Liputan6.com, Jakarta - Sepotong kemeja putih mungkin terlihat sederhana. Warnanya bersih, siluetnya akrab, dan hampir selalu menemukan tempat di dalam lemari. Di balik kesederhanaan itu, 22 desainer Indonesia menghadirkan makna yang lebih dalam.
Mereka menjadikan atasan putih sebagai medium untuk menyampaikan kepedulian pada saudara-saudara yang terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT). Gempa berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang NTT, khususnya Pulau Flores, pada 15 Agustus lalu meninggalkan luka panjang.
Advertisement
Bencana tersebut menelan lebih dari 100 korban jiwa dan menyebabkan ribuan orang terluka. Situasi itu menggerakkan Indonesian Fashion Designer Council (IFDC) untuk menghadirkan DRAFT IFDC Pop-Up Store Installation bersama Senayan City dan Cotton USA.
"Saya rasa amat penting untuk industri mode turut berpartisipasi pada kegiatan sosial," kata Yosafat Dwi Kurniawan, salah satu anggota muda IFDC, dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, 2 September 2026. "Kegiatan ini adalah salah satu cara memaknai karya, memberikan nilai lebih, dan berbagi pada sesama."
DRAFT membawa semangat tersebut melalui sesuatu yang dekat dengan dunia para desainer: busana. Dua puluh dua anggota IFDC merancang kemeja putih yang kemudian dijual secara terbatas dengan harga mulai Rp 1,2 juta hingga Rp 1,999 juta.
Hasil penjualannya akan disalurkan pada korban gempa NTT melalui Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB). Pilihan warna putih bukan sekadar keputusan estetika. Kemeja putih menjadi salah satu titik awal dalam perjalanan kreatif seorang desainer, sebuah kanvas yang memberi ruang luas untuk bereksperimen.
22 Desainer Indonesia
Kesederhanaan bentuknya justru membuka kesempatan bagi setiap perancang untuk menunjukkan karakter melalui garis, proporsi, siluet, dan teknik pengerjaan. Di tangan para desainer, satu warna dapat berbicara dengan banyak bahasa.
Adeline Esther, Andreas Odang, Carmanita, Chossy Latu, Danny Satriadi, Denny Wirawan, Didi Budiardjo, Eddy Betty, Era Soekamto, Eridani, Ghea Panggabean, Hian Tjen, Ivan Gunawan, Liliana Lim, Mel Ahyar, Priyo Oktaviano, Rama Dauhan, Sebastian Gunawan, Wilsen Willim, Yogie Pratama, Yongki Budisutisna, dan Yosafat Dwi Kurniawan membawa interpretasi masing-masing ke dalam proyek tersebut.
Keberagaman karakter itu membuat DRAFT tidak sekadar menjadi ruang penjualan busana. Instalasi tersebut mempertemukan kreativitas dengan kepedulian, sekaligus memperlihatkan bagaimana industri mode dapat mengambil bagian ketika masyarakat menghadapi masa sulit.
Jalan untuk Membantu
Eddy Betty melihat keterlibatan dalam gerakan tersebut sebagai bentuk tanggung jawab yang melekat pada profesi dan kemampuan yang dimilikinya. Perancang senior yang dikenal lewat kepiawaiannya mengolah korset dan kebaya adibusana itu memilih menggunakan keahliannya sebagai jalan untuk membantu.
"Karena saya merasa punya tanggung jawab yang lebih besar untuk bisa memberikan dan membantu melalui apa yang saya miliki dan apa yang saya bisa lakukan," kata dia.
Kehadiran DRAFT juga menjadi bagian dari perjalanan panjang Fashion Nation di Senayan City yang memasuki edisi ke-20. Momentum tersebut menjadi kesempatan untuk merayakan ekosistem mode Indonesia dengan cakupan yang lebih luas, dari perancang dan jenama hingga media, institusi mode, serta komunitas kreatif.
"Fashion Nation telah menjadi bagian dari perjalanan Senayan City selama dua dekade. Memasuki edisi ke-20, kami ingin menghadirkan perayaan yang merefleksikan luasnya ekosistem mode Indonesia," kata Halina, Leasing & Marketing Director Senayan City.
Dukung Upaya Pemulihan Gempa
Kolaborasi itu memperlihatkan bahwa fesyen tidak selalu berhenti pada apa yang dikenakan tubuh. Sebuah busana juga dapat membawa cerita, mempertemukan banyak tangan, dan mengubah kreativitas menjadi sesuatu yang berdampak bagi orang lain.
DRAFT IFDC Pop-Up Store Installation dibuka di Lower Ground, Senayan City, mulai 2 hingga 30 September 2026. Pengunjung dapat melihat, sekaligus memiliki karya para desainer dalam jumlah terbatas sambil ikut mendukung upaya pemulihan bagi korban gempa NTT.
Pada akhirnya, kemeja putih dalam DRAFT bukan hanya tentang potongan kain yang dijahit menjadi pakaian. Ia menjadi simbol bahwa kepedulian dapat hadir dalam banyak bentuk.
Dari meja kerja para perancang, melewati ruang pamer, hingga berpindah ke lemari para pembeli, setiap karya membawa harapan agar fashion mampu meninggalkan jejak yang lebih berarti.