Erupsi Anak Krakatau, BMKG Sebut Peluang Muncul Tsunami di Bawah 40 Persen

Anak Krakatau bergejolak, abu vulkaniknya mendampak hingga wilayah Jakarta bahkan sampai ke wilayah Jawa Barat.

oleh Lizsa EgehamDiterbitkan 06 September 2026, 11:13 WIB
Gunung Anak Krakatau Meletus 11 Kali dalam Sehari

Liputan6.com, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan potensi tsunami akibat erupsi Gunung Anak Krakatau berada di tingkat rendah, yakni 40 persen.

Hal ini berdasarkan pemantauan 20 sensor tsunami gauge di sekitar Selat Sunda hingga pukul 07.00 WIB tidak menunjukkan adanya anomali muka air laut.

"Analisis teknologi High-Frequency (HF) Radar Array di Carita dan Tanjung Lesung mencatat probabilitas tsunami pada saat tersebut berada di tingkat rendah (di bawah 40 persen), dengan tinggi gelombang laut yang terjaga di kisaran satu meter," kata Plh. Deputi Bidang Geofisika BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan dikutip dari siaran pers, Minggu (6/9/2026).

Menurut dia, BMKG merekam adanya fenomena sekunder berupa gangguan geomagnetik dan petir vulkanik. Sensor di Lampung Selatan dan Serang mencatat adanya gangguan geomagnetik yang selaras dengan kenaikan sambaran petir vulkanik pada rentang waktu 12 jam terakhir.

"Namun, intesitas gangguan tersebut tidak sebesar letusan awal," ujarnya.

Ardhasena menyampaikanBMKG mengoptimalkan kesiapsiagaan nasional melalui skema pemantauan terpadu berbasis multi-instrument secara nonstop selama 24 jam penuh untuk mengantisipasi dampak dinamika erupsi Gunung Anak Krakatau.

"Pendekatan lintas instrumen ini bersinergi dengan analisis dari PVMBG-Badan Geologi guna menyajikan data yang presisi, cepat, dan akurat, sekaligus memperkuat koordinasi antarinstansi dalam mendukung pengambilan keputusan serta menjaga keselamatan penerbangan dan wilayah pesisir Selat Sunda," jelas dia.

Di sisi lain, BMKG mengimbau seluruh lapisan masyarakat, khususnya yang beraktivitas dan bermukim di sepanjang pesisir Selat Sunda, untuk meningkatkan kewaspadaan namun tetap tenang.

"Masyarakat diminta untuk menyaring seluruh informasi yang beredar dan tidak mudah terpengaruh atau menyebarluaskan isu-isu yang belum terverifikasi kebenarannya," tutur Andri.

Sebelumnya, BMKG melaporkan bahwa sebaran abu vulkanik yang disebabkan erupsi Gunung Anak Krakatau sudah sampai ke wilayah Jakarta dan Jawa Barat per Minggu (6/9/2026) pukul 07.00 WIB.

BMKG menyampaikan bahwa terdapat dua klaster sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

"Berdasarkan informasi PVMBG dan VAAC Darwin serta analisis citra RGB Himawari-9, teridentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau," tulis BMKG di akun instagram resminya @infobmkg, Minggu (6/9/2026).

"Pada ketinggian hingga 20.000 ft, sebaran abu teramati ke arah timur-selatan, mencakup sebagian DK Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan perairan sekitarnya," sambungnya.

Sementara itu, sebaran abu vulkanik klaste4 kedua mengarah ke arah Banten, Lampung, Bengkulu, hingga Selat Sunda bagian selatan. Sebaran abu mencapai ketinggian 50.000 kaki.

"Sementara pada ketinggian hingga 50.000 ft, sebaran teramati ke arah barat daya-barat laut, mencakup sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, serta Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu, Lampung, dan Banten," jelasnya.

Adapun prakiraan cuaca Gunung Anak Krakatau 6-8 September 2026 secara umum cerah hingga berawan, dengan arah angin dominan dari timur-tenggara dan kecepatan sekitar 31-37 km/jam.

"Masyarakat dan pengguna transportasi di sekitar wilayah terdampak diimbau untuk terus memperhatikan perkembangan informasi resmi dari BMKG dan instansi terkait," kata BMKG.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya