal bersedia melunakkan rencana perubahan terhadap sistem kesejahteraan sosial Jerman yang mahal dan semakin terbebani.
Langkah tersebut dimaksudkan untuk meredakan ketidakpuasan pemilih.
Namun, Merz menegaskan bahwa perubahan tetap diperlukan untuk memperkuat sistem layanan kesehatan dan pensiun Jerman.
Ia juga berjanji tetap bertahan dan memperjuangkan kebijakan tersebut "demi kepentingan anak dan cucu kita".