Liputan6.com, Jakarta - Harga saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) melambung hingga penutupan perdagangan saham sesi pertama, Kamis (3/9/2026). Kenaikan saham PTBA terjadi di tengah lonjakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Mengutip data RTI, Kamis pekan ini, harga saham PTBA ditutup naik 6,25% menjadi Rp 2.890 per saham pada sesi pertama. Saham PTBA dibuka naik 40 poin menjadi Rp 2.760 per saham. Harga saham PTBA berada di level tertinggi Rp 2.920 dan terendah Rp 2.760 per saham. Total frekuensi perdagangan saham 13.959 kali dengan volume perdagangan saham 514.332 saham. Nilai transaksi harian saham Rp 146,6 miliar. Kapitalisasi pasar saham PTBA tercatat Rp 33,29 triliun.
Advertisement
Sementara itu, IHSG ditutup naik 1,03% menjadi 6.663,56. Indeks saham LQ45 menanjak 1,35% menjadi 660.
Pada sesi pertama, IHSG berada di level tertinggi 6.669,81 dan level terendah 6.614,71. Sebanyak 423 saham menguat sehingga angkat IHSG. 209 saham melemah dan 159 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan saham 1.453.251 kali dengan volume perdagangan saham 23,6 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 10 triliun.
Dari 11 sektor saham, hanya sektor saham teknologi yang alami koreksi. Sektor saham teknologi turun 1,48%. Sementara itu, sektor saham saham transportasi melonjak 2,39% dan catat kenaikan terbesar. Diikuti sektor saham industri melonjak 2,33% dan sektor saham energi melompat 1,88%.
Sektor saham basic menanjak 1,39%, sektor saham consumer nonsiklikal melompat 1,4%, sektor saham consumer siklikal bertambah 0,94%. Selain itu, sektor saham kesehatan melonjak 0,50%, sektor saham keuangan mendaki 0,63%, sektor saham properti naik 1,57% dan sektor saham infrastruktur melambung 1,28%.
Kinerja Keuangan PTBA pada Semester I 2026
Selain itu, PT Bukit Asam Tbk telah merilis laporan keuangan semester I 2026 yang menunjukkan pertumbuhan pendapatan usaha dan laba.
Mengutip laporan keuangan yang disampaikan dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Bukit Asam Tbk meraih pendapatan usaha Rp 22,02 triliun hingga semester I 2026. Pendapatan usaha perseroan naik 8% dari periode sama tahun sebelumnya Rp 20,45 triliun.
Kinerja pendapatan itu mendorong laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk. Laba perseroan melonjak 218% menjadi Rp 2,64 triliun hingga semester I 2026 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 833,04 miliar.
Beban pokok pendapatan turun 2% menjadi Rp 17,78 triliun hingga semester I 2026 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 18,20 triliun.
Perseroan mencatat meski volume penjualan turun 2% Year on Year (YoY) menjadi 21,09 juta ton hingga 30 Juni 2026 dari 21,64 juta ton, tetapi Newcastle Index naik 25% YoY dan ICI-3 naik 15% YoY, yang turut mendorong penguatan harga jual rata-rata yang tercatat naik 105 YoY. Adapun porsi penjualan hingga akhir Juni 2026, penjualan domestik tercatat sebesar 51% sedangkan sisanya 49% merupakan ekspor. Pada akhir periode ini, lima negara tujuan ekspor terbesar ditempati oleh Vietnam, Bangladesh, Kamboja, India dan Thailand.
Laba kotor perseroan tumbuh 89% menjadi Rp 4,24 triliun hingga semester I 2026 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 2,24 triliun. Laba usaha bertambah 209% menjadi Rp 2,82 triliun hingga Juni 2026 dari Juni 2025 sebesar Rp914,63 miliar.
Laba PTBA Melonjak pada Semester I 2026
Laba per saham atau earning per share (EPS) naik 219% menjadi Rp 230 per saham dari periode sama tahun sebelumnya Rp 72. Earning before interest, tax, depreciation, and amortization (EBITDA) naik 94% menjadi Rp 4,27 triliun hingga Juni 2026 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 2,19 triliun.
Perseroan mencatat ekuitas Rp 25,33 triliun hingga 30 Juni 2026 dari Desember 2025 sebesar Rp 22,61 triliun. Total liabilitas naik menjadi Rp 22,76 triliun hingga 30 Juni 2026 dari Desember 2025 sebesar Rp 21,30 triliun. Perseroan mencatat aset tumbuh menjadi Rp 48,10 triliun hingga 30 Juni 2026 dari Desember 2025 sebesar Rp 43,91 triliun.
Perseroan kantongi kas dan setara kas Rp 6,87 triliun hingga semester I 2026 dari Desember 2025 sebesar Rp 4,52 triliun. Pinjaman bank perseroan turun menjadi Rp 2,41 triliun hingga 30 Juni 2026 dari Desember 2025 sebesar Rp 3,22 triliun.