Liputan6.com, Bern - Eksperimen sains yang banyak orang sebut sebagai terbesar dalam sejarah adalah Large Hadron Collider (LHC) milik Organisasi Eropa untuk Riset Nuklir (CERN) berhasil dinyalakan untuk pertama kali pada 10 September 2008.
Dikutip dari History.com, Kamis (10/9/2026), LHC yang bernilai US$ 8 miliar atau sekitar Rp 141 triliun yang dipakai untuk menguji teori-teori fisika partikel, adalah akselerator partikel terbesar di dunia.
Advertisement
Alat ini terdiri dari magnet superkonduktor yang memungkinkan para insinyur dan fisikawan mempelajari partikel subatomik, termasuk proton, elektron, kuark, dan foton. LHC bisa menghasilkan 600 juta benturan per detik.
Lingkaran bawah tanah sepanjang 27,3 kilometer, yang terletak di bawah perbatasan Swiss-Prancis, memancarkan sinar partikel dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya. Hal ini menyebabkan partikel-partikel tersebut bertabrakan dan menciptakan kembali puing-puing yang dihasilkan oleh Big Bang.
Saat peluncuran, sejumlah ilmuwan dan aktivis lingkungan berspekulasi bahwa LHC akan menciptakan lubang hitam kecil yang berpotensi menghancurkan dunia. Klaim-klaim ini dibantah oleh CERN dan fisikawan Stephen Hawking, yang menyatakan bahwa lubang hitam kecil apapun akan menguap dengan cepat.
Tujuan LHC, instrumen ilmiah terbesar di dunia, adalah untuk menciptakan dan menemukan boson Higgs, atau yang lebih dikenal sebagai “partikel Tuhan.”
Pada 1964, Peter Higgs dan Francois Englert mengemukakan teori bahwa partikel yang terkait dengan medan energi yang mentransmisikan massa adalah kunci bagaimana segala sesuatu di alam semesta mendapatkan massa.
Di 2012, CERN mengumumkan bahwa eksperimen LHC telah memungkinkan para peneliti untuk melakukan observasi pada sebuah partikel dengan boson Higgs.
Pada 8 Oktober 2013, Higgs dan Englert mendapatkan Nobel Prize di bidang Fisika, atas penemuan teoritis mekanisme yang berkontribusi pada pemahaman tentang awal mula massa partikel subatomik, dan yang baru-baru ini dikonfirmasi melalui penemuan partikel fundamental yang diprediksi tersebut, oleh eksperimen ATLAS dan CMS di Large Hadron Collider milik CERN.