Liputan6.com, Jakarta - JPMorgan mempertahankan target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di level 7.000 hingga Desember 2026. Bank investasi global ini menilai peluang penguatan pasar modal Indonesia masih terbuka lebar menjelang akhir tahun.
Head of Indonesia Equity Research JPMorgan, Benny Kurniawan, menyampaikan bahwa sentimen positif serta posisi kepemilikan investor yang masih tergolong rendah dapat menjadi pendorong utama kenaikan IHSG.
Advertisement
"Tim JPMorgan masih memproyeksikan target IHSG pada Desember di level 7.000. Kami memperkirakan ada potensi kenaikan hingga akhir tahun, didorong oleh sentimen yang lebih positif serta posisi investor lokal maupun asing yang sebenarnya sudah cukup rendah tahun ini," ujar Benny dalam acara media briefing di Kantor JPMorgan, Jakarta, Kamis (3/9/2026).
Benny menjelaskan, investor asing banyak melepas kepemilikan saham di Indonesia sepanjang tahun ini. Di sisi lain, porsi kas pada reksa dana saham domestik masih relatif tinggi, sehingga pasar memiliki modal yang cukup untuk kembali melakukan aksi beli.
"Asing sudah banyak melakukan penjualan. Jika melihat fund fact sheet dari reksa dana saham di Indonesia, tingkat kas mereka sebenarnya cukup tinggi. Jadi, ada banyak amunisi untuk kembali masuk ke pasar kita," kata Benny.
Proyeksi Laba Emiten
Selain IHSG, JPMorgan memproyeksikan laba emiten di Indonesia tumbuh sekitar 9% pada 2027. Pertumbuhan ini diperkirakan bakal ditopang oleh peningkatan belanja pemerintah serta perbaikan iklim investasi.
"Konsensus analis memperkirakan pertumbuhan earnings sekitar 9% tahun depan. Hal ini akan ditopang oleh government spending dan aktivitas investasi," lanjutnya.
Ia mengaku tetap optimistis terhadap prospek pasar saham domestik karena kinerja pendapatan dan laba bersih perusahaan tercatat masih solid. Kendati kenaikan biaya operasional sempat menekan margin di sejumlah sektor, pertumbuhan pendapatan yang kuat tetap menjadi daya tarik utama bagi investor.
"Selama pertumbuhan top line masih berjalan baik dan pada semester pertama ini kenaikannya cukup kencang, investor tidak akan melupakan pasar Indonesia begitu saja," tegas Benny.
Perekonomian Indonesia Tetap Tangguh
Pada kesempatan yang sama, CEO dan Senior Country Officer JPMorgan Indonesia, Gioshia Ralie (Gio), menilai perekonomian Indonesia menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah tekanan global sepanjang 2026.
Data menunjukkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,6% pada kuartal I-2026 dan 5,3% pada kuartal II-2026. Realisasi ini melampaui perkiraan sebagian besar analis dan memberikan sinyal positif bagi pasar.
"Pertumbuhan PDB Indonesia di kuartal I sebesar 5,6% dan kuartal II sebesar 5,3% memberikan sentimen positif karena capaian ini lebih tinggi dari prediksi banyak analis," ungkap Gio.
Menurut Gio, belanja pemerintah menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi pada semester I-2026. Faktor ini dinilai mampu menggairahkan konsumsi domestik serta aktivitas pasar, meskipun tantangan global seperti volatilitas nilai tukar, harga minyak, dinamika geopolitik, dan kebijakan tarif Amerika Serikat masih membayangi.
Ia menambahkan, perbaikan tata kelola, transparansi, dan keterbukaan informasi menjadi kunci penting untuk memperkuat kredibilitas pasar modal Indonesia di mata investor domestik maupun asing.
Menatap tahun 2027, Gio menekankan pentingnya stabilitas dan kepastian kebijakan agar iklim investasi tetap bergairah, sekaligus menjaga momentum untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi pemerintah sebesar 6%.
"Stabilitas dan kepastian kebijakan akan mendorong volume dan aktivitas pasar. Pada akhirnya, hal tersebut menjadi fondasi utama untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi yang diharapkan," pungkas Gio.