Liputan6.com, Jakarta - Klaus-Michael Kuhne, yang pernah menjadi orang terkaya di Jerman meninggal dunia pada Senin, 24 Agustus 2026, mengalirkan kekayaan ke yayasan yang kini miliki dana terbesar di Eropa. Kuhne tidak memiliki anak maupun garis keturunan, jadi kekayaan sebesar 42,2 miliar euro, atau Rp 868,23 triliun (asumsi kurs euro terhadap rupiah di kisaran 20.574) miliknya tidak harus disalurkan melalui warisan, persidangan, atau kantor pajak.
Alih-alih, kekayaan Kuhne berpindah sesuai rencana ke Kuhne Foundation, sebuah yayasan yang dibangunnya bersama orangtuanya sekitar 50 tahun lalu. Dalam semalam, yayasan itu menjadi salah satu yang terbesar di Eropa.
Advertisement
Melansir Euro News, Jumat (4/9/2026), raja bisnis logistik dan mantan orang terkaya di Jerman, Klaus-Michael Kuhne menghabiskan hidupnya membeli dan menyelamatkan perusahaan yang sedang mengalami kemunduran. Inilah strategi yang membantunya membangun perusahaan pengiriman udara dan laut tersukses di dunia, Kuhne+Nagel.
Dia juga memiliki saham di tiga konglomerat transportasi lainnya, termasuk Hapag-Lloyd, salah satu lini pengiriman kontainer terbesar di dunia, dan Lufthansa, maskapai penerbangan nasional Jerman.
Selain itu, dia juga sempat memiliki seperlima saham VTF, perusahaan penyewaan gerbong swasta terbesar di Eropa. Dia membeli seharga 160 juta euro, atau Rp 3,29 triliun pada 2016, dan dijual dua tahun kemudian seharga 300 juta euro, yakni Rp 6,17 triliun.
Kuhne juga memiliki satu kesepakatan lagi yang diselesaikan sebelum dia wafat.
Rincian Kekayaan yang Masuk ke Yayasan Kuhne
Apa yang masuk ke dalam dana yayasan tersebut bukan hanya tabungan pribadi Kuhne.
Dana yang disalurkan termasuk saham mayoritas Kuhne di Kuhne+Nagel, kepemilikan sebesar 30% di perusahaan pelayaran Hapag-Lloyd, saham sebesar 15% di grup kimia Brenntag, sebagian saham di operator bus Flix, lebih dari seperlima saham Lufthansa, serta properti termasuk Hotel Fontenay di Hamburg.
Kekayaan bersihnya telah meningkat lebih dari empat kali lipat dalam satu dekade terakhir ke 42,2 miliar euro, atau Rp 868,23 triliun, menurut indeks Bloomberg Billionaires, yang dibangun hampir 60% dalam saham Kuhne+Nagel.
Hal itu memunculkan sebuah pertanyaan yang belum memiliki jawaban yang jelas, apa yang akan dilakukan sebuah yayasan amal yang memiliki saham pengendali di sebuah kerajaan pengiriman kontainer di tengah gelombang konsolidasi terbesar yang pernah dialami industri tersebut beberapa tahun terakhir?
Beberapa tahun ini, konglomerat pengiriman dan logistik CMA CGM menyetujui kesepakatan dengan FedEx, MSC telah merambah ke sektor kapal tanker minyak, dan easyJet menyetujui kesepakatan akuisisi. Sementara, Kuhne holdings berada di tengah-tengah semua itu.
Metode perpajakan Swiss, yang hampir tidak ada, nyaris mengganti seluruh perhitungan untuk Kuhne Foundation.
Pada November, negara tersebut menolak usulan untuk memberlakukan pajak warisan dan hadiah federal sebesar 50% atas harta warisan yang nilainya melebihi 53,4 juta euro, atau Rp 1,098 triliun, sebuah pendekatan yang membidik penduduk sangat kaya di Swiss.
Menteri Keuangan Swiss, Karin Keller-Sutter, mengatakan kepada media di Bern setelah putusan tersebut, usulan tersebut akan membuat sistem pajak Swiss tidak stabil dan mengurangi daya tarik Swiss. Dia menyebut putusan itu adalah penolakan eksperimen kebijakan fiskal berisiko.
Surga Bebas Pajak di Swiss
Konglomerat pengiriman dan logistik yang membangun Kuhne+Nagel menjadi raksasa pengiriman barang global berusia 89 ini wafat di Schindellegi, sebuah desa dengan jumlah penduduk sekitar 5.000 jiwa di kanton Schwyz. Ini adalah salah satu dari dua kanton Swiss yang tidak memberlakukan pajak warisan pada siapapun, meskipun tidak satu keturunan.
Kuhne secara terang-terangan menunjukkan ketidaksetujuannya terhadap sistem pajak dan ekonomi Jerman. Pada sebuah wawancara dengan stasiun penyiaran Jerman, NDR, dia mengatakan negara tersebut tidak bisa mengatur ekonominya.
Inilah salah satu alasan dia menaruh kepentingan pribadi dan perusahaannya di Swiss. Alasan lainnya adalah tidak adanya pajak warisan di kanton tempat tinggalnya, Schwyz.
Hukum Swiss tidak mewajibkan perusahaan swasta untuk merilis laporan tahunan layaknya di hampir semua yurisdiksi Eropa, dan media Jerman memperkirakan 30% kekayaan asli Kuhne tidak diketahui publik karenanya.
Yayasan juga tidak membayar pajak warisan, karena tidak ada individu yang secara pribadi menerima kekayaan Kuhne.
Sebaliknya, kerajaan bisnisnya di bidang pelayaran, penerbangan, bahan kimia, dan properti akan dimiliki secara kolektif oleh lembaga nirlaba tersebut, yang diawasi oleh dewan pengawas yang beranggotakan istri serta sekelompok kecil penasihat setianya.
Kuhne mengatur kerajaan bisnisnya dalam lingkup pribadi, Kuhne Holding, yang juga terletak di Schindellegi. Seiring dengan kematiannya, kepemilikan perusahaan induk tersebut, beserta seluruh aset di dalamnya, mulai dari saham Kuhne+Nagel hingga Hapag-Lloyd dan Lufthansa, beralih ke Yayasan Kühne, menurut surat kabar Swiss Neue Zürcher Zeitung.
Yayasan ini sudah memiliki 20 badan usaha anak perusahaan dan sekitar 800 karyawan. Laporannya menunjukkan anggaran 2026 sebesar 114,6 juta euro, atau Rp 2,36 triliun, yang dibagi 42% ke edukasi logistik, 20% obat-obatan, 15% proyek iklim, 11% logistik kemanusiaan, dan 7% kebudayaan.
Aset yang masuk ke yayasan tersebut diperkirakan menghasilkan pendapatan dividen sekitar 1 miliar franc Swiss, atau Rp 21,8 triliun (asumsi kurs franc Swiss terhadap rupiah di kisaran 21.827) per tahun pada tahun-tahun biasa menurut NZZ. Namun, hanya sebagian dari jumlah tersebut yang sampai ke yayasan itu sendiri, hal itu akan secara signifikan meningkatkan daya beli finansialnya.
Yayasan Besar Lainnya
Kuhne bukan konglomerat Eropa pertama yang menghindari pajak warisan melalui kegiatan filantropi, dan begitu asetnya masuk ke Kuhne Foundation, yayasan tersebut akan berada di jajaran yang elit berdasarkan ukurannya, meski belum sepenuhnya di puncak.
Yayasan terbesar di dunia adalah Novo Nordisk Foundation, lembaga amal Denmark yang berada di balik perusahaan pembuat obat penurun berat badan terlaris, Novo Nordisk, yang perusahaan intinya memiliki aset sekitar 93 miliar euro, atau Rp 1.913 triliun pada akhir 2025.
Setelah Novo Nordisk terdapat yayasan seperti Gates Foundation di sekitar 60,5 miliar euro, atau Rp 1.244 triliun, dan Tata Trusts di angka 86,2 miliar euro, atau Rp 1.773 triliun.
Britain's Wellcome Trust, sebuah lembaga amal penelitian medis, memiliki dana sekitar 36,9 miliar euro, atau Rp 759,19 triliun berdasarkan angka terbaru yang dipublikasikan, yang menempatkannya pada kisaran yang kurang lebih sama dengan perkiraan warisan yang akan diterima yayasan Kuhne.
Robert Bosch Stiftung asal Jerman, yang memiliki 94% saham grup teknik Bosch, menjadi perbandingan yang menarik dari sisi lain dengan total aset sekitar 5,5 miliar euro atau Rp 113,15 triliun, hampir delapan kali lebih kecil dari dana Kuhne, meskipun Bosch merupakan salah satu nama industri paling terkenal di Jerman.
Carlsberg Foundation dari Denmark mengikuti model yang serupa dengan Kuhne, dengan memegang kurang dari 30% saham Carlsberg Group dan 77% hak suara, ditambah sekitar 1,55 miliar euro, atau Rp 31,89 triliun dalam bentuk investasi terpisah, yang didanai oleh sekitar sepertiga dari dividen tahunan perusahaan bir tersebut.
Jadi, meskipun yayasan Kuhne tidak yang terbesar di Eropa, posisinya tetap berada di antara 10 yayasan terbesar di dunia, melampaui perusahaan ternama layaknya Bosch dan setara dengan Wellcome. Yayasan ini dibangun hampir sepenuhnya oleh keputusan seorang individu untuk tidak memiliki anak dan tinggal di suatu wilayah di Swiss yang membuatnya terbebas dari pajak.