Liputan6.com, Jakarta - Setahun lamanya keluarga Mozza Axillia Gunarsa (18) menanti kepulangan putri sulung mereka yang menghilang dari rumah di Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Penantian itu kini berubah menjadi duka setelah polisi menemukan kerangka perempuan terbungkus karung di jurang Jalan Tol Jangli, Kota Semarang, yang ciri-cirinya diduga kuat sesuai dengan Mozza.
Tangis sang ayah, Singgih (42), pecah setelah mengetahui kabar tersebut. Kenangan tentang putrinya yang pergi dari rumah pada 25 Juni 2025 kembali terbayang.
Advertisement
Saat itu, Mozza berpamitan untuk mengantarkan laptop milik temannya. Namun, ia tidak pernah kembali ke rumah.
Di tengah kesedihan keluarga, polisi menangkap seorang pria berinisial MDVA (22), warga Blora. Ia diduga menjadi orang terakhir yang berinteraksi dengan Mozza sekaligus terduga pelaku pembunuhan.
Kerangka yang diduga merupakan jasad Mozza ditemukan di lereng Jalan Tol Jangli, tepatnya di arah Perumahan Candi Golf, Kota Semarang. Medan di lokasi cukup terjal sehingga proses evakuasi baru dapat dilakukan pada Jumat (4/9/2026), setelah polisi mendatangi lokasi pada malam sebelumnya.
Penemuan kerangka tersebut bermula dari informasi masyarakat. Petugas yang tiba di lokasi menemukan kerangka manusia dalam kondisi terbungkus karung.
Pemeriksaan awal menunjukkan kerangka tersebut berjenis kelamin perempuan dengan perkiraan usia antara 17 hingga 25 tahun.
Sejumlah barang turut ditemukan di sekitar lokasi, di antaranya sweater lengan panjang warna krem, jepit rambut bermotif bunga, sarung, cable ties, dan tali rafia.
Temuan tersebut menjadi petunjuk penting dalam penyelidikan kasus hilangnya Mozza.
Pergi Antar Laptop, Tak Pernah Kembali
Mozza meninggalkan rumah pada Rabu, 25 Juni 2025, sekitar pukul 10.00 WIB. Sebelum pergi, ia berpamitan kepada orang tuanya melalui pesan WhatsApp.
Kepada keluarganya, Mozza mengatakan hendak mengantarkan temannya, Ayu, ke sekitar kawasan Makodam Semarang untuk mengembalikan laptop. Setelah itu, tidak ada lagi kabar mengenai keberadaannya.
Berdasarkan poster orang hilang yang diterbitkan Polres Semarang pada 28 Juni 2025, Mozza lahir di Kabupaten Semarang pada 20 Juli 2007. Ia tinggal di Gebugan RT 04/RW 01, Desa Gebugan, Kecamatan Bergas.
Saat meninggalkan rumah, Mozza mengenakan baju putih lengan panjang dan hijab yang tidak diketahui warnanya. Ia juga mengenakan celana yang tidak diketahui warnanya serta sandal krem merek Reebok.
Mozza pergi mengendarai Honda Vario 125 warna hitam bernomor polisi H 5344 ALC dan disebut tidak membawa STNK.
Sejak saat itu, keluarga berupaya mencari keberadaan Mozza. Berbagai informasi sempat diterima, termasuk kabar mengenai ditemukannya KTP dan telepon seluler yang diduga milik Mozza di wilayah Semarang Utara.
Namun, informasi tersebut belum menjawab pertanyaan keluarga mengenai keberadaan putri mereka.
"Anak saya pamit baik-baik. Katanya mau mengantar temannya, Ayu, ke (dekat) Kodam untuk mengembalikan laptop," ucap Singgih kepada wartawan Kamis (3/7/2025) kala itu.
Bagi Singgih, pesan WhatsApp pada 25 Juni 2025 menjadi komunikasi terakhir dari putrinya. Setelah itu, keberadaan Mozza tidak diketahui.
Titik Terang dari Chat Instagram
Kasus hilangnya Mozza memasuki babak baru setelah polisi menemukan petunjuk dari perangkat elektronik milik keluarga korban.
Petunjuk tersebut berupa percakapan di Instagram antara Mozza dan seseorang yang diduga kuat menjadi orang terakhir yang berinteraksi dengannya.
"Alat bukti yang kuat itu beberapa minggu yang lalu dari perangkat elektronik orang tuanya sendiri, chat Instagram," ujar Kasat Reskrim Polres Semarang, AKP Bodia Teja Lelana.
Dari percakapan tersebut, polisi menelusuri sosok yang berkomunikasi dengan Mozza. Penyelidikan kemudian mengarah ke sebuah rumah kos di Jalan Sriwijaya, Kota Semarang.
Polisi memeriksa pemilik dan sejumlah penghuni kos hingga mendapatkan nama seorang pria berinisial MDVA (22).
"Dari situ kita laksanakan interogasi dengan pemilik rumah kos, dengan beberapa penghuni kos yang kita dapatkanlah sebuah nama dengan inisial MDVA (22)," ungkap Bodia.
MDVA diketahui merupakan warga Blora. Polisi kemudian bergerak ke Blora untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut.
Setelah melakukan serangkaian penyelidikan pada 2 dan 3 September, polisi mengamankan MDVA di rumahnya pada Rabu malam (3/9/2026).
"Pada tanggal 2 dan tanggal 3 (September) kemarin kita melaksanakan penyelidikan (tempat tinggal MDVA) di Blora. Tanggal 3 malam kita melaksanakan penyentuhan, kita amankan terduga yang berinteraksi terakhir," beber Bodia.
Mozza Diduga Dibunuh di Kamar Kos
Berdasarkan pemeriksaan awal penyidik Polres Semarang, MDVA mengakui telah membunuh Mozza pada 25 Juni 2025, bertepatan dengan hari korban meninggalkan rumah.
Menurut keterangan awal yang diperoleh polisi, peristiwa tersebut bermula dari cekcok antara MDVA dan Mozza. Polisi belum mengungkap persoalan yang memicu pertengkaran keduanya.
"Dari interogasi awal, terduga itu mengakui bahwa telah terjadi cekcok antara terduga dengan orang hilang," tutur Bodia.
Cekcok tersebut kemudian berujung pada tindakan kekerasan. MDVA diduga mencekik Mozza hingga meninggal dunia di kamar kosnya.
"Dari situ kita interogasi informasi awal, kita dapati bahwa yang bersangkutan itu diduga kuat melakukan tindak pidana yaitu pembunuhan pada tanggal 25 Juni 2025. Lalu laporan orang hilang itu itu kan 28 Juni 2025 ya, 3 hari setelah peristiwa," papar Bodia.
Setelah Mozza meninggal, MDVA mengaku membawa jasad korban dan membuangnya di sebuah lokasi di lereng Tol Jangli, Kota Semarang.
Pengakuan tersebut menjadi petunjuk bagi polisi untuk menemukan keberadaan korban. MDVA kemudian menunjukkan lokasi tempat tubuh Mozza terakhir kali diletakkan.
Polisi mendatangi lokasi tersebut pada Kamis (3/9/2026) malam. Namun, kondisi medan yang curam dan minim penerangan membuat proses evakuasi harus ditunda.
"Terduga pelaku ini menunjukkan lokasi di mana tubuh korban terakhir diletakkan yaitu di lereng Tol Jangli," imbuh Bodia.
Karena kondisi lokasi cukup berbahaya, polisi baru melakukan evakuasi pada Jumat (4/9/2026). Proses tersebut melibatkan Inafis Polrestabes Semarang dan tim SAR.
"Dari situ kita malam itu karena visibilitas lokasi itu minim sekali dan kecuramannya yang lumayan, kita laksanakan tadi siang. Tadi siang kita laksanakan setelah itu kita dibantu dengan Inafis Tabes, Polrestabes Semarang serta tim SAR karena posisi lereng curam, kita laksanakan evakuasi," terangnya.
Dari lokasi tersebut, polisi menemukan kerangka manusia yang terbungkus karung. Temuan itu semakin menguatkan dugaan bahwa korban yang selama ini dicari keluarga merupakan Mozza.
Polisi juga menemukan dugaan tanda kekerasan pada bagian kepala. Pemeriksaan awal menunjukkan adanya resapan darah pada bagian tengkorak dan tulang pipi kiri yang diduga berkaitan dengan luka penyebab kematian.
Dugaan identitas kerangka tersebut semakin kuat setelah keluarga mengenali sejumlah ciri yang ditemukan bersama jasad.
Kasat Res PPA-PPO Polrestabes Semarang, Kompol Ni Made Sriniti, menjelaskan ciri gigi, tinggi badan, pakaian, hingga jepit rambut yang ditemukan di lokasi sesuai dengan keterangan keluarga korban.
"Dari ciri gigi yang ditambal sama jepit rambut yang ditemukan itu sesuai seperti keterangan ibunya," ungkap Sriniti.
Selain itu, pakaian yang ditemukan bersama kerangka juga dikenali oleh ibu korban. Tinggi badan kerangka pun disebut sesuai dengan karakteristik Mozza.
"Pakaiannya sesuai dikenali sama ibunya, tinggi badannya juga sama," terang Sriniti.
Meski sejumlah ciri mengarah kuat kepada Mozza, polisi masih menunggu hasil tes DNA untuk memastikan identitas korban secara ilmiah.
"Hasil DNA-nya masih kita tunggu," ucap Sriniti.
Penemuan kerangka dan penangkapan MDVA menjadi titik terang dalam pencarian Mozza yang berlangsung lebih dari setahun. Namun, polisi masih mendalami rangkaian peristiwa secara keseluruhan, termasuk motif di balik dugaan pembunuhan yang mengakhiri pencarian panjang keluarga tersebut.