Erupsi Gunung Anak Krakatau, Ini Imbauan Menpar untuk Wisatawan yang Terjebak Delay Penerbangan

Selain wisatawan terdampak delay penerbangan, Menpar juga memberi imbauan pada wisatawan yang berada di wilayah terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau.

oleh Asnida RianiDiterbitkan 07 September 2026, 10:37 WIB
Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana berada di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Jakarta, 15 Juli 2026. (dok. Biro Komunikasi Kemenpar)

Liputan6.com, Jakarta - Erupsi Gunung Anak Krakatau berdampak pada perjalanan wisatawan melalui jalur udara. Sebaran abu vulkanik membuat sejumlah bandara menghentikan sementara operasional penerbangan sebagai langkah mitigasi keselamatan, sehingga penumpang harus menghadapi penundaan hingga pembatalan perjalanan.

AirNav Indonesia memperpanjang penutupan Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Halim Perdanakusuma hingga estimasi pukul 18.00 WIB pada Senin (7/9/2026), lapor kanal Bisnis Liputan6.com. Keputusan tersebut mengikuti perkembangan kondisi ruang udara dan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

AirNav juga terus memperbarui informasi aeronautika berdasarkan kondisi aktual, serta berkoordinasi dengan pemangku kepentingan penerbangan. Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana meminta wisatawan memahami kondisi tersebut dan mengikuti arahan petugas selama berada di bandara maupun wilayah terdampak.

Ia menegaskan keputusan maskapai untuk menunda atau membatalkan penerbangan bukan sekadar persoalan operasional, melainkan bagian dari upaya menjaga keamanan penumpang.

"Keselamatan penerbangan adalah prioritas utama kita saat ini. Kami telah menginstruksikan seluruh jajaran untuk terus memantau perkembangan situasi penerbangan secara berkala," katanya dalam rilis pada Lifestyle Liputan6.com, Senin.

"Pada para wisatawan," imbuh Menpar. "Kami memohon pengertian dan kesabarannya dalam menghadapi potensi penundaan maupun pembatalan penerbangan akibat erupsi Gunung Anak Krakatau."

Kondisi tersebut membuat wisatawan perlu menyesuaikan rencana perjalanan dengan perkembangan informasi penerbangan. Penumpang yang mengalami delay atau pembatalan sebaiknya memantau informasi resmi dari maskapai dan bandaram serta mengikuti petunjuk petugas di lapangan.

Mempertimbangkan Perubahan Jadwal Penerbangan Lanjutan

Aktivitas Gunung Anak Krakatau dari udara yang terus mengalami erupsi, Minggu (23/12). Tsunami yang menerjang wilayah Selat Sunda, Pandeglang, Serang, dan Lampung Selatan merusak ratusan bangunan dan kapal. (Liputan6.com/Pool/Susi Air)

Wisatawan juga perlu mempertimbangkan perubahan jadwal perjalanan lanjutan jika penerbangan menuju destinasi berikutnya ikut terdampak. Gangguan penerbangan terjadi ketika abu vulkanik menyebar ke ruang udara yang dilalui pesawat.

Abu vulkanik dapat mengganggu keselamatan penerbangan sehingga otoritas perlu mempertimbangkan kondisi atmosfer sebelum membuka kembali jalur penerbangan. Pemerintah pun meminta wisatawan tidak memaksakan perjalanan ketika kondisi belum dinyatakan aman.

Perkembangan sebaran abu masih menjadi perhatian pada Senin pagi, lapor kanal News Liputan6.com. Berdasarkan analisis BMKG hingga pukul 07.00 WIB, terdapat dua klaster sebaran debu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Sebaran pada ketinggian hingga 15.000 kaki bergerak ke arah tenggara-barat laut dan mencakup sebagian Banten, Jawa Barat, Lampung, Bengkulu, serta perairan di sekitarnya. Sebaran lain mencapai ketinggian hingga 50.000 kaki dan bergerak ke arah barat daya-barat.

 

Imbauan untuk Wisatawan di Wilayah Terdampak

Gunung Anak Krakatau tercatat erupsi sebanyak empat kali pada Minggu, 16 Agustus 2026. (Liputan6.com/ Dok PVMBG)

Situasi tersebut juga memengaruhi aktivitas masyarakat di sejumlah daerah. Abu vulkanik masih terasa di beberapa wilayah, sementara sejumlah provinsi menerapkan pembelajaran jarak jauh untuk mengurangi paparan abu.

Kondisi ini menunjukkan dampak erupsi tidak hanya menyentuh sektor penerbangan, tapi juga aktivitas harian masyarakat dan wisatawan di wilayah yang terdampak.

Menpar turut meminta wisatawan yang berada di area terpapar abu vulkanik menjaga kondisi kesehatan. Masyarakat dan wisatawan perlu mengurangi aktivitas luar ruang ketika paparan abu meningkat, serta menggunakan masker sebagai perlindungan.

Wisatawan yang sedang berada di destinasi terdampak juga perlu mengikuti perkembangan informasi dari otoritas setempat.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya