Liputan6.com, Jakarta - Suasana di SMA Negeri 1 Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, mendadak berubah menjadi kepanikan pada Kamis pagi (3/9/2026). Satu per satu siswa mengeluhkan diare dan muntah, hingga jumlah warga sekolah yang sakit melonjak menjadi ratusan orang.
Toilet sekolah pun tak lagi mampu menampung antrean siswa yang mendadak mengalami gangguan pencernaan. Sebanyak 752 siswa dan 25 guru dilaporkan mengalami keluhan diare hingga muntah-muntah.
Advertisement
Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikonsumsi sehari sebelumnya.
Situasi yang semakin tak terkendali membuat pihak sekolah mengambil langkah darurat. Sebanyak 1.174 siswa SMAN 1 Lasem dipulangkan lebih awal demi mencegah kondisi semakin memburuk.
Kebijakan tersebut diambil setelah jumlah warga sekolah yang mengalami keluhan kesehatan mencapai sekitar 61 persen.
Kepala SMAN 1 Lasem, Juhartutik pun membenarkan kejadian dugaan keracunan usai menyantap menu MBG. Pihaknya menyebut bahwa gejala gangguan pencernaan mulai terlihat secara masif sejak siswa memasuki kelas pada Kamis pagi.
Awalnya, laporan datang satu per satu. Namun dalam hitungan menit, keluhan serupa bermunculan dari berbagai kelas.
"Tadi pagi anak-anak masuk, ada yang bilang 'Pak, saya diare'. Begitu guru mendata di masing-masing kelas, dalam beberapa menit langsung masuk laporan ada 777 orang (total guru dan siswa) yang diare," ujar Juhartutik yang dikutip Kamis 3 September 2026.
Kejadian ratuasan siswa SMAN 1 Lasem yang mendadak sakit perut, membuat fasilitas toilet sekolah kewalahan. Antrean tak terhindarkan, karena banyak siswa harus segera ke kamar mandi akibat diare.
"Karena toilet sekolah sampai overload, saya persilakan anak-anak masuk ke kamar mandi saya. Karena kondisinya sudah seperti itu, anak-anak langsung kita pulangkan," jelasnya.
Tak hanya mengalami diare, sebagian siswa dan guru juga mengalami muntah berulang hingga kondisi tubuh melemas. Sedikitnya empat siswa dan seorang guru akhirnya harus dibawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan medis.
"Ada empat siswa dan satu guru yang dibawa ke Puskesmas Lasem karena muntah terus," ungkap. Juhartutik.
Semangka Disebut Terasa Kecut
Sorotan kemudian mengarah pada paket MBG yang dibagikan kepada siswa sehari sebelum kejadian. Paket makanan tersebut didistribusikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Soditan, Lasem, pada Rabu (2/9/2026) siang.
Makanan dibagikan sekitar pukul 11.45 WIB dan disantap siswa saat jam istirahat pukul 12.00 WIB.
Menu yang disajikan terdiri dari nasi, ayam bakar grill, tempe, lalapan, sambal teri goreng, serta buah semangka potong.
Pihak katering sebelumnya menyatakan proses pengolahan makanan telah dilakukan. Sambal disebut digoreng selama sekitar tiga jam, sementara ayam mulai dimasak sejak pukul 03.00 WIB.
Namun, sejumlah siswa justru mengungkap adanya kejanggalan pada buah semangka yang menjadi makanan penutup.
"Anak-anak ada yang bilang, buah semangkanya terasa kecut Bu. Semangkanya itu kan dikasih kemasan..."
Keluhan tersebut kini menjadi salah satu informasi yang turut diperhatikan dalam penelusuran penyebab gangguan kesehatan yang dialami ratusan warga sekolah. Meski demikian, rasa kecut pada semangka belum dapat dijadikan bukti bahwa buah tersebut merupakan penyebab kejadian.
SPPG Minta Maaf dan Tanggung Jawab
Pihak SPPG Soditan Lasem menyampaikan permohonan maaf atas kejadian tersebut. Mereka juga menyatakan siap bertanggung jawab terhadap biaya pengobatan siswa maupun guru yang terdampak.
Kepala SPPG Soditan Lasem, Achmad Sholeh Syarifudin, mengatakan pihaknya memprioritaskan penanganan medis para korban.
"Kami meminta maaf sebesar-besarnya kepada pihak sekolah, orang tua, dan para siswa. Fokus utama kami saat ini adalah memastikan penanganan medis berjalan optimal tanpa membebankan biaya sepeser pun kepada korban," ujar Achmad Sholeh Syarifudin.
Ia memastikan siswa dan guru yang mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan tidak perlu memikirkan biaya pengobatan.
"Semua pengobatan kami pastikan gratis dan dicover total. Kami bertanggung jawab penuh atas pemulihan kesehatan para siswa dan guru," tegasnya.
Selain penanganan terhadap korban, SPPG Soditan Lasem juga berjanji melakukan evaluasi menyeluruh terhadap operasional dapur gizi. Evaluasi akan mencakup pemilihan bahan baku, proses pengolahan, hingga distribusi makanan ke sekolah penerima MBG.
"Ini menjadi momentum bagi kami untuk melakukan evaluasi total. Kami akan memperbaiki seluruh