Wall Street Melemah, Data Tenaga Kerja AS Picu Potensi Kenaikan Suku Bunga

Tiga indeks saham acuan kompak melemah di wall street. Indeks Dow Jones pimpin koreksi menjelang akhir pekan ini.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 05 September 2026, 07:59 WIB
Director of Trading Floor Operations Fernando Munoz (kanan) saat bekerja dengan pialang Robert Oswald di New York Stock Exchange, AS. (AP Photo/Richard Drew)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street melemah pada perdagangan saham Jumat, 4 September 2026 (Sabtu pagi Jakarta). Indeks Dow Jones melemah seiring data ketenagakerjaan atau data payrolls Agustus 2026 yang lebih tinggi dari perkiraan meningkatkan harapan the Federal Reserve (the Fed) dapat menaikkan suku bunga pada pertemuan berikutnya.

Mengutip CNBC, Sabtu (5/9/2026), indeks Dow Jones melemah 271,86 poin atau 0,51%, dan ditutup ke posisi 53.414,25. Indeks S&P 500 tergelincir 0,38%, dan berakhir di level 7.718,60. Indeks Nasdaq susut 0,29% menjadi 26.506,99.

Namun, secara mingguan, Dow turun 0,3%. Indeks S&P 500 naik 0,1% sepanjang minggu ini, sementara Nasdaq mencatatkan kenaikan 0,4%.

Adapun pada pekan ini data ekonomi AS menjadi perhatian. Nonfarm payrolls naik 162.000 bulan lalu. Nilai itu jauh melampaui perkiraan 53.000 yang diprediksi oleh ekonom dalam survei Dow Jones.

Tingkat pengangguran stabil di 4,1%, sesuai perkiraan. Selain kenaikan bulan lalu, angka untuk Juni dan Juli mengalami revisi ke atas.

Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) naik setelah laporan tersebut dirilis, dengan imbal hasil tenor 2 tahun mencapai level tertinggi sejak Januari 2025. Ekspektasi The Federal Reserve (the Fed) dapat menaikkan suku bunga dalam beberapa minggu ke depan meningkat, karena para pedagang kontrak berjangka fed funds kini memperhitungkan peluang kenaikan sebesar 58%, menurut alat CME FedWatch. Peluang tersebut berada di angka 49,4% sehari sebelumnya.

"Laporan ketenagakerjaan bulan Agustus yang sangat kuat mengingatkan kita bahwa statistik tenaga kerja ini menjadi sangat fluktuatif, sekaligus sedikit meningkatkan probabilitas kenaikan suku bunga pada bulan September," ujar Manajer Portofolio di Janus Henderson Investors, Bradford Smith.

 

Tergantung Data Inflasi

Ilustrasi seorang pedagang efek tengah bekerja di lantai Bursa Efek New York atau Wall Street (Foto: AP/Richard Drew)

Ia menambahkan, kini, perdebatan seputar The Fed akan sangat bergantung pada data inflasi yang akan datang.

"Setelah pernyataan bernada hawkish dari Ketua Warsh di Jackson Hole pekan lalu, terdapat kecenderungan yang jelas di The Fed untuk mengambil tindakan jika data yang masuk tidak menunjukkan kemajuan lebih lanjut dalam disinflasi,” ujar dia.

Ketiga indeks utama tersebut sempat naik pada Kamis, mendapat sentimen positif saat imbal hasil Treasury turun setelah Gubernur Federal Reserve Christopher Waller menyatakan "cenderung mendukung" untuk mempertahankan suku bunga pada kisaran target saat ini, yaitu 3,5% hingga 3,75%, dalam pertemuan bank sentral pada 15-16 September.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya