Liputan6.com, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memasang lebih dari 20 tsunami gauge di sekitar Selat Sunda untuk memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau. Berdasarkan hasil pemantauan, hingga kini belum ditemukan anomali kenaikan muka air laut maupun indikasi tsunami akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.
Hal tersebut disampaikan Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam rapat terbatas membahas penanganan bencana gempa Nusa Tenggara Timur (NTT), erupsi Gunung Anak Krakatau, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto. Rapat digelar secara virtual melalui video conference dari Istana Merdeka Jakarta, Senin (7/9/2026).
Advertisement
"Kami telah memasang 20 tsunami gauge yang tersebar di sekitar area Selat Sunda. Tsunami gauge ini terus-menerus memantau dan sampai saat ini tidak ada anomali kenaikan air muka air laut akibat tsunami yang diakibatkan oleh erupsi Gunung Anak Krakatau," jelas Faisal sebagaimana disiarkan di Youtube Sekretariat Presiden, Senin (7/9/2026).
Menurut dia, BMKG juga memantau erupsi Gunung Anak Krakatau melalui tiga lokasi rekaman magnet bumi yang dipasang Lampung Selatan, Serang, dan Sukabumi. Faisal menyampaikan ada kecenderungan penurunan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau dibandingkan pada 4 dan 5 September 2026.
"Sejak dari pukul 23 tanggal 4 September hingga yang terjadi pada saat ini amplitudo gangguan geomagnetik dan jumlah sambaran petir vulkanik itu menunjukkan tingkat erupsi yang lebih kecil dari dua erupsi pada tanggal 4 September malam dan juga tanggal 5 September. Jadi ada proses peluruhan dari erupsi berdasarkan data medan magnet dan juga dari petir vulkanik yang dimiliki BMKG," ujarnya.
Sensor Seismograf
Selain itu, BMKG memasang 20 lebih sensor seismograf di sekitar Selat Sunda untuk memantau erupsi Gunung Anak Krakatau dan potensi flank collapse. Hal ini agar dapat bersiap apabila tsunami terjadi seperti tahun 2018.
"Kemudian juga kami kebetulan juga telah memasang high frequency radar yang dapat memantau kondisi gelombang arus angin dan juga sekarang kita setting menjadi tsunami mode sehingga ketika tsunami datang pada jarak sekitar 150 km ini dapat dideteksi dengan adanya High Frequency Radar Array. Ini yang telah kita pasang di Pantai Carita hingga memanjang hingga ke Tanjung Lesung," tutur Faisal.